Menelusuri Hikmah Shiyam Ramadhan - Waspada

Menelusuri Hikmah Shiyam Ramadhan

  • Bagikan

 

Jika bulan Ramadhan datang maka Rasulullah SAW bersabda, “Bulan Ramadhan adalah bulan yang Allah wajibkan kalian untuk berpuasa, dan aku telah mensunnahkan kaum Muslimin untuk shalat malam di dalamnya, maka barangsiapa berpuasa dengan penuh keimanan dan mengharap pahala, niscaya dosa-dosanya akan keluar dari (bulan Ramadhan) bagaikan bayi yang dilahirkan ibunya (HR.Ahmad).

Puasa Ramadhan selain sebagai kewajiban dari salah satu rukun Islam, ia juga mengandung butir-butir hikmah yang berharga, untuk manusia menuju insan kamil—sehat jasmani dan ruhani. Di antara hikmah dalam ibadah puasa Ramadhan adalah tarbiyah ruhiyah/pendidikan ruhani untuk mengembalikan kesucian ruh menuju ”insan Ramadhan”.

Untuk menjadi insan Ramadhan butuh proses pendidikan ruhani yang sejati. Dalam arti pendidikan ruhani ini tidak sempurna jika dilakukan oleh manusia tetapi langsung dilakukan oleh Pemilik/Pencipta ruh itu sendiri yaitu Allah SWT. Karena kesempurnaan manusia tergantung pada penguasaan dan pengendalian ruhani terhadap hawa nafsunya.

Insan Ramadhan yang dimaksudkan adalah insan bertakwa sebagaimana menjadi tujuan akhir yang akan dicapai dalam perintah shiyam Ramadhan. Kata kata “mudah mudahan kamu bertakwa” penghujung ayat 183 surah Al-Baqarah dapat diartikan sebagai proses pendidikan ruhani agar menjadi menjadi orang bertakwa, bukan sebatas harapan.

Lagi pula, bila dikaitkan dengan ayat 27 surah al-Maidah; bahwasanya yang diterima Allah SWT (amal ibadah)dari orang orang yang bertakwa, karena orang yang bertakwalah yang benar-benar telah berhasil menjadikan akal dan ruhnya sebagi komandan terhadap hawa nafsunya.

Salah satu hikmah ibadah mewujudkan kesyukuran kepada Sang Pencipta yang telah menjadikan manusia sebagai makhluk yang paling sempurna dari sekalian makhluk. Karena kesempurnaan ciptaan manusia jualah mereka bisa melaksanakan ibadah yang bervariasi.

Bayangkan, makhluk yang tidak berakal seperti hewan dan tumbuhan hanya bisa bertasbih sesuai bahasa hewan dan tumbuh tumbuhan. Begitu pula malaikat diciptakan oleh Allah untuk melaksanakan satu tugas dan satu ibadah tertentu saja. Misalnya ada malaikat yang hanya bertasbih semata, tidak ada ibadah lain, ada yang berthawaf saja, ada yang sujud saja dan sebagainya.

Pada akhir ayat 186 diakhiri dengan laallahum yarsyudun/mudah mudahan mereka mendapat petunjuk. Sungguh menakjubkan, tujuan puasa bukan hanya untuk membangun manusia menjadi insan yang bertakwa, lebih dari itu juga membentuk manusia yang cerdas dalam menjalankan syariat Allah SWT. Berikutnya ayat 187 juga diakhiri dengan laallahum yattaqhun/mudah mudahan mereka menjadi orang yang bertakwa.

Allah SWT melarang mengikuti aturan yang keluar dari manusia yang diperbudak oleh nafsu, “Janganlah engkau mengikuti orang yang hatinya telah Kami Lalaikan dari mengingat Kami, serta menuruti keinginan (hawa nafsu)nya” (QS.al-Kahf:28).

Malah sebaliknya jika kebenaran tunduk kepada hawa nafsu akan rusak langit dan bumi dan segala isinya. Allah berfirman; Dan seandainya kebenaran itu menuruti keinginan mereka, pasti binasalah langit dan bumi, dan semua yang ada di dalamnya (QS.al-Mukminun:71).

Manusia, yang asal usulnya terdiri dari “unsur bumi” (jasad) dan “unsur langit” (ruh) dan diciptakan penuh dengan kelemahan (QS.An-Nisaa: 28), tidak mampu membimbing jiwanya sendiri dan tidak pula mampu menguasai rohaninya. Sebab itu segala yang berkaitan terapi rohani diperlukan manhaj ilahi dalam konteks ini adalah puasa Ramadhan.

Sedangkan terapi jasmani berupa perawatan, pengobatan dan sebagainya, biasanya manusia dapat mengaturnya sendiri. Demikian pula yang berkaitan upaya mencerdaskan akal manusia mereka mampu membuat manhaj sendiri. Meskipun demikian akal yang dibimbing manhaj illahi jua-lah yang selamat dari pikiran pikiran sekulerisme dan liberisme.

Karena alasan di atas dan yang lainnya, Allah SWT tidak menyerahkan kepada manusia, membersihkan rohaninya dengan caranya sendiri. Itulah sebabnya Allah mencela orang yang beranggapan dirinya lebih bersih atau paling bersih dari orang lain.

Allah SWT berfirman; berkata orang orang Yahudi dan Nasara kami ini adalah anak Allah dan kekasih-Nya, katakan ya Muhammad (jika kamu anak anak Tuhan dan kekasih Tuhan yang tidak berdosa) kenapa kamu diazab oleh Allah dengan sebab dosa dosa kamu (QS. Al-Maidah: 18).

Dan orang-orang yang mengklaim dirinya paling bersih dipandang pendusta di dalam agama, sebagaimana firman Allah SWT: Apakah kamu tidak memperhatikan orang-orang yang menganggap dirinya bersih, sebenarnya Allah yang membersihkan siapa yang Dia kehendaki dan mereka tidak dianiaya sedikitpun, perhatikanlah betapalah mereka menga-ngadakan dusta terhadap Allah Swt dan cukuplah perbuatan itu menjadi dosa yang nyata bagi mereka (QS. An-Nisaa: 49 : 50).

Agar manusia tidak menempuh caranya sendiri untuk membimbing rohaninya, maka bulan Ramadhan datang setiap tahun untuk dijadikan sebagai pesantren ruhiyah bagi umat ini. Karena Ramadhan sarat dengan pendidikan rohani, pelaksanaan ibadah puasa diawali dengan niat ikhlas, pengendalian hawa nafsu, mengosongkan perut, menjaga pancaindra dari perbuatan sia-sia bahkan mengharamkan apa yang dihalalkan—sebagai latihan mengharamkan yang sudah pasti haram, dan setelah berakhir Ramadhan akan lahir insan Ramadhan.

Tarbiyah rohani di bulan Ramadhan ini tidak dapat dihargakan dengan materi dan murabby/pendidiknya tidak dapat dibayar dengan dunia dan segala isinya. Rasulullah SAW bersabda, diriwayatkan oleh Imam Turmuzi di dalam sunan-nya dari Abi Umamah:

Tuhanku menawarkan kepadaku untuk menjadikan bukit-bukit di Makkah menjadi emas lalu aku katakan tidak, wahai Tuhanku tetapi aku ingin kenyang satu hari dan lapar satu hari, jika aku lapar akau akan mengiba kepada-Mu dan aku mengingat-Mu. Dan jika aku kenyang aku akan bersukur kepada-Mu dan memuji-Mu (HR. Turmuzi).

Inilah proses illahi/manhaj ilahi untuk membimbing jiwa-jiwa manusia dalam pengendalian nafsu yang tidak diragukan lagi kebenarannya melalui puasa Ramdhan-untuk. Manhaj ilahi ini sudah teruji kebenarannya.
Sebab itulah puasa dibutuhkan setiap orang, kaya atau miskin, muda atau tua orang-orang modern sekarang ini atau orang-orang primitif masa lampau. Makanya puasa diwajibkan kepada generasi terdahulu dan generasi sekarang agar terlahir dari bulan yang berkah ini insan Ramadhan. Wallahualam bishshawab.

  • Bagikan