Meminta Jabatan

  • Bagikan

Demi Allah, sesungguhnya kami tidak akan menyerahkan pekerjaan ini kepada orang yang memintanya, dan tidak pula orang yang rakus kepadanya” (HR. Buhari dan Muslim)

 

Kekuasaan atau jabatan sungguh menggiurkan. Pesonanya membuat banyak orang mabuk kepayang. Memiliki jabatan akan disegani teman, ditakuti bawahan dan disayang keluarga dan handai tolan.

Karena jabatan akan menimbulkan kehormatan dan kekayaan. Namun indahnya sebuah jabatan kadang tak seindah harapan. Karena jabatan adalah salah satu pintu dosa yang datang.

Kadang seseorang meminta jabatan yang beliau sendiri tidak ahli dalam jabatan tersebut. Karena itu Rasul SAW berpesan tentang bahaya jabatan; “Sesungguhnya kalian nanti akan sangat berambisi terhadap kepemimpinan” (HR. Buhari).

Orang yang beriman tentu menginginkan jabatan dengan niat semata karena Allah yaitu untuk menjadi pemimpin yang amanah, dan mendapatkan jabatannya tersebut dengan cara benar.

Sebab Ia menyadari jabatan dan segala hal yang berhubungan dengan duniawi hanyalah titipan Allah semata, seperti firman Nya “Sesungguhnya harta dan anak anakmu hanyalah cobaan” (QS. At Taghabun: 15).

Hendaklanh seseorang diberikan jabatan sesuai keahlian. Memahami sebab akibat atas
perbuatan dan paham akan konskuensi atas kebijakan. Rasulullah pernah didatangi oleh dua orang sahabat meminta jabatan;

“Ya Rasulullah angkatlah kami sebagai pejabatmu.” Lalu Rasul bersabda “Aku tidak akan memberikan jabatan kepada orang yang meminta dan berambisi untuk mendapatkannya” (HR. Buhari).

Jika seseorang mencintai sesuatu secara berlebihan, maka dia akan diperbudak oleh apa yang dicintainya. Jabatan akan mengajaknya berlari, menyanyi dan menari sampai lupa diri.

Karena asiknya mencintai jabatan tersebut maka iblis datang menghembuskan tali pengikat, agar cinta dunia terikat kuat tak dapat jatuh dan terlepas. “Dan kamu mencintai harta dengan kecintaan yang berlebihan” (QS. Al Fajr : 20).

Perhatikan sabda Rasulullah SAW berikut ini: “Demi Allah, bukan kemiskinan yang aku khawatirkan akan menimpa diri kalian. Akan tetapi, aku khawatir jika dunia ini dibentangkan untuk kalian sebagaimana ia dibentangkan untuk orang-orang sebelum kalian sehingga kalian berlomba sebagaimana mereka berlomba, dan akhirnya kalian hancur sebagaimana mereka hancur” (HR. Muslim-Buhari dan Ibnu Abi ad-Dunya).

Orang yang membeli jabatan, biasanya tidak memiliki kemampuan dalam urusan tersebut. Ketika menghadapi kesulitan dia tidak mampu mengatasinya. Rasulullah memberi nasehat pada Abdurrahman bin Samurah:

“Wahai Abdurrahman janganlah engkau meminta jabatan, sebab sepenuhnya akan dibebankan kepadamu. Namun apabila jabatan diberikan bukan karena permintaan mu engkau akan dibantu dalam melaksanakannya” (HR. Buhari).

Diriwayatkan, sahabat yang bernama Abu Dzar bertanya pada Rasulullah, “Ya Rasulullah tidakkah Anda berminat memberikan sebuah jabatan?” Beliau SAW menepuk pundaknya dan bersabda:

“Kamu seorang yang lemah sementara jabatan adalah sebuah amanah dan sebab kesulitan dan penyesalan di hari Kiamat nanti, kecuali orang yang hak dan melaksanakan semua kewajiban” (HR. Buhari dan Muslim).

Nabi bahkan melukiskan; “Tidaklah dua ekor serigala yang lapar dilepas di tengah gerombolan kambing lebih merusak daripada daya rusak seseorang terhadap agamanya karena ambisinya untuk mendapatkan harta dan kedudukan yang tinggi” (HR.Tirmidzi).

”Sesungguhnya kalian akan berlomba-lomba mendapatkan jabatan, padahal kelak di Akhirat akan menjadi sebuah penyesalan” (HR. Buhari dari Abu Hurairah). (Guru SMAN 16 Medan,
Alumni Program Doktor PEDI UINSU)

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.