Menjaga Kefitrian

  • Bagikan

Oleh Alexander Zulkarnaen

Dan janganlah kamu seperti seorang perempuan yang menguraikan benangnya yang sudah dipintal dengan kuat, menjadi cerai berai kembali” (QS. An Nahl: 92)

Imam Ibnu Katsir dalam kitabnya Tafsir Ibnu Katsir, menjelaskan ayat tersebut menyinggung kaum Muslimin yang jumlahnya masih sedikit, ber-bai’at (berjanji setia) dengan Nabi Muhammad SAW. Namun ketika melihat orang Quraisy berjumlah banyak dan berpengalaman cukup, mereka tergoda dan goncang sampai ingin membatalkan perjanjian tersebut.

Allah SWT kemudian melarangnya dengan memberikan ilustrasi bagi orang yang ingin kembali kepada kekufuran sebagai wanita tidak waras yang mengurai hasil pintalannya setelah bersusah payah merajutnya.

Imam Al Qurthubi menggambarkan wanita dalam ayat ini sebagai wanita jahil bernama Rithah binti Amru bin Ka’ab, identik dengan mereka yang merusak kembali kebaikan setelah susah payah diperjuangkan setahap demi setahap.

Dalam konteks Ramadan, benang-benang amalan yang dirajut baik siang maupun malam selama sebulan penuh demi menghasilkan sebuah busana terbaik, pakaian takwa yang akan dikenakan orang beriman di mana pun dan kapan pun mereka berada, sejatinya mesti terus dijaga kebersihan dan kesuciannya.

Karena salah satu yang dijanjikan Allah SWT bagi orang yang berpuasa Ramadan dengan penuh keikhlasan adalah kembali kepada fithrahnya yakni kembali suci tanpa noda dan dosa bahkan seperti anak yang baru dilahirkan dari rahim ibunya.

Barangsiapa yang berpuasa dan melaksanakan shalat malam dengan dasar iman dan mengharapkan ganjaran dari Allah Azza wa Jalla, niscaya dia akan keluar dari dosa-dosanya sebagaimana saat dia dilahirkan oleh ibunya” (HR. Ibnu Majah).

Ibnu Rajab dalam Lathaif al-Ma’arif menuliskan perkataan Ulama Salaf yang mengatakan kepada sebagian saudaranya ketika melaksanakan shalat Ied di tanah lapang, “Hari ini suatu kaum telah kembali dalam keadaan sebagaimana ibu mereka melahirkan mereka.”

Dalam perspektif bahasa Arab, ternyata rahasia di balik penyebutan kata takwa dalam kalimat ‘La’allakum tattaqun’ di penghujung ayat yang mewajibkan puasa Ramadan, adalah menggunakan bentuk fi’il mudhari’ (kata kerja sedang atau akan dikerjakan), yang berarti tajaddud (pembaruan) dan istimrar (kontinuitas).

Hal ini memberikan pesan bahwa ketakwaan dan kesucian akan terus senantiasa dipelihara dan dijaga sampai bertemu kembali dengan Ramadan berikutnya atau bahkan sampai akhir hayat.

Maka beruntung dan berbahagialah orang yang kemudian disucikan jiwanya oleh Allah, Dzat Yang Maha Suci dan mampu pula menjaga kefitrian itu setelah dipintanya terus menerus selama Ramadhan. Kefitrian itu telah diraihnya bersamaan dengan hadirnya hari Raya Idul Fitri. Allah SWT berfirman, “Sungguh beruntunglah orang yang menyucikan jiwa itu” (QS. 91: 9).

Pertanyaan, bagaimana agar kefitrian itu tetap terjaga? Selain memastikan tetap beramal dan melanjutkan tradisi kebaikan Ramadhan dengan penuh ikhlas, maka doa khusus meminta agar hati dan diri terjaga kesuciannya, jangan lupa dipinta kepada Allah SWT. Ibnu Abbas ra mengatakan bahwa ia pernah mendengar Nabi SAW bersabda:

Beruntunglah jiwa orang yang disucikan oleh Allah SWT”. Ibnu Abbas kemudian mengatakan bahwa Rasulullah SAW ketika membaca Alquran surah Asy-Syams ayat 7-8: “Dan jiwa serta penyempurnaan ciptaannya, maka Allah mengilhamkan kepada jiwa itu jalan kefasikan dan ketakwaannya.”

Maka Beliau menghentikan bacaanya, lalu berdoa, “Allahumma Aati nafshii taqwaa ha, anta waliyyuhaa, wa maulaa haa, wa khoiru man zakka haa. (Ya Allah, berikanlah kepada jiwaku ketaqwaannya, Engkau adalah Yang Memiliki dan Yang Menguasainya, dan Engkau adalah sebaik-baik yang menyucikannya.” Allahu musta’an. (Guru PAI SMAN 2 Medan Ketua Deputi Humas Ikadi Sumut, Wakil Ketua Majelis Dakwah PW Al Washliyah Sumut)

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.