Menjadi Hamba Yang Dicintai Allah SWT

Menjadi Hamba Yang Dicintai Allah SWT

  • Bagikan

Ya Allah sesungguhnya aku memohon kepada-MU cinta-Mu dan cinta orang-orang yang mencintai-MU, dan aku memohon kepada-MU perbuatan yang dapat mengantarkanku kepada cinta-MU. Ya Allah jadikanlah cinta-MU lebih kucintai daripada diriku, keluargaku bahkan air dingin-di padang yang tandus (HR.At-Tirmizi)

 

Dalam kehidupan di bumi yang fana’ ini sejatinya kita senantiasa melakukan perbuatan yang dicintai Allah SWT, bukannya perbuatan yang dilaknat Allah SWT. Karena semua yang kita lakukan akan dipertanggungjawabkan dihadapan-NYA, jangan sampai terjadi penyesalan yang tiada berguna, sekalipun airmata darah yang mengalir.

Allah SWT mengingatkan kita, “Dan, jika Sekiranya kamu melihat mereka ketika orang-orang yang berdosa itu menundukkan kepalanya di hadapan Tuhannya, (mereka berkata): “Ya Tuhan Kami, Kami telah melihat dan mendengar, Maka kembalikanlah Kami (ke dunia), Kami akan mengerjakan amal saleh, Sesungguhnya Kami adalah orang-orang yang yakin” (QS.As-Sajadah: 12).

Begitulah fenomena masa depan orang yang suka berbuat dosa di dunia, terlalu berlebihan mencintai dunia, terlalu banyak tertawa didunia akan menangis di akhirat, karena tidak mencintai Allah SWT, bahkan larangan-NYA yang lebih suka dilakukan daripada perinatah-NYA. Ayat ini sungguh mengetuk hati kita, “Maka hendaklah mereka tertawa sedikit dan menangis banyak, sebagai pembalasan dari apa yang selalu mereka kerjakan” (QS.At-Taubah: 82).

Ada sebuah hadis yang menceritakan dialog sahabat dengan Nabi SAW yang menarik tentang perbuatan yang dapat mendatangkan cinta Allah SWT kepada hamba-NYA, Artinya: Riwayat dari Abdullah bin Mas’ud menuturkan, “Aku bertanya kepada Nabi SAW, “Perbuatan apa yang paling dicintai Allah?” Rasul menjawab, “Shalat tepat pada waktunya.” “Kemudian apa?” tanyaku lagi. Beliau menjawab, “Berbakti kepada orang tua.” “Apa lagi?” sambungku. Beliau menjawab, “Jihad fi sabilillah” (HR.Muslim).

Berdasarkan hadis tersebut setidaknya ada tiga perbuatan yang dapat menjadikan hamba itu dicintai Allah SWT; Pertama, As-Shalaatu ‘Ala Waqtiha, yaitu shalat tepat pada waktunya. Menjadikan shalat sebagai nafas dalam kehidupan, sebagai kebutuhan yang mutlaq, sebagai cahaya yang menerangi kehidupan, Rasulullah SAW bersabda:

Barangsiapa menjaga shalatnya, maka shalat itu menjadi cahaya, bukti dan keselamatan baginya pada hari Kiamat” (HR.Ahmad). Apalagi shalat dilakukan berjamaah di masjid, pasti akan menjadi energi spiritual yang luarbiasa, menjadi energi kekuatan ummat bahkan pemersatu bangsa dan ummat Islam dunia, sehingga terhindar dari segala perbuatan keji dan mungkar.

Sudah saatnya kita secara pribadi, keluarga, masyarakat, seluruh instansi pemerintah dan swasta serta lembaga-lembaga pendidikan membangun peradaban ummat dengan gerakan memakmurkan masjid shalat berjamaah di awal waktu, sehingga menjadi kebahagiaan jiwa dan sumber ketenangan.

Nabi SAW bersabda, “Penyejuk mataku (penenang hatiku) ada dalam shalat” (HR.Ahmad). Disadari bahwa ada dua waktu yang pasti sedang kita tunggu, kita selalu menunggu waktu shalat, dan saatnya kita menunggu waktu dishalatkan.

Kedua, Birrul Walidain, yaitu berbuat baik kepada kedua orangtua. Ada untaian kata yang indah, “kasih sayang ibu membawa ke surga, kasih sayang ayah tiada penghujungnya, kasih sayang kita kepada mereka sejauhmana? Kita dibesarkan dari sebesar telapak tangan, maka ayah dan bunda jangan pernah terlupakan, untaian mutiara yang dipersembahkan, istana megah yang dibangunkan sesungguhnya itupun belum cukup membalas jasa ayah dan bunda, karena kasih sayang mereka berdua tiada batas dan tiada bertepi”.

Bersyukurlah dan berbahagialah kita yang masih memiliki orangtua, yang masih mendapatkan doa dan ridhanya. Yang masih bisa kita memeluk tubuhnya yang semakin renta dan tak berdaya. Sesibuk apapun kita sebagai anaknya, luangkan waktu menatap wajahnya, mendengar suaranya, mencium tangannya yang selalu menengadah ke langit di tepian malam mendoakan kita.

Mencium keningnya yang selalu sujud kepada Allah SWT, dan membawakan sesuatu makanan kecil yang disukainya, senyum bahagianya akan mendatangkan Ridho Allah SWT. Nabi Sulaiman AS yang kaya raya pun pernah berdoa:

Kami perintahkan kepada manusia supaya berbuat baik kepada dua orang ibu bapaknya, ibunya mengandungnya dengan susah payah, dan melahirkannya dengan susah payah (pula). mengandungnya sampai menyapihnya adalah tiga puluh bulan, sehingga apabila Dia telah dewasa dan umurnya sampai empat puluh tahun ia berdoa: “Ya Tuhanku, tunjukilah aku untuk mensyukuri nikmat Engkau yang telah Engkau berikan kepadaku dan kepada ibu bapakku dan supaya aku dapat berbuat amal yang saleh yang Engkau ridhai; berilah kebaikan kepadaku dengan (memberi kebaikan) kepada anak cucuku. Sesungguhnya aku bertaubat kepada Engkau dan Sesungguhnya aku Termasuk orang-orang yang berserah diri” (QS. Al-Ahqaaf: 15).

Luar biasa pesan dalam ayat tersebut, setelah kita bersyukur kepada Allah SWT, berterimakasih lah kepada kedua orangtua baik yang masih hidup bahkan kepada orangtua yang telah meninggal dunia, kebaikan kita sebagai anaknya tiada terputus.

Dalam sebuah hadis disebutkan: “Suatu saat kami pernah berada di sisi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Ketika itu ada datang seseorang dari Bani Salimah, ia berkata, “Wahai Rasulullah, apakah masih ada bentuk berbakti kepada kedua orang tuaku ketika mereka telah meninggal dunia?”

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, “Iya (masih tetap ada bentuk berbakti pada keduanya). (Bentuknya adalah) mendo’akan keduanya, meminta ampun untuk keduanya, memenuhi janji mereka setelah meninggal dunia, menjalin hubungan silaturahim (kekerabatan) dengan keluarga kedua orang tua yang tidak pernah terjalin dan memuliakan teman dekat keduanya”(HR. Abu Daud dan Ibnu Majah).

Ketiga, Al-Jihaadu Fii Sabiilillah, yaitu orang yang mencapai kelelahan untuk Allah SWT dan meninggikan kalimat-NYA yang menjadikannya sebagai cara dan jalan menuju Surga. Juga difahami jihad adalah mengerahkan seluruh kemampuan untuk mendapatkan yang dicintai Allah SWT dan menolak yang dibenci Allah SWT.

Sehingga seorang mujaahid itu bersungguh-sungguh mencapai sesuatu yang dicintai Allah SWT dengan iman dan amal shalih serta membenci segala yang dibenci Allah SWT berupa kekufuran, kefasikan dan kemaksiatan.

Jihad di jalan Allah SWT sangat luas pengertiannya, ada jihad dengan pedang memerangi kaum musyrikin yang memerangi agama Allah SWT, orang yang tekun belajar menuntut ilmu adalah jihad. Seorang suami yang mendidik keluarganya, mencari rezeki yang halal adalah jihad, seorang isteri yang membimbing anaknya, mengurus rumahtangganya adalah jihad.

Orang yang pergi ke baitullah berhaji adalah jihad, ada jihad amar ma’ruf nahi mungkar. Kita tidak saja menjadi shalih (orang baik) tetapi menjadi Mushlih (penyeru kebaikan). Karena penyeru kebaikan menyikat batu besar nafsu angkara dan memperbaikinya dari kerusakan. Sesungguhnya melalui penyeru kabaikan itulah Allah SWT menjaga umat ini sedangkan orang baik cukup menjaga dirinya sendiri.

Saat ini yang sangat penting kita lakukan adalah jihad hati, yaitu jihad melawan Setan dan mencegah jiwa dari hawa nafsu dan syahwat yang diharamkan.

“Maka pernahkah kamu melihat orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai Tuhannya dan Allah membiarkannya berdasarkan ilmu-Nya dan Allah telah mengunci mati pendengaran dan hatinya dan meletakkan tutupan atas penglihatannya? Maka siapakah yang akan memberinya petunjuk sesudah Allah (membiarkannya sesat). Maka mengapa kamu tidak mengambil pelajaran?” (QS. Al-Jaatsiyah: 23).

Allah SWT juga mengingatkan ancaman tipu muslihat Setan yang sangat berbahaya, “aku mendapati Dia dan kaumnya menyembah matahari, selain Allah; dan Setan telah menjadikan mereka memandang indah perbuatan-perbuatan mereka lalu menghalangi mereka dari jalan (Allah), sehingga mereka tidak dapat petunjuk” (QS. An-Naml: 24).

Analisis dari ayat-ayat tersebut, betapa hawa nafsu yang tidak terkendali dan Setan yang terus menutupi kejelekan dengan keindahan, perbuatan buruk yang dilakukan itu menjadi indah. Yang haram menjadi halal, yang salah menjadi benar, yang hina menjadi mulia, akan menjadikan manusia makhluk yang sangat merugi dan hina.

Setan telah menguasai mereka lalu menjadikan mereka lupa mengingat Allah; mereka Itulah golongan syaitan. ketahuilah, bahwa Sesungguhnya golongan Setan Itulah golongan yang merugi” (QS.Al-Mujaadilah: 19).

Bahwa jihad masyarakat modern hari ini adalah mampu mengendalikan hatinya menjaga keterhubungannya kepada Allah SWT dengan iman, ilmu dan amal shalih sehingga hawa nafsu yang tidak terkendali dan tipu daya Setan dapat ditaklukkan. Perbuatan tidak bermoral dapat dicegah, dan masyarakat yang mampu mengendalikan lisan dan tangannya dari perbuatan yang merugikan dirinya sendiri dan orang lain.

Seperti menyebarkan fitnah, ghibah, mengadu domba untuk memecahbelah sehingga terjadi permusuhan, kezaliman, kekacauan dan perpecahan di tengah umat manusia, dan tangan-tangan yang tidak mengambil, merampas hak milik orang lain.

Jihad yang dilakukan karena dan hanya untuk Allah SWT akan melahirkan tatanan masyarakat yang religius. Merasa takut kepada Allah SWT senantiasa bersyukur dan berakhlak mulia, membenci kebatilan dan kemaksiatan, sehingga menjadi masyarakat dan hamba yang dicintai Allah SWT.    WASPADA

Guru Besar Fakultas Ushuluddin Dan Studi Islam UIN SU

  • Bagikan