Memaknai Hijrah Sebagai Jejak Rekam Hidup

Memaknai Hijrah Sebagai Jejak Rekam Hidup

  • Bagikan

Sesungguhnya jumlah bilangan di sisi Allah ada dua belas bulan, (sebagaimana di dalam ketetapan Allah pada waktu Dia menciptkan Langit dan Bumi) di antaranya ada empat bulan yang haram (Zulqaedah, Zulhijjah, Muharram, Rajab) itulah (ketetapan) agama yang lurus (QS. At Taubah: 36)

Nama-nama bulan Qomariah sudah dikenal lebih awal dari nama nama tahun. Bahkan di dalam Alquran ada isyarat tentang sebagian nama (seperti Ramadhan) dan jumlah bulan qamariah, jumlah bulan haram.

Sedangkan nama tahun tidak dikenal terkecuali ada pristiwa pristiwa besar yang terjadi pada masa itu. Maka momen tersebut dijadikan oleh masyarakat Arab sebagai nama tahun sepeti tahun Gajah. Karena pada saat itu terjadi peristiwa besar, serangan pasukan gajah dari Yaman oleh raja Abrahah.

                                             

Tahun Fijar, karena ketika itu terjadi perang Fijar. Tahun renovasi Ka’bah. Karena ketika itu Ka’bah rusak akibat banjir dan dibangun ulang. Terkadang mereka juga menggunakan tahun kematian tokohnya sebagai hitungan tahun. Misalnya 10 tahun setelah meninggalnya Ka’ab bin Luai.

Kondisi ini berlangsung terus sampai zaman Nabi Muhammad SAW dan Khalifah Abu Bakar. Kaum Muslimin belum memiliki pedoman tahun meskipun ada pristiwa pristiwa yang terjadi pada masa itu yang pantas untuk mereka jadikan sebagai nama tahun.

Seperti tahun izin (sanatul idzni), karena ketika itu kaum Muslimin diizinkan Allah untuk berhijrah ke Madinah. Tahun perintah (sanatul amri), karena mereka mendapat perintah untuk memerangi orang Musyrik.

Tahun tamhish, artinya ampunan dosa. Di tahun ini Allah menurunkan firmanNya, ayat 141 surat Ali Imran, yang menjelaskan bahwa Allah mengampuni kesalahan para sahabat ketika Perang Uhud.

Tahun zilzal (ujian berat). Ketika itu, kaum Muslimin menghadapi berbagai cobaan ekonomi,  keamanan, krisis pangan. Karena perang Khandaq, tahun duka cita (a’mul huzni) tahun wafatnya Khadijah, istri Nabi SAW dan wafatnya Abu Thalib paman Beliau yang banyak membantu perjuangan dakwah Nabi Muhammad SAW.

Namun semua nama tahun itu belum resmi ditetapkan oleh Nabi Muhammad SAW sebagai tahun Islam dan kaum Muslimin. Hingga pada masa pemerintahan Umar bin Khattab persisnya di tahun ketiga dari kepemimpinannya beliau mendapat sepucuk surat dari Abu Musa al-Asy’ari, yang saat itu menjabat sebagai gubernur Bashrah.

Dalam surat itu, Abu Musa mengatakan: “Telah datang kepada kami beberapa surat dari amirul mukminin, sementara kami tidak tahu kapan kami harus menindaklanjutinya. Kami telah mempelajari satu surat yang ditulis pada bulan Sya’ban. Kami tidak tahu, surat itu Sya’ban tahun ini ataukah tahun kemarin.”

Umar mengumpulkan para sahabat,dan mengatakan : “Tetapkan tahun untuk kaum muslimin yang bisa mereka jadikan acuan.”

Ada usulan agar mengunakan tahun bangsa Romawi, Namun usulan ini dibantah. Karena tahun Romawi sudah terlalu tua. Kemudian Ali bin Abi Thalib mengusulkan hijrah Nabi SAW ke Madinah.

Setidaknya ada empat momen penting yang diusulkan; tahun kelahiran Nabi Muhammad SAW, tahun ketika diutus sebagai rasul, tahun ketika hijrah, dan tahun ketika Beliau wafat.

Setelah menjalani perdebatan alot maka jatuh pilihan pada hijrah Nabi Muhammad SAW sebagai Tahun Islam dengan alasan. Peristiwa hijrah merupakan peristiwa besar yang dialami oleh Nabi Muhammad SAW. Karena tanah kelahiran mereka ditindas, dianiaya, dan siksa dengan keji.

Peristiwa hijrah juga merupakan bukti ketulusan dan dedikasi kepada keimanan dan akidah. Mereka rela meninggalkan tanah kelahiran mereka, harta dan keluarga demi memenuhi panggilan Allah dan Rasul-Nya.

Lagi pula hijrah dari Makkah ke Madinah merupakan suatu kewajiban bagi setiap Muslim. Karena di Madinah merupakan tempat yang aman menyelamatkan iman dan mendapat sambutan yang baik dalam dakwah. Hijrah juga merupakan pembedaan antara hak dan batil, antara Mukmin dan kafir, antara syirik dan tauhid.

Selanjutnya hijrah tidak hanya difahami sebagi perpindahan dari satu tempat ke tempat lain, perubahan dari suatu keadaan dari keadaan yang lain. Hijrah juga merupakan pegerakan menuju keadaan yang lebih baik.

Nampaknya berhijrah bukan saja suatu keniscayaan bagi umat manusia belaka, alam di sekitar kita pun menghendaki agar melakukan hijrah dalam arti bergerak aktif. Lihatlah bagaimana Matahari jika tidak bergerak, manusia dan alam semesta akan murka kepadanya, bahan baku emas jika tidak dipisahkan dari lumpur yang membalutnya dia tidak akan bernilai.

Seekor singa jika tidak keluar dari sarangnya juga tidak akan mendapatkan makanan, kayu gaharu jika tida ditebang dari hutan tidak akan ketahuan wanginya. Aair di dalam bak jika tidak dialirkan dia akan menjadi kotor.

Demikan pula alam jagad raya tetap bergerak menjalankan tugasnya sebagai makhlukyang paling disiplin melaksanakan perintah Sang Penciptanya. Demikian sunnatullah di alam ini. Allah SWT berfirman:

Barang siapa berhijrah di jalan Allah, niscaya mereka mendapati di muka bumi tempat hirah yang luas dan rezeki yang lapang dan barang siapa yang keluar dari rumahnya dengan maksud hijrah Kepada Allah dan Rasulnya kemudian kematian menimpanya (sebelum sampai ke tempat yang dituju) maka sungguh telah dipastikan pahalanya di sisi Allah (QS. An-Nisaa’: 100).

Jejak rekam sejarah kehidupan manusia akan selalu dicatat oleh manusia itu sendiri. Sehingga semua jejak rekam perjalanan manusia diingat sepanjang zaman sampai berakhir dengan munculnya jejak rekam yang baru pula.

Untuk keabadian jejak rekam itu diberilah peristiwa yang telah ditorehkan di atas lembaran sejarah tersebut dengan nama tahun, nama abad sebagai ingatan kepada pelaku sejarah. Jadilah pelaku sejarah yang baik dalam mengisi waktu yang terlowong agar jejak rekam yang baik menjadi contoh bagi generasi mendatang. Wallahu ‘alamu bishshawab.    WASPADA

Wakil Ketua Dewan Fatwa Alwashliyah

  • Bagikan