Waspada
Waspada » Manajemen Puasa Ramadhan Dalam Pandemi Covid-19
Al-bayan Headlines

Manajemen Puasa Ramadhan Dalam Pandemi Covid-19

Oleh Drs M. Ridwan Hisda Aljangkawi, MPd

  Manajemen Puasa Ramadhan Dalam Pandemi Covid-19. Waspada/Ilustrasi
  Manajemen Puasa Ramadhan Dalam Pandemi Covid-19. Waspada/Ilustrasi

Wahai jiwajiwa yang (mengaku) beriman, diperintahkan kepada kalian berpuasa, seperti yang telah diperintahkan kepada jiwajiwa sebelum kalian, mudahmudahan kalian menjadi jiwajiwa yang bertakwa” (QS. 2/Al-Baqarah: 183)

Bila kita perhatikan dalam Alquran tentang perintah beribadah, hanya ada dua perintah saja yang dilandasi dengan seruan ya aiyuhallazina amanu yaitu pada perintah shalat Jum’at dan perintah puasa.

Tentang shalat Jum’at pada surah AlJumu’ah ayat 9 yang artinya: Wahai jiwajiwa yang beriman jika datang seruan untuk shalat Jum’at bersegeralah mencari ridha Allah dan tinggalkan jual beli.

Demikian juga dalam perintah berpuasa: Wahai jiwajiwa yang beriman diperintahkan kepada kalian berpuasa. Sedangkan perintah haji dengan seruan ya aiyuhan Nas (wahai manusia), seolah berhaji itu diwajibkan kepada seluruh manusia. Barangkali agar semua umat di dunia ini apapun agamanya hendaknya perlu menjenguk Ka’bah.

Maksud yang tersirat dalam perintah shalat Jum’at ialah hanya jiwa-jiwa yang berimanlah yang mampu melaksanakan shalat Jum’at dengan sungguh-sungguh dan benar. Sedangkan yang lainnya hanya sekedar menunaikan kewajibannya saja terlepas benar atau tidak.

Begitu juga dalam berpuasa hanya jiwa-jiwa yang berimanlah yang mampu berpuasa sungguh-sungguh dan benar. Jiwa-jiwa yang lainnya hanya sekedar menunaikan kewajibannya saja terlepas diterima atau tidak.

Bagi jiwa-jiwa yang sadar, barangkali menangis pilu bila mau merenungkan seruan ya aiyuhallazina amanu. Mereka merasakan apakah mereka termasuk jiwa-jiwa yang diseru seperti itu atau tidak. Sehingga hatinya menjerit, wahai Allah semoga saja saya ikut dalam seruan tersebut.

Dengan demikian mereka full time dan segenap jiwanya melakukan dua perintah tersebut. Agar Allah Sang Pemilik jiwa berkenan mempertimbangkannya minimal walaupun tidak diterima dua ibadah tersebut secara keseluruhan.

Kemudian baik dalam ibadah shalat maupun ibadah puasa, tidak disebutkan berapa pahalanya. Dalam ibadah shalat bunyi ayatnya: inna shalata tanha ‘anilfahsyai wal mungkari, yang artinya: sesungguhnya shalat itu akan mencegah diri (jiwa) dari perbuatan keji dan mungkar.

Sedangkan puasa akan memproleh predikat takwa bagi yang dapat melakukannya dengan sungguh-sungguh dan benar. Tetapi jangan lupa bila seseorang (satu jiwa) bila telah mendapat predikat takwa, maka jiwa tersebut akan dimasukkan Allah kedalam Surga – Nya dengan tanpa dihisab (Lihat surah Ali-Imran: 133 dan surah Az-Zumar: 73).

Karena tu, kita tidak punya argumentasi apapun untuk tidak berpuasa. Karena kita khawatir akan terjangkit Covid-19. Tidak kita temukan ayat Alquran dan Alhadis yang membolehkan jika positip virus, baru boleh tidak berpuasa untuk supaya cepat pemulihannya. Ayatnya sudah sangat jelas: Jika kalian dalam keadaan sakit atau sedang dalam perjalanan (musafir), maka boleh mereka berbuka dan dapat menggantikannya pada hari – hari yang lain (QS. Al-Baqarah: 184).

Bagaimana pun situasi baik dalam keadaan wabah penyakit yang melanda Bumi Allah ini, tidak kita ketemukan keringanan untuk dengan sengaja tidak berpuasa karena khawatir wabah tersebut. Namun bila seseorang sudah nyata dan positip malah berpuasa, menjadi haram hukumnya.

Karena tubuh dalam keadaan sakit yang payah sangat banyak membutuhkan nutrisi dan berbagai elemen lain untuk percepatan penyembuhan suatu penyakit yang sedang dideritanya. Apalagi vonis ahli kesehatan atau dokter yang meminta paisen untuk tidak berpuasa selama dalam perawatan.

Dalam keadaan seperti itu, maka wajib meng-qadha-nya setelah yang bersangkutan sembuh. Namun bila dikhawatirkan penyembuhannya agak lama, maka boleh memberi fidyah seperti yang dilansir dalam lanjutan surah Al-Baqarah 184 yang artinya: Jika kalian sanat payah untuk berpuasa, maka berfidyahlah dengan memberi maka satu hari kepada yang miskin (untuk satu hari puasa).

Pilar Ibadah Bulan Ramadhan

Sekalipun dalam situasi wabah, namun empat pilar ibadah terpadu di bulan Ramadhan tetap mesti dilaksanakan. Pertama, puasa Ramadhan di siang hari, dengan puasa yang berkualitas.

Diriwayatkan oleh Abu Daud dan dishahihkan oleh Bukhari dan Muslim yang artinya : “Barang siapa yang berpuasa di bulan Ramadhan dengan penuh keimanan dan penuh perhitungan, niscaya Alah akan ampunkan dosanya yang telah lalu”.

Tentunya dosa yang diampuni Allah adalah dosa-dosa kecil sebanyak apapun. Namun jika ada dosa besar, maka tidak ada jalan lain selain bertobat dengan tobat yang sesungguh-sungguhnya.

Bagaimana yang dimaksud dengan puasa yang berkualitas. Imam Al Ghazali dalam Kitabnya Ihya ‘Ulumuddin membagi puasa menjadi tiga peringkat. Pertama puasa ‘awam (puasa umum), sekedar menahan lapar dan haus sejak imsak sampai berbuka.

Rasul SAW menyampaikan dalam Hadis mutawatir, yang artinya: “Begitu banyak orang yang berpusa, namun tidak diperoleh dari puasanya itu selain dari lapar dan haus”.

Kedua, puasa khusus. Orang berpuasa yang mampu mempuasakan seluruh anggota tubuhnya, yaitu lidah, mata dan telinganya, tangan dan kakinya, lebih-lebih lagi pikiran dan hatinya. Lidahnya tidak sembarang omong, sehingga Rasul bersada:

“Jika kamu beriman dengan Allah dan hari yang akhir, katakanlah yang baikbaik atau diam saja”. Tangan dan kakinya tidak melakukan hal-hal yang bisa membatalkan pahala puasanya. Misalnya menggunakan tangan untuk mencuri, menjahili teman dan apapun yang menyebabkan orang lain teraniaya. Kakinya tidak melangkah ke tempat maksiat .

Mata tidak mau melihat sesuatu yang tak pantas. Telinga tidak menguping pembicaraan rahasia antara orang yang merahasiakan sesuatu. Misalnya rahasiya suami dan isteri dalam rumah tangga tetangga kita. Pikiran kita harus dibersihkan untuk tidak memikirkan hal yang tidak baik.

Mempuasakan hati kita untuk tidak berprilaku dengki, khianat, melukai perasaan dan hati orang, baik sengaja ataupun tidak sengaja. Jika terlanjur hati orang lain terusik disebabkan hati kita su’uzzhan kepada orang lain, segera meminta maaf, sehingga hati benar-benar terjaga.

Ketiga, puasa peringkat tertinggi disebut puasa khususil khusus. Artinya puasa yang lebih khusus lagi, yaitu puasa para Nabi dan Rasul serta orang-orang saleh. Mereka berpuasa dengan tidak mengharapkan lagi pahala di sisi Allah SWT, tetapi hanya mengharapkan ridha Allah saja.

Orang-orang yang beramal seperti itu, bukan hanya puasa. Orang-orang seperti inilah yang bisa berjumpa dengan Allah di dalam Suraga. Karena tidak semua penduduk Surga bisa berjumpa dengan Allah kecuali hamaba Allah yang beramal dengan mengharap ridha-Nya.

Dalam sebuah hadis yang muatawatir, nikmat tertinggi dalam Surga ialah ketika seseorang berjumpa dengan Allah SWT. Bisa lupa makan dan minum juga lupa untuk tidur sangkin indahnya wajah Allah SWT.  Wallah A’lam Bishshawab.

Dosen Fak. Tarbiyah IAIN Lhokseumawe

           

Berita Terkait

Memuat....
UA-144743578-2