Menolak Nasihat Oleh Dr Nada Sukri Pane

  • Bagikan

“Dan apabila dikatakan kepadanya, “Bertaqwalah kepadaNya,” bangkitlah kesombongannya untuk berbuat dosa. Maka pantaslah baginya neraka jahannam. Dan itu merupakan tempat tinggal yang terburuk” (QS. Al Baqarah: 206)

Dalam menjalani kehidupan ini, kadang kita memberi nasihat dan kadang mendapat nasihat. Karena hidup adalah belajar dan saling nasihat menasihati.

Jika kita mau menerima nasihat yang baik, maka cepat atau lambat kita akan menerima kebaikan yang terang-terangan atau yang tersembunyi. Begitu pentingnya saling nasehat menasehati dalam Islam, agar kita tak tersesat jalan dan senantiasa dalam kebenaran.

Tapi banyak orang mampu memberi nasihat tapi tak mau dinasihati. Dia akan tersinggung jika diberi nasihat. Inilah ciri orang yang sombong.

Menolak nasehat agama merupakan salah satu dosa besar dan akan senantiasa merugi. Karena kita kehilangan momen untuk menambah kebaikan. Dari hadits Ibnu Mas’ud, Rasulullah SAW bersabda:

“Sesungguhnya termasuk dosa yang paling besar adalah ketika seseorang berkata kepada saudaranya, ‘Takutlah kepada Allah,’ lalu dia menjawab saudaranya itu: “Urus saja dirimu. Aku pula yang kamu suruh” (HR. Baihaqi).

Ada beberapa faktor yang menyebabkan kita merasa berat menerima nasehat. Pertama, merasa lebih hebat. Sehingga ada perasaan tidak siap untuk menerima masukan dari orang yang di bawahnya.

Kedua, merasa lebih tinggi ilmunya. Beliau merasa lebih banyak ilmu, luas pengetahuan atau tinggi gelar akademisnya. Maka seorang guru terkadang agak susah menerima saran dari muridnya.

Ketiga, sombong. Orang sombong sulit menerima nasihat. Karena di hatinya selalu saja tak percaya dengan kebenaran yang ditawarkan. Seorang laki-laki bertanya kepada Rasul: “Ada seseorang suka bajunya bagus dan sandalnya bagus (apakah termasuk kesombongan?) Beliau menjawab:

“Sesungguhnya Allah Maha indah dan menyukai keindahan. Kesombongan adalah menolak kebenaran dan merendahkan manusia” (HR. Muslim).

Beruntunglah dua Mukmin yang saling menasihati. Karena siapa yang mau menerima nasihat akan mengetahui kelemahanya dan akan segera memperbaikinya. Siapa yang senantiasa memperbaiki diri kelak kan mendapat kebahagiaan dunia akhirata.

Abu Hurairah ra. juga pernah menyatakan; “Seorang mukmin itu cermin bagi saudaranya. Jika dia lihat ada kekurangan, maka dia memperbaikinya” (HR. Bukhari).

Rasulullah SAW adalah sosok yang senang menerima nasehat dari para sahabatnya. Dalam perang Badar, Rasulullah mengumpulkan pasukan di lokasi sebelum sumur Badar.

Tapi sahabat mulia Hubab bin Mundzir melihat tempat tersebut tidak tepat. Dengan sopan dia mengusulkan kepada Rasulullah agar memajukan pasukan setelah sumur Badar, dan menutup sumber mata air yang lain, agar pasukan Rasul menguasai air.

Nasihat ini diterima oleh Rasulullah dengan senang hati. Dan pasukan dimajukan ke depan sumur Badar. Kejadian yang sama terulang di saat pengepungan benteng-benteng Khaibar. Perkumpulan pasukan Rasul SAW terlalu dekat ke benteng.

Kembali Hubab mengusulkan agar jarak pasukan diperjauh dari benteng Khaibar, agar tidak disasar oleh panah-panah orang yahudi. Rasulullah pun menerima usulan ini.

Berikanlah nasihat kebenaran walau sepenggal. Jika dia menolaknya, bersabarlah. Ulangi lagi dilain waktu dan kesempatan. Jangan lelah memberi nasihat. Sebagaiamna firman Allah:

“Demi masa, sesungguhnya seluruh manusia itu berada dalam kerugian. Kecuali mereka yang beriman, dan beramal shalih, dan saling menasihati dalam kebenaran, dan (saling menasihati) dalam kesabaran.” (QS. Al Ashr: 1-3).(Guru SMAN 16 Medan, Alumni Doktor PEDI UIN SU)

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *