Membangun Jiwa Yang Fitrah

  • Bagikan

“Hai jiwa yang tenang. Kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang puas lagi diridhai-Nya. Maka masuklah ke dalam jama’ah hamba-hamba-Ku. Masuklah ke dalam Surga-Ku” (QS. Al-Fajr [89]: 27-30)

 

 Jiwa merupakan hakikat kemanusiaan seseorang, jiwalah yang membuat manusia berbeda dengan makhluk lainnya. Jiwalah yang menjadi sasaran pendidikan Ilahi. Di dalam jiwa ditempatkan ruh; keduanya ditempatkan dalam jasad.

Jadi, selama perjalanannya di bumi, jiwa (nafs) menggunakan kendaraan jasad. Diberikannya perangkat jasad kepada jiwa dimaksudkan agar jiwa dapat mengambil bagian dalam pendidikan Ilahiyah di bumi. Di bumi ini pula ia diseru melaksanakan maksud dari penciptaannya.

Di dalam Al-Qur’an, kata al-nafs disebut Allah dalam berbagai bentuk kata jadian seperti nafs, anfus, tanaffasa, yatanaffasu dan mutanaffisun. Melalui tafsir mawdhu’i yang dilakukan para peneliti, setidaknya kata nafs dalam Al-Qur’an bermakna: Pertama, al- nafs sebagai totalitas manusia (jasmani dan rohani, sisi luar dan sisi dalam);

Kedua, al-nafs sebagai sisi dalam manusia. Al-nafs sebagai sisi luar maksudnya adalah sisi kemanusiaan yang tampak dengan jelas. Sedangkan al-nafs sebagai sisi dalamnya adalah sisi yang tidak tampak kacamata biasa manusia, namun dapat berfungsi sebagai penggerak tingkah laku manusia yang membuatnya mampu melakukan perubahan-perubahan dalam kehidupan.

Dengan kata lain al-nafs sebenarnya adalah unsur-unsur yang menggerakkan tingkah laku manusia. Kalangan Sufi menaruh perhatian penting pada persoalan jiwa. Mereka berbicara banyak hal tentang jiwa.

Jika filosof banyak berbicara tentang eksistensi jiwa yang menjadi unsur dari diri manusia, maka kaum sufi lebih banyak berbicara tabiat, karakter dan aktivitas jiwa manusia yang lebih bersifat praktis.

Menurut pandangan Sufi, bekal utama yang harus diketahui oleh setiap orang yang ingin menuju Tuhannya yaitu ia harus memiliki pengetahuan tentang bahaya nafs-nya (jiwa), mengenalnya, melatihnya dan mendidik akhlaknya.

Karena itu, perhatian sufi terhadap jiwa tersebut (ma’rifatun nafs) adalah dengan mengetahui tabiat, karakter, jenis jiwa dan aktifitasnya, merupakan salah satu tangga mengenal Allah. Al-Hakim at-Tirmidzi menggambarkan bahwa jiwa merupakan tunggangan para Setan dalam menggoda manusia.

Jiwa bisa bertambah baik dengan cara seseorang menentang hawa nafsunya (al-hawa) dan syahwatnya, tidak menghiraukan ajakannya, serta melatihnya dengan lapar dan amalan-amalan berat. Jiwa sering melakukan tipuan terhadap manusia.

Hakim At-Tirmidzi menjelaskan tabiat jiwa kepada pemiliknya suka memoles kebatilan seolah kebenaran, dan menjadikan buta dari kebenaran. Di antara contoh tipuan jiwa misalkan dalam shalat. Jiwa menipu seseorang dengan menyuruhnya untuk menaruh perhatian pada shalat sunnat, tapi diri mereka lalai dalam melakukan shalat fardhu.

Al-Hakim At-Tirmidzi berkata: “Orang tertipu (oleh jiwa) jika berdiri untuk shalat, dirinya lupa menjaga hatinya bersama Allah, lupa terhadap apa yang ada di hadapannya, dan lupa menjaga anggota badannya. Dengan demikian, dia tidak termasuk orang yang menghadap untuk shalat. Gangguan-gangguan yang dibisikkan jiwa menjadikan dirinya lalai memelihara hati, lalai memelihara ayat-ayat yang dibacanya dan lalai memahami apa yang sedang dibacanya. Sebab, secara total ia melupakan semuanya. Setelah selesai melakukan shalat, dia pergi dalam keadaan tenang hati karena sudah melakukan shalat malam, shalat dhuha, dan shalat-shalat lainnya. Orang-orang ini benar-benar tertipu, sebab dia telah menyia-nyiakan yang fardhu dan mengunggulkan yang sunnat. Kemudian seraya ia memuji-muji jiwanya karena telah melakukan amalan sunnat tersebut.”

Selanjutnya, al-Muhasibi juga menjelaskan bagaimana jiwa itu melakukan tipuannya: “Terkadang suatu saat seorang manusia sedang melakukan suatu amal atau sudah berniat melakukannya. Tapi, jiwa kemudian memprovokasi untuk memutuskan atau membatalkannya, karena ada syahwat maksiat yang ditawarkannya.”

Sebagai contoh, ada seseorang yang sedang melakukan zikir lisan, atau dia telah niat untuk tidak banyak bicara demi mencari selamat. Tapi, tiba-tiba muncul tawaran untuk menggunjing orang yang sangat dibenci, atau menggunjing perkara yang menakjubkan darinya atau menakjubkan orang lain, maka orang tersebut keluar dari taat menuju maksiat.

Secara umum, Al-Qur’an menyebut secara langsung tiga bentuk sifat (karakter) dari nafs (jiwa), yaitu : Pertama, Nafs al-ammarah bis-su’ (jiwa yang selalu menyuruh pada kejahatan). Bentuk jiwa ini digambarkan Allah dalam Firman-Nya : “…Sesungguhnya jiwa itu selalu menyuruh kepada kejahatan.” (QS. Yusuf [12] : 53).

Jiwa golongan ini adalah bentuk jiwa terendah, jiwa yang telah dikuasai hawa nafsu dan Setan dan bahkan orang yang memiliki kondisi jiwa seperti ini hampir sama kondisinya seperti Setan yang juga selalu mengajak manusia kepada kesesatan.

Orang yang jiwanya dalam kondisi ini juga seharusnya menyadari dirinya dan bertaubat pada Allah serta membersihkan hatinya dari segala kotoran dengan memaksanya berbuat baik dan meninggalkan segala macam bentuk kejahatan. Sebab jika tidak jiwa ini juga akan selalu menjadi perusak karena sifatnya yang selalu condong pada kejahatan.

Kedua, Nafs al-lawwamah (jiwa yang selalu mencela dirinya). Jiwa bentuk ini adalah karakteristik jiwa yang selalu mencela dirinya apabila ia berbuat kesalahan. Jiwa ini selalu menyesali keadaan dirinya yang sulit terlepas dari dosa dan kesalahan.

Ia selalu mengakui kebesaran Allah, menyadari bahwa ia telah melakukan kesalahan dan ia mencela dirinya karena selalu mengikuti kata-kata Setan dan hawa nafsunya. Kondisi jiwa seperti ini adalah kondisi perang intern dalam jiwa antara kebaikan dan kejahatan, antara Setan dan hawa melawan Ruh dan Qalb, antara kebenaran dan kebatilan, antara apa yang diinginkan (disukai) Tuhan dan yang dibenci-Nya.

Jiwa seperti ini juga belum stabil, masih selalu mengalami kegoncangan dan kegelisahan, kesedihan dan penyesalan serta pengakuan. Tentang jiwa ini Allah berfirman : “Aku (Allah) bersumpah dengan jiwa lawwamah (jiwa yang selalu mencela dirinya sendiri).” (QS. Al-Qiyamah [75] : 2).

Dengan demikian, dalam jiwa ini terdapat kebaikan, yaitu pengakuan akan kelemahan diri, kekuasaan Allah, penyesalan, dan kesadaran bahwa dia bersalah; dan juga terdapat jenis keburukan, yaitu kejahatan yang dilakukannya dengan sadar dan sengaja karena mengikuti kehendak hawa nafsu dan syaitan. Jiwa inilah yang berada pada bentuk pertengahan.

Jika kekuatan ruhaninya lebih besar dari hawa nafsunya maka ia mampu terlepas dari kejahatan, dan jika suatu saat kekuatan ruhaninya lebih lemah dari dorongan hawa nafsunya maka jatuhlah ia ke dalam lembah dosa dan kehinaan.

Ketiga, Nafs al-muthmainnah (jiwa yang tenang atau stabil). Jiwa bentuk ketiga ini adalah jiwa yang telah mampu menundukkan kekuatan hawa nafsunya, mampu menetralkannya ketika dorongan hawa nafsunya menggejolak, mampu mengalahkan kekuatan Setan, stabil dan selalu menetapi kebaikan dan tidak mudah goncang dalam kondisi apapun dan dimanapun.

Jiwa ini juga selalu bersabar dalam melakukan kebaikan, menghadapi cobaan dan senantiasa bersyukur dari kebaikan dan nikmat yang diberikan Allah SWT. Kondisi jiwa ini juga dapat digambarkan seperti kondisi jiwa yang menjadikan Ruh dan Qalb-nya sebagai raja yang selalu dapat menundukkan hawa nafsunya dan senantiasa merasa bersama Allah SWT.

Kondisi jiwa ini juga terkadang sampai pada maqam tertingginya, sulit untuk digambarkan bagaimana rasa dan keadaannya, kondisi ini hanya dapat dan harus dirasakan saja. Inilah yang dikatakan para Sufi sebagai jiwa yang telah mencapai tingkat “Ma’rifah” (pengenalan yang sempurna terhadap Allah) menurut al-Ghazali.

Inilah bentuk jiwa yang akan dipanggil-Nya dengan penuh kemesraan nantinya, inilah kondisi jiwa yang kita inginkan pada saat kita kembali ke hadirat-Nya : “Hai jiwa yang tenang. Kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang puas lagi diridhai-Nya. Maka masuklah ke dalam jama’ah hamba-hamba-Ku. Masuklah ke dalam Surga-Ku” (QS. Al-Fajr [89]: 27 – 30).

Karakter ketiga jiwa tersebut, menurut Ibnu Qayyim al-Jauziyah, berada dalam satu jiwa dan menyebar dalam sifat jiwa manusia. Ruh adalah ladang kebaikan, sebab ia sumber rahmat. Sedangkan jiwa dan jasad adalah ladang keburukan, sebab ia sumber syahwat.

Watak ruh adalah berkehendak pada kebaikan, sedangkan watak jiwa berkehendak kepada keburukan dan hawa. Kebiasaan ruh adalah ketaatan, sedangkan kebiasaan jiwa adalah syahwat dan kesenangan duniawi. Pada mulanya jiwa manusia diciptakan dalam keadaan fitrah dan suci, bebas dari segala kekotoran dan kejahatan.

Tetapi setelah ruh bersemayam di dalam jasad maka ia memiliki energi, ia berinteraksi dengan sub sistem lainnya dalam dimensi ruhani manusia, ia dihadapkan dengan hawa nafsu beserta tentaranya Setan yang selalu mengajak pada kejahatan. Sayangnya ruh sebagai energi bagi jiwa ternyata juga makhluk yang lemah, yang tidak punya banyak nyali untuk tetap bertahan dengan ketaatan pada-Nya sehingga ia harus tenggelam dalam lautan noda dan dosa, kecuali ruhnya orang-orang yang benar sholeh dan selalu membersihkan jiwanya.

Kecenderungan jiwa yang destruktif menyebabkan Setan berusaha mempengaruhinya dengan memanfaatkan syahwat dan hawa nafsu yang juga diciptakan Allah dalam dimensi ruhani manusia. Jika jiwa kalah terhadap serangan ini maka karakter negatifnyalah yang dominan menguasainya, dan karakter inilah yang akan mengisi wadah Qalb (hati) manusia.

Akibatnya Qalb ditutupi oleh noda-noda hitam, sifat-sifat yang buruk, menjadi “berpenyakit”, sehingga terhijab oleh Allah. Sebaliknya, jika jiwa tangguh berperang mengalahkan syaitan, mengendalikan syahwat dan hawa nafsu maka karakter positif dari jiwa lah yang lebih dominan berkuasa dan mengisi wadah Qalb.

Sehingga jadilah manusia itu sebagai pribadi-pribadi yang bertakwa dan berakhlak mulia. Qalb-nya yang bersih dari noda-noda hitam akan memperkuat jalinan ikatan keterhubungan manusia dengan Allah, Rahmat Allah pun akan selalu menyertainya.

Jiwa merupakan unsur yang tidak tampak yang menggerakkan jasad manusia, ia berasal dari Allah yang semestinya harus selalu dijaga dan dibimbing dengan cahaya kebaikan agar senantiasa berada dalam kondisi yang bersih (fithrah).    WASPADA

Guru Besar Fakultas Ushuluddin Dan Studi Islam UIN SU

 

 

 

 

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *