Waspada
Waspada » Mayoritas Fuqaha, Zakat Fitrah Dengan Makanan Pokok
Al-bayan Headlines

Mayoritas Fuqaha, Zakat Fitrah Dengan Makanan Pokok

Oleh HM. Nasir, Lc., MA

Rasul SAW mewajibkan Zakat Fitrah di bulan Ramadhan satu sha’ (segantang) dari kurma, atau satu Sha’ dari gandum, atas setiap orang yang merdeka atau hamba laki-laki atau perempuan dari kaum Muslimin (Alhadis)

Perintah berzakat fitrah bersamaan dengan turunnya perintah puasa yaitu pada tahun ke 2 Hijriah dan kewajiban ini berlaku bagi seluruh kaum Muslimin, baik laki-laki atau perempuan, tua atau muda, hamba atau merdeka, yang berpuasa ataupun tidak puasa.

Sementara kewajiban berpuasa hanya dibebankan kepada orang-orang Islam yang mencukupi syarat yaitu Islam, mukallaf, sanggup, sehat dan muqim/tidak musafir. Sebagian ulama menamakan zakat fitrah ini dengan zakat fitri/zakat diri.

Karena zakat diri berlaku kepada semua individu Muslim, dan zakat fitrah berarti zakat yang diwajibkan karena telah melaksanakan ibadah puasa. Dengan kata lain setelah berbuka puasa dari satu bulan penuh diwajibkan mengeluarkan sebagian makanan pokok, sebagai penutup kekurangan pelaksanaan ibadah puasanya dari hal yang sia-sia atau yang dapat mengurangi pahala puasanya.

Di antara hikmah zakat fitrah,selain merupakan pajak diri ia juga merupakan penutup kesalahan yang dilakukan para shoimin semasa berpuasa baik yang disengaja atupun yang tidak disengaja.

Ibaratkan sujud sahwi dalam shalat dapat menutupi kesalahan dan kealpaan yang dalam melaksanakan rukun dan sunat muakkad dalam shalat. Atau bisa juga seperti hikmah shalat sunat rawatib untuk menutupi kekurangan shalat wajib yang telah dilaksanakan.

Zakat Fitrah tidak sama dengan zakat harta, zakat perniagaan, zakat pertanian, zakat ternak, yang memiliki nishab/kadar tertentu dan haul/cukup setahun. Zakat fitrah tidak memiliki nishab dan haul.

Kalaupun dikatakan nishab ialah, memiliki makanan pokok yang lebih untuk kebutuhan satu hari satu malam hari raya Aidil Fitri. Bila kriteria ini dipenuhi maka wajib mengeluarkan zakat fitrah.

Dengan demikian, seseorang yang berhak menerima zakat fitrah yang sudah lebih dari kebutuhan yang diperlukan untuk satu Syawwal. Dalam waktu yang sama sudah berkewajiban pula untuk berzakat fitrah untuk dirinya dan orang yang dalam tanggungannya dengan ketentuan dikeluarkan sebelum selesai melaksanakan shalat Idul Fitri.

Diriwayatkan dari jama’ah dari Abdullah bin Umar ra. bahwa Rasul SAW mewajibkan Zakat Fitrah di bulan Ramadhan satu sha’ (segantang) dari kurma, atau satu Sha’ dari gandum, atas setiap orang yang merdeka atau hamba laki-laki atau perempuan dari kaum Muslimin. Dan pada riwayat Bukhari ada tambahan, atas anak kecil atau orang tua, dan pada riwayat Abu Hurairah ada tambahan atas orang kaya dan orang fakir.

Hadis di atas sebagai dasar hukum, bahwa Zakat Fitrah yang wajib dikeluarkan adalah berupa makanan pokok, seperti kurma, gandum, beras, jagung dan lain-lain, sesuai dengan makanan pokok yang dikonsumsi di negeri tertentu. Yang dimaksud dengan makanan pokok adalah makanan yang dikonsumsi untuk kelangsungan hidup manusia di negeri itu baik pada musim senang ataupun pada musim sulit (Fiqh Zakat, al-Qardhawi 2 : 945).

Negeri kita ini rata-rata makanan pokoknya adalah beras, dan disesuaikan pula dengan jenis beras dan mutu yang dikonsumsi dengan zakat Fitrah yang dikeluarkan. Sehingga tidak ada perbedaan antara beras yang dikonsumsi dengan beras yang dizakati.

Membayar zakat fitrah berupa makanan pokok, disepakati kesahihannya oleh jumhur fuqaha/mayoritas ulama fikih. Baik dari kalangan Malikiah, Syafiiah, dan Hanabilah karena berdasarkan hadits di atas.

Tidak dibolehkan menyalahi sunnah yang telah ditentukan oleh Rasul SAW. Lagi pula Rasul SAW telah menetapkan hak mustahik/orang yang berhak menerima zakat dalam bentuk makanan pokok.

Menggesernya dari makanan pokok ke dalam bentuk uang, seharusnya mendapat persetujuan dari mustahik/orang-orang yang berhak dan itu sulit dilakukan. Karena si muzakki/orang yang mengeluarkan zakat, tidak akan menanyakan persetujuan asnaf yang delapan sebelum menunaikan zakat fitrahnya. Dan si penerima zakat itupun belum ditentukan pribadi-pribadinya.

Masih menurut jumhur ulama, bahwa zakat fitrah adalah ta’abudiah bukan ta’aqquliyah. Ta’abudiah sifatnya tauqifiah/harus sesuai teks, tidak boleh menggantinya dengan yang lain.

Menurut mazhab Hanafi, Umar bin Abdul Aziz, Hasan al Basri, Abu Ishak, Atho’ dan lain-lain, mereka membolehkan berzakat fitrah dengan uang. Berdasarkan hadis nabi SAW: Aghnuhum fi hazal yau: cukupkan mereka (fakir miskin) pada hari ini/hari raya Idul Fitri.

Mencukupkan kebutuhan fakir miskin pada hari raya tidak mesti dengan makanan pokok. Bisa juga dengan uang bahkan dengan uang lebih baik, karena dapat digunakannya untuk makan dan lain-lain.

Lagi pula para sahabat nabi SAW ada yang membayar zakat fitrah senilai setengah sha’ dari qamh (gandum yang belum digiling). Karena senilai dengan satu sha’ kurma dan syair (gandum yang sudah dihaluskan).

Ini berarti pernah dilakukan para Sahabat berzakat fitrah senilai dengan satu sha’, meskipun alat penilai pada masa itu bukan dengan mata uang. Apakah mata uang belum ada pada masa Rasul SAW? Sehingga beliau mencontohkan langsung berzakat dengan uang.

Memang, mata uang sudah ada beredar pada masa Rasul SAW dalam bentuk dinar/emas dirham/perak. Meskipun itu bukan mata uang Arab, tapi adalah mata uang Romawi dan Parsi.

Karena jarangnya beredar mata uang tersebut di kalangan Arab, dan sulit ditemukan maka Rasul SAW tidak menggunakan mata uang sebagai zakat fitrah, dikhawatirkan akan menyulitkan kaum Muslimin (lihat Fikih Zakat Yusuf Qaradawi 2:949).

Masih menurut Qaradawi, bahwa Rasul SAW. tidak mencontohkan berzakat dengan uang karena nilai mata uang berubah-ubah sesuai dengan perubahan masa. Lain halnya berzakat dengan takaran satu sha’ gantang makanan pokok tidak akan berobah untuk selama-lamanya.

Perbedaan pendapat antara jumhur dan Hanafiah tidak sebatas antara makanan pokok dan nilainya saja, tapi mereka juga berbeda pendapat tentang ukuran satu sha’ yang digunakan. Pada masa Rasul SAW bila ditakar dengan takaran internasional yaitu kilogram.

Menurut pendapat jumhur ulama (Malikiah, Syafi’iyah, Hanabilah) 1 sha’ = 2751 gram atau 2,75 kg. Berdasarkan riwayat Abi Said Al Khudry, dan hadis riwayat Daar Quthni dari Malik bin Anas.

Sedangkan menurut mazhab Hanafi, 1 sha’ sama dengan 3800 gram atau 3,8 kg. Berdasarkan penafsiran hadis Tsa’labah bin Shair al-Uzry, dan demikian pula sha’ yang dimiliki oleh Umar ra (lihat Fiqh Islam wa’adilatuhu, wahbah Az-Zuhaily 2 : 909).

Perbedaan pendapat antara jumhur dan Hanafiah baik dari jenis yang dizakati atau nilainya, ataupun ukurannya, tidak dapat dihindari karena sulitnya mencari ukuran sha’ yang dipakai oleh Rasul SAW. Makanan pokok pada masa Rasul SAW dan berzakat dengan beras, belum juga dikatakan mengikuti Rasul SAW dengan sepenuhnya.

Karena Rasul berzakat dengan kurma, gandum, susu kering, tentu akan menimbulkan kesulitan bagi kaum Muslimin di negeri ini untuk mengikutinya. Sebab itu berzakat fitrah dengan makanan pokok berupa beras dapat dikategorikan berzakat dengan nilai, dengan pengertian makanan pokok pada zaman Nabi SAW dinilai dengan makanan pokok kita orang Indonesia.

Lalu zakat fitrah dengan beras dinilai lagi dengan uang, berarti zakat fitrah dengan uang terjadi dua kali penilaian. Pertama, makanan pokok Nabi SAW dinilai dengan beras. Kedua, zakat dengan beras dinilai lagi dengan uang rupiah.

Kedua pendapat di atas tidak ada larangan untuk mengamalkannya, sama ada berzakat fitrah dengan 2,75 kg beras atau dengan 3,8 kg beras. Atau berzakat fitrah dengan uang senilai 3,8 kg beras, yang menjadi permasalahan adalah berzakat fitrah dengan uang senilai 2,75 kg beras.

Pendapat yang terakhir ini tidak dibenarkan mayoritas fukaha karena persoalan ini dipandang batal oleh kedua mazhab di atas. Mazhab jumhur/mayoritas ulama memandang tidak sah zakat fitrahnya karena memang tidak dibolehkan berzakat dengan uang.

Sedangkan menurut mazhab Hanafi dipandang tidak sah juga karena tidak cukup nilai yang dizakati, didalam istilah fiqih persoalan ini disebut talfiq. Semoga ibadah kita diterima Allah SWT. Amin. Wallahua’lam bishshawab.    WASPADA

Wakil Ketua Dewan Fatwa Al Washliyah

 

Berita Terkait

Memuat....
UA-144743578-2