Mengendalikan Marah
Oleh Tantomi Simamora

  • Bagikan

Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa. (Yaitu) orang-orang yang menafkahkan hartanya, baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan kesalahan orang. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan (Q.S Ali Imran: 133-134).

Selagi marah tidak bercampur dengan sifat setan, maka pada saat itu kita telah menjadi orang yang kuat. Tetapi jika marah telah menguasai diri, maka setan akan senang sekali, karena saat itu setan telah menguasai kita dan setan juga sangat mudah membolak-balik pemikirannya sehingga terjerumus kepada belenggu kemarahan.

Umat Islam yang mengaku beriman dituntut segera mengendalikan kemarahan dengan sekuat mungkin demi untuk mendapatkan kebahagiaan yang hakiki, yaitu surga-Nya Allah SWT.

Ketika kita marah, maka segeralah bangkit dari keterpurukan itu menuju sebuah kebaikan yang akan dilipatgandakan pahalanya. Orang-orang yang berhasil mengendalikan kemarahan adalah orang yang paling kuat.

Sabda Rasul SAW: “Orang yang kuat bukanlah dengan bergulat, namun orang yang kuat itu adalah orang yang mampu mengendalikan dirinya ketika marah” (HR. Bukhari).

Selain mengendalikan diri dari sifat marah, sebagai umat Islam juga dianjurkan untuk berwudhu, karena salah satu manfaat wudhu adalah untuk menjaga diri sifat marah. Orang yang membiasakan berwudhu tentu akan selalu mengingat Allah SWT.

Dengan selalu mengingat Allah SWT, maka secara otomatis kita adalah termasuk orang terjaga, terpelihara dari segala tipu daya setan. Wudhu adalah senjata orang Mukmin, sedangkan api adalah senjatanya setan.

Ketika api semakin besar, maka obat satu-satunya adalah air wudhu. Maka sebagai Muslim yang mengaku beriman, hendaknya terus menjaga wudhunya sehingga dengan menjaga wudhu, maka akan membentengi diri orang-orang Mukmin.

Sifat marah juga akan membuat seseorang menjadi sangat bodoh. Sebab orang yang lagi marah akan sangat sulit sekali berlogika. Orang yang marah juga sangat sulit bertanggungjawab, bahkan ketika marah sedang memuncak, maka akan sangat sulit untuk mengambil suatu kebijakan yang positif.

Firman Allah dalam Al-Qur’an: “Dan tidaklah sama perbuatan yang baik dan yang jahat. Tolaklah (kejahatan itu) dengan cara yang lebih baik, maka tiba-tiba antara kamu dan dia ada permusuhan jadikan seolah-olah ia adalah teman yang sangat setia. Sifat-sifat yang baik itu tidak dianugerahkan melainkan kepada orang-orang yang sabar, dan tidak dianugerahkan kecuali kepada orang-orang yang mempunyai keberuntungan yang besar. Dan jika Setan mengganggumu dengan suatu gangguan, maka mohonlah perlindungan kepada Allah. Sesungguhnya Dialah yang Mahamendengar lagi Mahamengetahui” (QS. Fushilat: 34-36).

Sifat marah akan selalu ada di hadapan kita, tapi jangan sampai kemarahan kita dikendalikan oleh Setan yang sangat terkutuk itu. Ketika marah memuncak, segeralah berwhudu’ dan mohonlah pertolongan kepada Allah SWT, agar segera terlindung dari belenggu setan dengan mengucapkan taawudz.

Sesuai sabda Rasul SAW: “Sungguh saya mengetahui ada satu kalimat, jika dibaca oleh orang ini, marahnya akan hilang. Jika dia membaca A’uudzu billahi minas syaitonirrajim, marahnya akan hilang (HR. Bukhari dan Muslim). WASPADA

Guru Pesantren Modern Unggulan Terpadu Darul Mursyid/PDM Kab. Tapanuli Selatan

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.