Menghadapi Musibah

Menghadapi Musibah

  • Bagikan

Sungguh, Kami benar-benar akan menguji kamu sekalian agar Kami mengetahui orang-orang yang berjuang dan orang-orang yang sabar di antara kamu sekalian” (QS. Muhammad: 31)

Bumi pertiwi berduka lagi. Isak tangis di sana-sini. Karena Pada hari Rabu, 21 April 2021, sebuah kapal KRI Nanggala-402 dinyatakan tenggelam beserta awak kapal yang berjumlah 53 orang. Kepala Staf TNI Angkatan Laut (KSAL) Laksamana Yudho Margono mengatakan, kapal selam tersebut ditemukan terbelah menjadi tiga bagian. Namun satupun dari korban belum dapat, hanya kepingan badan kapal berhasil ditemukan.

Banyak orang kadang keliru menyikapi musibah. Emosi tak terkendali mencari solusi tanpa petunjuk dari Ilahi. Akibatnya banyak orang mengambil jalan pintas nekat berbuat arogansi merampok dan mencuri, bahkan ada yang gantung diri. Beberapa sikap seorang Muslim dalam menghadapi musibah, sebagai petunjuk jalan dalam menghadapi hidup ini.

Pertama, sebagai ujian. Permata tak bisa dipoles tanpa gesekan, manusia tak bisa sempurna tanpa ujian. Islam sendiri menganggap bahwa setiap musibah yang diturunkan kepada umat manusia merupakan sebuah ujian, apakah mampu melewati atau bahkan lari menghindari;

Hendaklah seorang Muslim, memaknai musibah tersebut sebagai sebuah ujian untuk naik kelas memperoleh derajat yang lebih tinggi. Sesungguhnya, jika Allah mencintai suatu kaum, Dia akan menguji mereka; “Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan “Kami telah beriman,” sedang mereka tidak diuji lagi? (QS. Al-Ankabut: 2) “Karena sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan” (QS. Al-Insyirah: 5).

Kedua, sabar. Hendaklah setiap Muslim sabar dan tidak berputus asa dalam menghadapi musibah. Karena dengan kesabaran itulah seseorang mendapatkan ketenangan, keihlasan, dan anugrah dari Allah. Bersikap sabar dalam menghadapi semua bentuk kesulitan dan tantangan akan memperoleh pahala; ”Sesungguhnya hanya orang-orang yang bersabarlah yang dicukupkan pahala mereka tanpa batas” (QS. Azzumar:10).

Ketiga, bersyukur. Ternyata musibah mengandung hikmah dan nikmat bagi orang yang bersyukur menerimanya. Sebaliknya musibah dapat menjadi malapetaka dan laknat bagi orang yang tak rela menerimanya. Karena “Sesungguhnya jika kamu bersyukur, niscaya Aku akan menambah (nikmat) kepadamu, tetapi jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka pasti azab-Ku sangat pedih” (QS. Ibrahim: 7).

Setelah bersyukur maka kita dianjurkan berdoa agar terhindar dari musibah. Artinya, setelah kita rela menerima satu musibah, maka kita juga boleh meminta dan berdoa kepada Allah agar dijauhkan dari musibah yang sama atau yang lain. “Dan segala nikmat yang ada padamu (datangnya) dari Allah, kemudian apabila kamu ditimpa kesengsaraan, maka kepada-Nyalah kamu meminta pertolongan” (QS. An-Nahl: 53).

Musibah dapat juga dijadikan koreksi diri. Mungkin ada perbuatan yang baru dilakukan ternyata merugikan dan menyakiti hati orang lain. Karena semua perbuatan baik belum tentu serta merta baik di mata orang lain. Bahkan musibah yang diterima bisa jadi efek dari kejahatan yang kita lakukan pada masa lalu. “Dan apa saja musibah yang menimpa kamu maka adalah disebabkan oleh perbuatan tanganmu sendiri” (QS. Asy Syura: 30).

Di balik musibah, sesungguhnya Allah SWT selalu memberikan hikmah keampunan sekaligus penghapus dosa bagi mereka yang bersyukur menerimanya; “Tidaklah seorang Muslim tertimpa kecelakaan, kemiskinan, kegundahan, kesedihan, kesakitan maupun keduka-citaan bahkan tertusuk duri sekalipun, niscaya Allah akan menghapus dosa-dosanya dengan apa yang menimpanya itu” (HR. Buhari).    WASPADA

Guru SMAN 16 Medan, Alumni Program Doktor PEDI UINSU

  • Bagikan