Menghindari Su’ul Khotimah
Oleh Prof Muzakkir, Guru Besar Fakultas Ushuluddin Dan Studi Islam UIN SU

  • Bagikan

Ya Allah, jadikanlah sebaik-baik umurku adalah umur yang terakhirnya, sebaik-baik amalku adalah amal-amal penutupannya dan sebaik-baik hariku adalah hari saat aku menghadap-Mu, Ya Allah ampunilah dosa-dosaku yang telah lalu dan perbaikilah apa yang tersisa (umur) untukku” (HR. Ath-Thabarani)

Drama hidup yang penuh misteri dan seketika bisa mengubah jalan hidup seseorang serta keluarga adalah kematian. Setiap orang tidak bisa lolos darinya, namun kita semua tidak mengetahui kapan, dimana dan bagaimana kematian itu terjadi, sehingga semua yang ada ini tiba-tiba rapuh dan kecil tak berdaya dihadapan-NYA.

Allah SWT mengingatkan kita dalam al-Quran, Dan tiada seorangpun yang dapat mengetahui (dengan pasti) apa yang akan diusahakannya besok, dan tiada seorangpun yang dapat mengetahui di bumi mana dia akan mati. Sesungguhnya Allah Maha mengetahui lagi Mahamengenal” (QS. Luqman: 34).

Kematian adalah sesuatu yang paling dekat dengan kita, kematian pasti terjadi, tetapi Allah SWT memberi ruang kebebasan untuk memilih jalan ke arah kematian. Ada husnul khotimah (akhir kehidupan yang indah) dan ada pula su’ul khotimah (akhir kehidupan yang buruk).

Maka kita berusaha saat kematian itu sebagai wisuda kehidupan-menjadi wisudawan terbaik, meraih akhir perjalanan hidup yang terindah kembali menuju Allah SWT, husnul khotimah, “Ya Allah, akhirilah hidup kami dengan membawa Islam, akhirilah hidup kami dengan iman dan akhirilah hidup kami dengan husnul khotimah”.

Abdullah bin Alawi bin Muhammad al-Haddad seorang ulama besar yang bergelar Syaikh al-Islam Quthb ad-Dakwah wa al-Irsyad dalam kitabnya Sabilul Iddikar wal I’tibar bima Yamurru bil Insan wa Yanqadli Lahu minal A’mar, menjelaskan dengan pendekatan al-Quran dan as-Sunnah di antaranya ada lima hal yang wajib dihindari agar tidak mendapatkan su’ul khotimah saat meninggal dunia.

Pertama, almutahawinu bi as-sholah, yaitu orang-orang yang suka melalaikan, meninggalkan shalat. Sejatinya kita menjadikan shalat sebagai nafas dalam kehidupan, sebagai kebutuhan yang mutlaq-bukan kewajiban semata, sebagai cahaya yang menerangi kehidupan, Rasulullah SAW bersabda:

Barangsiapa menjaga shalatnya, maka shalat itu menjadi cahaya, bukti dan keselamatan baginya pada hari Kiamat” (HR. Ahmad). Apalagi shalat dilakukan berjamaah di masjid, pasti akan menjadi energi spiritual yang luar biasa, menjadi energi kekuatan umat bahkan pemersatu bangsa dan umat Islam dunia.

Sehingga menjadi kebahagiaan jiwa dan sumber ketenangan. Nabi SAW bersabda, “Penyejuk mataku (penenang hatiku) ada dalam shalat” (HR.Ahmad). Ada dua waktu yang pasti sedang kita tunggu, kita selalu menunggu waktu shalat, dan saatnya kita menunggu waktu dishalatkan.

Hakikat shalat adalah mi’raj perjalanan menuju Allah SWT dan bertawajuh mengahadap Allah SWT, ketika shalat bukan sekedar gerakan jasmani saja. Tetapi mengikutsertakan nafsani (jiwa) dan ruhani (ruh), artinya jiwanya pun ikut shalat sehingga merasakan getaran kalbu yang menghidupkan rasa, rasa rindunya kepada Allah SWT, rasa takut dan rasa malunya berbuat kebatilan.

Su’ul khotimah menjadi ancaman bagi orang yang meremehkan shalat, Allah SWT. menceritakan dialog yang sangat menyentuh pentingnya shalat dan berbuat kebaikan kepada orang lain:

“Berada di dalam Surga, mereka tanya menanya, tentang (keadaan) orang-orang yang berdosa, “Apakah yang memasukkan kamu ke dalam Saqar (Neraka)?” Mereka menjawab: “Kami dahulu tidak termasuk orang-orang yang mengerjakan shalat, dan kami tidak (pula) memberi makan orang miskin, dan adalah kami membicarakan yang bathil, bersama dengan orang-orang yang membicarakannya” (QS. al-Muddatsir (74): 40-45).

Kedua, Wal mudminu li syirbil khomri, yaitu orang-orang yang suka minum khamr, minuman keras yang memabukkan. Karena itu segala aktivitas yg merusak akal, seperti minuman keras, Narkoba dan lainnya diancam dengan hukuman berat dan jalan menuju su’ul khotimah.

