Waspada
Waspada » Mental Musafir Dan Produktivitas
Al-bayan Headlines

Mental Musafir Dan Produktivitas

Oleh Mustapa Khamal Rokan

Barangsiapa yang membuat sunnah hasanah dalam Islam maka dia akan memperoleh pahala dan pahala orang yang mengikutinya, dengan tanpa mengurangi pahala mereka sedikit pun (HR. Muslim)

Sungguh setiap saat kita berada garis perputaran pergantian waktu yang tiada henti. Setiap saat seseorang akan mengalami “waktu baru”, sehingga para filosof dan ahli hikmah mengatakan hanya ada dua jenis waktu dialami manusia yakni waktu yang lalu dan waktu akan datang. Lalu di mana sekarang atau waktu saat ini?

Dalam hitungan peredaran matahari (syamsyiah), saat ini waktu telah menunjukkan tahun 2021. Hal ini menunjukkan perjalanan hidup kita telah sampai pada tahun ini dan telah meninggalkan waktu sesuai umur masing-masing orang. Karenanya, perjalanan hidup manusia ibarat seorang pengembara yang sedang menempuh perjalanan panjang.

Sampai di mana perjalanan kita saat ini? Lalu berapa lama lagi perjalanan akan ditempuh? Sampai di mana garis akhirnya? Lebih dari itu, apakah perjalanan hidup yang kita tempuh di jalan orang-orang kanan (ashabul yamin) atau sebaliknya jalan orang-orang yang kiri (ashab al-syimal). Lalu, bagaimana kita menghadapi hidup ini?

Mental Musafir

Dalam memaknai waktu, hendaknya setiap Muslim bermental sebagai orang asing atau musafir yang mengembara di gurun pasir tandus, berjalan menuju tempat idaman. Rasulullah SAW kepada seorang Sahabat bernama Ibn ‘Umar Ra. Sambil memegang pundak Ibn ‘Umar, Rasulullah mengatakan, “Jadilah engkau di dunia ini seakan-akan sebagai orang asing atau seorang musafir’ [dan persiapkan dirimu termasuk orang yang akan menjadi penghuni kubur (pasti akan mati)]”.

Apa dan bagaimana mental musafir itu? Pertama, memahami bahwa dunia adalah tempat singgah sementara saja, laksana berhenti sejenak di bawah sebuah pohon melanjutkan perjalanan. Rasulullah SAW bersabda: Sesungguhnya perumpamanku dan perumpamaan dunia seperti pengendara (rakib) yang bernaung di bawah sebuah pohon kemudian istirahat dan selanjutnya meninggalkannya (HR. Ahmad dan Tirmidzi).

Pada hakikatnya dunia bukanlah tempat tinggal kita sebab alamat asli atau kampung asal manusia adalah surga dimana manusia pertama, Adam AS beralamat di al-jannah. “Kami katakan, wahai Adam tinggallah di surga” (QS. Al-Baqarah: 35). Jangan pernah merasa kita adalah “orang Medan”, “orang Jakarta”, “orang Bandung”, kita semua penduduk asli surga. Karena itulah Allah selalu menggunakan kata “pulang atau kembali” kepada kita, “Sungguh kami adalah milikNya dan sesungguhnya kepadaNya kami kembali” (QS. Al-Baqarah: 156).

Kedua, selalu bersiap diri. Bersiap diri sebab dia akan melakukan perjalanan pulang. Sebagaimana seseorang yang akan melakukan perjalanan, maka ia harus tahu tidak hanya tentang apa yang penting dibawa namun juga sebanyak mungkin dibawa ke tempat tujuan dimana kita tidak akan kembali lagi. Allah menyuruh kita membawa bekal persiapan, dan sebaik-baik bekal adalah takwa (QS. Al-Baqarah: 197).

Dengan mental bersiap, seseorang harus mempunyai rencana jelas dan terukur. Rencana antisipasi terhadap gelapnya kubur dengan melakukan shalat tahajjud, rencana antisipasi sempitnya liang kubur dengan cara bersedekah dan melapangkan kesulitan orang lain.

Karenanya, rencana harus disusun sebaik mungkin dengan berbagai ibadah baik mahdhah (langsung kepada Allah) dan ghair mahdhah dengan melakukan kebaikan dengan sesama makhluk. Mental bersiap diri membuat umat Islam mempunyai program perbuatan baik sehingga umat Islam menjadi umat yang produktif yang dilakukan tanpa kenal lelah.

Ketiga, bermental musafir itu sibuk dan cepat. Sibuk dengan persiapan perjalanan panjang dan cekatan sebab waktu yang singkat dalam perjalanan. Mental musafir seharusnya membuat umat Islam aktif, produktif dan inovatif. Sebaliknya, mental musafir menjauhkan umat Islam berleha-leha menghabiskan waktu tanpa hasil.

Mengapa? Waktu yang diberikan kepada manusia selain tidak lama (umat Nabi Muhammad 60-70 tahun), juga tidak tahu kapan berakhir. Sebab datangnya kematian tidak ada yang mengetahuinya. Umat Islam harus selalu aktif mempersiapkan segala sesuatu. Layaknya orang dalam perjalanan, sibuk mempersiapkan segala perbekalan sehingga tidak ada yang tertinggal dan merasa puas saat sampai ke tujuan dengan segala barang bawaan.

Selain aktif, kreatif dan inovatif, mental musafir akan membuat umat Islam cekatan melakukan sesuatu tanpa menyia-nyiakan waktu. Sikap ini juga disebabkan waktu yang perjalanan yang singkat dan tidak diketahui pasti waktu berakhirnya. Sikap ini dinyatakan Allâh SWT Al-Qur’an: “Mereka itu bersegera dalam kebaikan-kebaikan, dan merekalah orang-orang yang lebih dahulu memperolehnya” (Al-Mu’minûn: 61).

Banyak orang menyesal saat jatah waktu perjalanannya berakhir tanpa persiapan perbekalan cukup. Dalam Al-Quran, Allah menyebutkan orang-orang yang menyesal dan meminta ditunda kematiannya walau sebentar untuk melakukan perbuatan-perbuatan baik dan bersedekah (QS. Al-Sajadah: 12, QS. Al-Munafiqun: 10). Namun batas waktu perjalanan sudah berakhir tanpa bisa diulang, jadilah orang-orang tersebut sangat menyesal di mana penyesalan tersebut tiada berguna.

Keempat, bermental musafir itu tidak banyak memikirkan apa yang akan dia tinggalkan namun lebih banyak memikirkan apa yang akan dibawa. Bahwa kehidupan dunia membutuhkan berbagai kebutuhan tidak bisa dihindari seperti tempat tinggal, kenderaan, pakaian dan seterusnya, tentulah dipenuhi. Namun seorang Mukmin lebih bersiap lagi untuk kebutuhan akhirat.

Seorang Mukmin tidak lebih sibuk memikirkan rumah di dunia daripada rumah di Akhirat sana. Demikian pula, seorang Mukmin tidak lebih sibuk memikirkan kenderaan yang di sini daripada kenderaan di Akhirat dan seterusnya. Posisi akhirat tentu paling utama, sedangkan kepentingan dunia sekedar memenuhi kebutuhan hidup, Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri Akhirat, dan janganlah kamu melupakan bahagianmu dari (kenikmatan) duniawi (QS. Al-Qashas: 77).

Kelima, mempersiapkan bekal perjalanan jangka panjang. Seorang Mukmin hendaknya mempersiapkan “deposito” Akhirat yang akan “ditransfer” orang yang masih dalam perjalanan panjang di dunia. Jikapun berumur pendek ia sungguh telah mempunyai bekal yang terus “ditransfer” dari makhluk yang masih tinggal di bumi.

Hal ini akan diperoleh seseorang jika ia melakukan ibadah dalam bentuk jangka panjang. Paling tidak ada tujuh ibadah berdimensi jangka panjang yang disabdakan Nabi Muhamad SAW yakni shadaqah jariah atau wakaf, ilmu yang bermanfaat, anak dan generasi yang shaleh, mendirikan masjid, berwakaf Al-Quran, mengalirkan air, dan menanam pohon.

Investasi Akhirat juga dalam segala bentuk promosi kebaikan yang jika kebaikan itu dilakukan orang lain, maka seseorang tersebut terus mendapatkan kebaikan itu seperti orang yang melakukan kebaikan tersebut. Dalam sebuah hadis Rasulullah SAW bersabda: Barangsiapa yang membuat sunnah hasanah dalam Islam maka dia akan memperoleh pahala dan pahala orang yang mengikutinya, dengan tanpa mengurangi pahala mereka sedikit pun (HR Muslim).Wallau’alam. Waspada

Pengajar Di FEBI UIN SU

Berita Terkait

Memuat....
UA-144743578-2