Ma Ta'budu Mim Bakdi

Ma Ta’budu Mim Bakdi

  • Bagikan

…Apa yang kamu sembah sepeninggalku?” mereka menjawab, “Kami akan menyembah Tuhanmu dan Tuhan nenek moyangmu, yaitu Ibrahim, Ismail, dan Ishak, (yaitu) Tuhan Yang Maha Esa dan kami (hanya berserah diri kepada-Nya (QS. Al Baqarah: 133)

Anak sebagai amanah Ilahi harus diupayakan menjadi insan kamil. Dunia tarbiyah (pendidikan) merupakan aspek terpenting dalam perkembangan manusia di muka bumi termasuk mendidik anak sebagai investasi akhirat dan agama serta negeri ini.

Manusia sebagai khalifah setidaknya ada dua amanah yang diemban. Pertama, sebagai ‘abd Allah (Hamba Allah) yang mempunyai serentetan tugas dan amanah yang menjadi perintah Tuhan-Nya. Kedua, manusia sebagai Khalifah Allah (pengganti atau wakil Allah) memilliki serangkaian pekerjaan.

Dalam dunia pendidikan, meraih ilmu dan berakhlak baik bukanlah hal mudah namun membutuhkan kesabaran dan berbagai syarat. Ilmu merupakan Nurullah (cahaya Ilahi) makanya saat mendapatkan ilmu baru dalam belajarnya, ini merupakan anugerah Allah SWT. Kita tidak boleh berbangga dan merasa ilmu sudah cukup. Pentingnya adab menuntut ilmu sehingga ilmu kita berkah. Dalam riwayat Imam Malik ra pernah berkata kepada seorang pemuda Quraisy: “Pelajarilah adab sebelum mempelajari suatu ilmu”.

Riwayat ini menjelaskan betapa pentingnya adab sebelum mempelajari ilmu. Antara adab dan ilmu terdapat hubungan sangat erat, yaitu nilai-nilai. Belajar dan mencari ilmu terus-menerus tapi tidak dengan belajar adab. Berarti ia hanya mendapatkan seperempat dari kenikmatan.

Nawas Ibnu Sam’an ra pernah bertanya kepada Rasulullah SAW tentang kebaikan dan kejahatan. Beliau SAW bersabda: “Kebaikan ialah akhlak yang baik dan kejahatan ialah sesuatu yang tercetus di dadamu dan engkau tidak suka bila orang lain mengetahuinya” (HR. Imam Muslim). Dalam hadis disebutkan berbunyi: “Sesungguhnya aku diutus untuk menyempurnakan akhlak yang baik”.

Ketika seseorang memiliki ilmu tanpa akhlak, maka akan lupa diri, lupa akan akhlak Rasulullah SAW. Bahkan lupa bahwa dia adalah makhluk yang sangat lemah dan bodoh. Kalaulah merasa punya ilmu, tentulah Allah tidak memberinya kecuali hanya secuil (sangat sedikit).

Itulah kenapa Abdullah Ibnu Mubarak yang sangat dalam ilmunya mengatakan: “Aku belajar adab 30 tahun dan aku mencari ilmu 20 tahun.”

Imam Malik bin Anas berkata: “Saat ibuku memasangkan imamah untukku, beliau mengatakan, Pergilah engkau ke Rabi’ah, dan belajarlah tentang adab sebelum ilmu”.

“Anakmu bukanlah anakmu,” kata Kahlil Gibran. Ujaran ihwal anak-anak bukan milik orang tua, namun “milik kehidupan”, menjadi penting karena orang tua sering gagap memahami mengapa sikap anak-anak di dalam rumah bisa sangat berbeda dengan di luar rumah. Kegagapan ini membuat orang tua sering kerepotan memahami anaknya sendiri.

Mari jadikan peringatan Hari Anak Nasional 2021 sebagai kesempatan untuk memantik kembali semangat kita untuk serentak bergerak mewujudkan sosok generasi yang handal IPTEK (Ilmu Pengetahuan dan Teknologi) juga Imtak (Iman dan Takwa). Kita sebagai orang tua jangan risau dengan “apa yang akan dimakan anak pasca kita telah tiada” (ma takkulu mim bakdi).

Namun ingatlah pesan dan nasehat nabi Yacub as kepada putranya: ma takbudu mim bakdi (Apa yang engkau sembah ketika aku telah tiada).Wallahu Muwaffiq Ila Aqwamith Thariq.  WASPADA

Dosen IAI Al-Aziziyah Samalanga dan Guru Dayah MUDI Mesjid Raya Samalanga serta Ketua Ansor Pidie Jaya

  • Bagikan