Legacy Qarun & Sulaiman As
Oleh Islahuddin Panggabean

  • Bagikan

“Ini semata adalah karunia dari Rabbku, untuk menguji aku apakah aku akan bersyukur atau justru kufur. Dan barangsiapa bersyukur, maka sesungguhnya dia tak lain bersyukur bagi kebaikan dirinya. Dan barangsiapa yang ingkar, maka sesungguhnya Rabbku Maha kaya lagi Mahamulia” (QS An-Naml: 40)

Salah satu ujian terbesar hidup bagi manusia adalah harta. Jika mengelola dengan benar, manusia akan menjadi tuan bagi harta, dan bukan harta yang menjadi tuannya.

Manusia bisa dekat dengan Tuhan jika mengelola harta dengan baik dan benar. Namun, jika dengan cara yang salah, harta akan menjauhkan diri dari Tuhan yang memberikan kelimpahan rezeki. Jadi, harta adalah karunia dan sekaligus ujian dalam kehidupan.

Salah satu nama yang menyejarah dalam al-Quran khususnya tentang harta yang berlimpah ialah Qarun. Lelaki dari kaum Musa yang pebendaharaan hartanya sangat banyak, bahkan kunci gudang brangkasnya pun tidak sanggup beberapa pria perkasa. Begitu gambaran kekayaannya.

Dikisahkan pada mulanya, Qarun miskin, banyak anak tetapi rajin beribadah. Kemudian Nabi Musa mendoakan dan mengajarkannya ilmu dan keahlian. Sehingga ia pun memiliki usaha dan akhirnya menjadi kaya raya. Tetapi kekayaan ternyata mengubah perilakunya.

Dia tidak bersyukur, tetapi malah futur, luntur dan lama-lama menjadi kufur. Ia meninggalkan ibadah dan mulai memamerkan kekayaannya. Ia mulai memperlihatkan sifat-sifat buruknya berupa tamak dan aniaya. Mengenai hartanya itu, Qarun berkata yang direkam Quran, “Qarun berkata, ‘Hanyasaja harta itu diberikan kepadaku, disebabkan atas ilmu yang ada padauk” (Qs Al-Qashash: 78).

Dalam Tafsir Ibnu Katsir dijelaskan seakan Qarun berkata, “Seandainya bukan karena keridhaan Allah padaku dan pengetahuan-Nya tentang keutamaanku, niscaya Dia takkan memberikan harta ini padaku.” Begitupula Imam Qatadah menyatakan bahwa maksud “ilmu yang ada padauk” adalah “karena kebaikanku”.

Pernyataan Qarun tersebut menggambarkan anggapannya bahwa dikarunia harta adalah karena kemuliaan diri. Dia menyangka bahwa bergelimang harta dunia adalah suatu tanda kecintaan Allah pada makhluk-Nya.

Banyak orang yang terpengaruh oleh ucapan Qarun dan mendamba-damba ingin seperti Qarun mempunyai banyak harta. Di samping itu, sebagian orang juga memperingatkan Qarun agar tidak jumawa sebab telah banyak yang lebih kuat dan lebih kaya namun akhirnya binasa akibat dosa.

Singkat cerita, Qarun dan istananya dibenamkan, masyarakat yang semula terpengaruh oleh cara pandang Qarun akhirnya insaf. “Aduhai benarlah Allah melapangkan rezeki bagi siapapun yang dikehendaki-Nya di antara hamba-Nya dan menyempitkannya. Kalau saja Allah tidak melimpahkan karunia petunjuk-Nya atas kita, benar-benar kita telah dibenamkannya pula…” (QS Al-Qashash: 82).

Kisah pembenaman harta Qarun ini yang menjadi awal penyebutan harta karun bagi harta yang ditemukan tertimbun. Itulah warisan atau legacy dari Qarun.

Berbeda dari Qarun, mari sejenak mengingat Nabi Sulaiman As. Sebuah nama yang sangat mahsyur akan kekayaan dan kemaharajaannya. Bagaimana kerajaannya mendunia mencakup jin dan manusia, aneka satwa serta angin dan juga negeri Saba’.

Perintahnya ditaati semua yang mendengar. Ia dikaruniai kerajaan terbesar sepanjang sejarah manusia. Betapapun demikian, Nabi Sulaiman tak jumawa. Nabi Sulaiman malah mewariskan kesyukuran, kesadaran dan kehati-hatian. Ini terlihat dari ucapannya yang direkam Quran, dalam surah An-Naml: 40 di awal tulisan.

Salah satu perbedaan yang tampak antara Qarun dan Nabi Sulaiman adalah perbedaan mereka dalam menyikapi harta dan karunia yang Allah berikan. Qarun merasa bahwa kekayaan yang ia punya karena kebaikannya dan juga karena cinta Allah padanya.

Sedangkan Nabi Sulaiman menganggap bahwa segala yang ada padanya karunia Allah semata serta sebagai ujian kesyukuran yang tak pantas untuk disombongkan.

Dalam Quran, tepatnya surah al-Fajr Allah mencela orang yang diberi karunia mengatakan, “Tuhanku memuliakanku” dan saat disempitkan rezeki malah mengeluh “Tuhanku menghinakanku”. Ayat 15-16 ini sesungguhnya mencela rusaknya cara pandang sebagian manusia yang menjadikan kekayaan sebagai tolak ukur kemuliaan.

Nabi Sulaiman As digelar sebagai sebaik-baik hamba (Ni’mal ‘Abdu) disebabkan segala karunia yang ia diterima disadari, disyukuri dan diwaspadai hingga ia amat taat pada Tuhannya. “Dan Kami karuniakan kepada Dawud, putranya Sulaiman. Dialah sebaik-baik hamba. Sesungguhnya dia amat taat kepada Tuhannya” (QS Shaad :30).

Nabi SAW juga bersabda, “Ni’mal maalish shaalih li rajulish shaalih”. “Sebaik-baik harta yang baik, di tangan lelaki yang baik. Akan tetapi, Kekayaan adalah pujian yang bersyarat”.

Syaratnya ialah jika empunya memiliki sifat mulia serta memandangnya sebagai beban ujian. Kekayaan dan keberlimpahan menjadi kebaikan jika dijadikan sebagai alat untuk beramal di dunia. Sebab semua kemuliaan hakikatnya bersandar pada nilai ketakwaan.

Bahkan dalam suatu riwayat Nabi pernah mengkhawatirkan suatu masa tatkala dunia dibukakan, lalu manusia hidup berlimpah kekayaan. Ketika diceritakan para Sahabat mengira masa itu lebih baik. Nabi pun menjawab bahwa kalian (para sahabat) jauh lebih baik daripada ummat pada hari itu. Begitulah kekhawatiran Baginda terhadap berlimpahnya harta yang kerap tidak dibarengi dengan taat dan syukur.

Al-Quran banyak mengandung kisah berhikmah termasuk Qarun dan Nabi Sulaiman yang berkebalikan. Qarun merasa harta melimpah yang ia punya karena dirinya mulia. Ia pun malah semakin jauh dari Allah bahkan kufur pada Allah SWT.

Sedangkan Legacy Sulaiman AS ialah kesadaran bahwa segala karunia Allah harus disyukuri dan harus membuat diri lebih dekat lagi pada-Nya. Wallahua’lam.( Pengurus Matha’ul Anwar Sumatera Utara)

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *