Mengingat Pemutus Kenikmatan

Mengingat Pemutus Kenikmatan
Oleh Dr Nada Sukri Pane

  • Bagikan

“Hendaklah kamu di dunia ini seolah sedang menjadi pengembara, dan jika ada orang yang melewati jalan, anggapkan kamu sebagai penghuni kubur” (HR Ahmad, Abu Dawud, Tirmidzi, dan Ibnu Majah)

Kematian tidak terikat usia, keadaan, waktu dan penyakit. Kematian akan menyapa siapa pun, baik ia seorang yang saleh atau durhaka, yang kaya atau miskin, pejabat maupun rakyat jelata.

Siapapun akan diperlakukan sama. Bahkan seorang yang bersemangat meraih kebaikan ataupun yang lalai dan malas-malasan. Segala kemegahan dan kemewahan harus ditanggalkan. Karena semua akan mendapat giliran.

Ad-Daqqaq berkata, “Barangsiapa sering mengingat mati, maka dia akan dimuliakan dengan tiga hal. Yaitu, menyegerakan bertobat, hati yang qana’ah, dan semangat dalam beribadah. Dan barangsiapa yang lupa akan kematian, maka dia akan diberi sangsi dengan tiga hal. Yaitu, menangguhkan bertobat, tidak puas dengan pemberian Allah dan malas beribadah (kasul fi aleibada).

Kita harus selalu mengingat mati, agar kita tidak lalai dan terpedaya. Ingatlah kisah seorang wanita sehat yang bertahun-tahun merawat suaminya, justru ia meninggal lebih dahulu dari pada suaminya.

Seorang pemuda yang menunggui ibunya yang koma di rumah sakit, justru ajal lebih dahulu menjemputnya. Dan banyak kisah lain, yang intinya, ajal tidak terkait dengan badan sehat atau badan sakit.

Rasulullah SAW pernah ditanya oleh seorang sahabat, “Wahai Rasulullah, apakah di Akhirat nanti seseorang yang meninggal akan dikumpulkan bersama para syuhada?” Beliau menjawab, “Ya, ada. Yaitu seseorang yang mengingat mati sebanyak 20 kali sehari semalam.”

Orang yang beruntung adalah orang yang selalu menghitung dosa dan segera bertaubat. Dalam hadis lain Nabi SAW berseru, “Perbanyaklah mengingat pemutus kelezatan (yaitu mati) karena jika seseorang mengingatnya saat kehidupannya sempit, maka ia akan merasa lapang dan jika seseorang mengingatnya saat kehidupannya lapang, maka ia tidak akan tertipu oleh dunia (sehingga lalai akan Akhirat)” (HR. Ibnu Hibban).

Al-Hasan al-Bashri rahimahullah berkata, “Tidaklah hati seorang hamba sering mengingat mati melainkan dunia terasa kecil dan tiada berarti baginya. Semua yang ada di atas dunia ini hina baginya.”

Apabila Umar bin Abdul Aziz rahimahullah mengingat mati, ia gemetar seperti gemetarnya seekor burung. Ia mengumpulkan para ulama, maka mereka saling mengingatkan akan kematian, hari Kiamat dan Akhirat. Kemudian mereka menangis hingga seakan-akan di hadapan mereka ada jenazah (At-Tadzkirah).

Nabi Muhammada SAW bersabda, “Ingatlah kematian di dalam shalatmu. Sebab jika seseorang mengingat mati dalam shalatnya, maka ia akan memperbagus shalatnya” (HR. Dailami).

Janganlah engkau menjadi orang yang menyesal kala kematian telah datang karena tiada berbekal, lalu engkau berharap penangguhan “Hendaklah setiap jiwa memerhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (Akhirat)” (QS. Al-Hasyr: 18).

Bersedekahlah sebelum kaya, dan diperbanyak setelah kaya. “Infakkanlah sebagian dari apa yang telah Kami berikan kepada kalian sebelum datang kematian kepada salah seorang di antara kalian, lalu ia berkata, Wahai Rabb-ku, mengapa Engkau tidak menangguhkan kematianku sampai waktu yang dekat hingga aku mendapat kesempatan untuk bersedekah dan aku termasuk orang-orang yang saleh” (QS. Al-Munafiqun: 10). WASPADA

Guru SMAN 16 Medan, Alumni Program Doktor PEDI UIN SU

  • Bagikan