Hai orang-orang yang beriman, Sesungguhnya (meminum) khamar, berjudi, (berkorban untuk) berhala, mengundi nasib dengan panah, adalah termasuk perbuatan syaitan. Maka jauhilah perbuatan-perbuatan itu agar kamu mendapat keberuntungan(QS. al-Maaidah (5): 90).

Nabi SAW bersabda, “Allah melaknat khamr, orang yang meminumnya, orang yang menuangkannya, penjualnya, pembelinya, orang yang memerasnya, orang yang mengambil hasil perasannya, orang yang mengantarnya dan orang yang meminta diantarkan” (HR.Ahmad).

Ketiga, Wal a’qqu li walidaihi, yaitu orang yang durhaka kepada kedua orangtuanya. Ada untaian kata yang indah, “Kasih sayang ibu membawa ke surga, kasih sayang ayah tiada penghujungnya, kasih sayang kita kepada mereka sejauh mana? Kita dibesarkan dari sebesar telapak tangan, maka ayah dan bunda jangan pernah terlupakan, untaian mutiara yang dipersembahkan, istana megah yang dibangunkan sesungguhnya itupun belum cukup membalas jasa ayah dan bunda, karena kasih sayang mereka berdua tiada batas dan tiada bertepi”.

Bersyukurlah dan berbahagialah kita yang masih memiliki orangtua, yang masih mendapatkan doa dan ridhonya, yang masih bisa kita memeluk tubuhnya yang semakin renta dan tak berdaya, sesibuk apapun kita sebagai anaknya, luangkan waktu menatap wajahnya, mendengar suaranya, mencium tangannya yang selalu menengadah ke Langit di tepian malam mendoakan kita, mencium keningnya yang selalu sujud kepada Allah SWT, dan membawakan sesuatu makanan kecil yang disukainya, senyum bahagianya akan mendatangkan Ridha Allah SWT.

Nabi Sulaiman AS yang kaya raya pun pernah berdoa, “Ya Tuhanku, tunjukilah aku untuk mensyukuri nikmat Engkau yang telah Engkau berikan kepadaku dan kepada ibu bapakku dan supaya aku dapat berbuat amal yang saleh yang Engkau ridhai; berilah kebaikan kepadaku dengan (memberi kebaikan) kepada anak cucuku. Sesungguhnya aku bertaubat kepada Engkau dan Sesungguhnya aku Termasuk orang-orang yang berserah diri” (QS.Al-Ahqaaf: 15).

Luar biasa pesan dalam ayat tersebut, setelah kita bersyukur kepada Allah SWT, berterimakasih lah kepada kedua orangtua baik yang masih hidup bahkan kepada orangtua yang telah meninggal dunia, kebaikan kita sebagai anaknya tiada terputus. Dalam sebuah hadis diceritakan:

“Suatu saat kami pernah berada di sisi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Ketika itu ada datang seseorang dari Bani Salimah, ia berkata, “Wahai Rasulullah, apakah masih ada bentuk berbakti kepada kedua orang tuaku ketika mereka telah meninggal dunia?” Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, “Iya (masih tetap ada bentuk berbakti pada keduanya). (Bentuknya adalah) mendo’akan keduanya, meminta ampun untuk keduanya, memenuhi janji mereka setelah meninggal dunia, menjalin hubungan silaturahim (kekerabatan) dengan keluarga kedua orang tua yang tidak pernah terjalin dan memuliakan teman dekat keduanya (HR. Abu Daud dan Ibnu Majah).

Keempat, Wal ladzi yu’dzil muslimin, yaitu orang yang suka menyakiti, menzalimi muslim lainnya. Allah SWT berfirman, “Dan orang-orang yang menyakiti orang-orang yang Mukmin dan Mukminat tanpa kesalahan yang mereka perbuat, maka sesungguhnya mereka telah memikul kebohongan dan dosa yang nyata” (QS. Al-Ahzab: 58).

Su’ul khotimah dapat dihindari dengan menahan diri untuk tidak mengganggu dan menyakiti orang lain, baik melalui ucapan maupun perbuatannya, Nabi SAW bersabda, “Seorang Muslim yang baik adalah yang tangan dan lisannya tidak menyakiti orang lain” (HR. Muslim).

Kelima, Wa kadzalikal mushirruna ‘alal kabair wal mubiqat, alladzina lam yatubu ilallahi minha. Yaitu orang-orang terus menerus melakukan dosa besar, berbagai kekejian tanpa mereka bertaubat dari dosa-dosa tersebut dapat menghantarkan manusia itu dalam keadaan su’ul khotimah di akhir kehidupannya.

Di sisa kehidupan ini kita segera bertaubat dan memperbaiki kesalahan di masa lalu, sebelum datangnya penyesalan yang tiada berguna, “Maka barangsiapa bertaubat sesudah melakukan kejahatan itu dan memperbaiki diri, maka sesungguhnya Allah menerima taubatnya. Sesungguhnya Allah Mahapengampun lagi Mahapenyayang” (QS. Al-Maidah: 39).

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *