Waspada
Waspada » Menerjemahkan Prinsip Kerja Integratif
Al-bayan Headlines

Menerjemahkan Prinsip Kerja Integratif

Oleh Dr HM. Syukri Albani Nasution, MA

Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para Malaikat: “Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi”. Mereka berkata: “Mengapa Engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah, padahal kami senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan mensucikan Engkau?” Tuhan berfirman: “Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui” (QS. Al Baqarah: 30)

Salah satu energi yang harus dibentuk dalam diri adalah integritas diri. Keselarasan tindakan dengan nilai dan aturan yang diatur sehingga melahirkan karakter dan kepribadian yang kuat dan konsisten.

Jika manusia telah menjadikan keimanan nya sebagai integritas kehidupannya, maka nilai yang akan dituju menjadi satu meskipun berada pada rel dan ruang yang berbeda. Satu-nya tujuan (wahid-wahdah) menjadi simbol hasil perjuangan.

Untuk mengukur integritas maka yang dilihat capaian-nya. Asas sebuah capaian bukan hanya akhir proses (the end of the proses), namun capaian itu bermukim pada kemanfaatan (utility) yang mungkin berjarak dengan akhir sebuah proses. Seorang mahasiswa setelah lulus kuliah-mendapat ijazah adalah akhir dari proses (outcome).

Namun kemanfaatan dirinya kepada bangsa dan agama, pekerjaannya, kesetiaannya pada negara, keluhuran sikap dan adabnya adalah bagian yang paling penting dan menjadi nilai yang abadi-melekat kepada dirinya. Dan inilah yang disebut dengan capaian (outcome) asasnya utility, infact dalam pendekatan filsafat sering disebut nilai ukur aksiologis.

Inilah yang menjadi tujuan hakiki dari semua proses kehidupan. Uang menjadi hasil yang membuat bahagia, tapi tidak boleh menjadi satu-satunya tujuan. Maka integritas hidup, termasuk bekerja harus didasari sesuatu yang sangat tinggi, melampaui hajat materialistik sebagai sebab akibat dalam kehidupan.

Tujuan yang tinggi itu harus sentralistik, tidak terjamah lewat akal manusia. Sebab sesama manusia akan saling menilai-mengevaluasi dan menghakimi. Tujuan itu sesuatu yang Ahad, harus teologik, energinya vertikal, hamba kepada Allah- Tuhan manusia. Dan kasih sayang akan turun dari Allah kepada hamba-Nya.

Hasil hanya akan terasa sempurna jika direstui oleh Allah Sang Maha Pemberi, direstui prosesnya, jumlah dan manfaatnya. Sehingga apapun yang diperoleh sebagai hasil hidup dan pekerjaan ini akan menjadi sebab memuliakan hidup di ruang sosial, terjaga keteladanan, kemanfaatan hidup dinikmati banyak orang. Inilah integritas pekerjaan yang terintegrasi dengan keimanan.

Untuk memusatkan tujuan integritas keimanan harus ada prinsip yang menjadi model, pertama, kerja harus menjadi model kehidupan. Tiada hari tanpa bekerja. Bekerja menjadi amal (al hayatu hiyal ‘amal). Bekerja dalam makna menempah integritas, keilmuan, pengalaman, kepahaman.

Di dalamnya lah ditempah keadaban dan keteladanan. Yang ditempah adalah outcome kehidupan yang sifatnya kemanfaatan. Sehingga pekerjaan dilihat dari sisi ke-muliaan, bukan dari sisi pencarian kekayaan saja. Banyak bekerja secara simbiosis berarti banyak amal, jika pekerjaan adalah amal, maka kepentingan pekerjaan tidak boleh personalistik, harus meluas-bermanfaat.

Jika hasil bekerja banyak, maka ghirah filantrophy menjadi norma kehidupan, sehingga sharing harta dunia sebagai akses rezeki banyak orang. Maka keadilan Allah akan terasa sempurna, tidak menyekat situasi prestise kehidupan, sebab yang banyak harta akan membantu yang tak punya harta, sehingga semua saling melengkapi.

Kedua, bekerja harus dengan kesadaran khalifah. Allah menjelaskan pada Alquran Surah Albaqarah ayat 30 “…ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat, “Aku hendak menjadikan khalifah di bumi….”. khalifah harus dilihat sebagai komunitas bukan individu.

Karena bekerja bukan hanya membentuk kehebatan pribadi (superman), namun kehebatan membentuk komunitas, kerja tim, semangat bekerjasama (super team). Maka khalifah itu adalah semangat komunitas, sehingga hasil pekerjaan berguna hasil untuk banyak orang. Bekerja untuk kepentingan luas, meski yang dikerjakan kecil dan sedikit namun hasilnya pasti dan berintigeritas dengan tujuan akhir. Keimanan kepada Allah SWT.

Ketiga, bekerja dengan prinsip ukhwah. Secara prinsip ada perbedaan strategis antara ikhwah dan ikhwan. Dengan pendekatan yang cukup energik. Ikhwan itu menjadi padanan saudara seagama. Integritas kesamaan agama menjadi nilai dasar persaudaraan.

Prinsipnya saling menjaga, mengikuti aturan yang di syariah-kan. Sehingga semua orang yang bersaudara tidak akan menciderai dan menodai agamanya, demi popularitas dan eksistensi dunia banyak orang yang menjebakkan diri menciderai agamanya.

Namun untuk urusan pekerjaan korelasi yang dibangun adalah ikhwah (ukhwah). Persaudaraan sedarah (linasabiyah). Jika dihubungkan dengan hadis innamal mu’minuuna ikhwah (orang Mukmin itu bersaudara) dengan persaudaraan seperti hubungan darah. Berarti orang-orang beriman integrasi kehidupannya harus dengan nilai hubungan darah.

Hubungan sedarah tidak akan saling menyakiti, akan terus mengayomi, memaafkan kesalahan, memaklumi kekuarang, memberi nasehat kebenaran, berlaku dengan adil, saling mendoakan dalam setiap keadaan tanpa berbatas jarak.

Setiap Mukmin tidak akan saling membunuh. Dalam bekerja prinsip yang dipakai adalah prinsip hubungan persaudaraan keimanan sehingga alasan menajalankan pekerjaan adalah berharap ridha Allah.

Lahir lah harap pada outcome, bukan hanya selesai pekerjaan, tapi apa manfaat pekerjaan tersebut, siapa yang ikut menikmatinya, apakah Allah meridhai semua hasil dan manfaat tersebut.

Sensistivitas inilah yang hidup dalam setiap gerak hidup dan pekerjaan, sehingga asas bekerja tidak hanya formalistik, tapi terintgrasi dengan subtansi dan fungsional. Selesainya pekerjaanya hanya sebagai output, dan manfaat dan imbas dari pekerjaan menjadi outcome.

Keempat, bekerjalah dengan ikhlas. Ikhlas itu mempertemukan niat- rencana-model kerja-selesainya pekerjaan-dan menghasilkan hasil dan manfaat pekerjaan. Ruang ikhlas konsentrasi pada lurusnya niat, benar nya cara dan sikap kerja, dan berorientasi pada manfaat luas, berbentang zaman, menyentuh setiap keadaan, lintas generasi.

Di sinilah keteladanan muncul sebagai ghirah pekerjaan. Kita hidup menjadi nilai bagi generasi berikutnya. Maka nilai kehidupan tidak boleh dipersembahkan hanya untuk kepentingan pribadi.

Simpul integeritas keimanan yang terintegrasi dengan semua aspek kehidupan menjadi nilai yang dicapai. Tujuan akhir dari kehidupan adalah kemanfaatan. Menciptakan kemanfaatan itu harus dengan niat dan kerja yang sempurna. Dan kesempurnaan itu tak akan dicapai jika tak meminta pada yang Mahasempurna,

Semua ilmu simpulnya kepada Allah, semua pekerjaan simpulnya Ridha Allah, semua kebaikan simpulnya lillah (hanya karena Allah). Marilah kita saling berkomunikasi pada nilai-nilai kebaikan dan kebenaran, dan berkomunikasi dalam dan menuju kasih sayang (watawa shaubil haqq watawaa shoubil marhamah). Wallahu a’lam.

Berita Terkait

Memuat....
UA-144743578-2