Kun Fayakun Oleh Islahuddin Panggabean

  • Bagikan

“Sesungguhnya firman Kami terhadap sesuatu apabila Kami menghendakinya, Kami hanya mengatakan kepadanya Kun! (Jadilah!) Fayakun (Maka jadilah sesuatu itu)” (QS An-Nahl: 40)

Menurut sebab turunnya, ayat tersebut mersepon pembangkangan dan pengingkaran kaum kafir, Allah SWT menurunkan ayat yang menjelaskan kekuasan-Nya menciptakan langit dan bumi serta membangkitkan makhluk yang telah mati.

Dalam proses penciptaan dan pembangkitan, Allah SWT tidak perlu alat atau materi, tetapi cukup dengan perintah Kun Fayakun.

Dari ayat di atas, tersebut jelas bahwa Allah memiliki kekuasaan yang mutlak terhadap segala sesuatu. Kemutlakan kekuasaan Allah tergambar dengan begitu mudahnya penciptaan di semesta ini yang dilakukan oleh Allah SWT, yakni cukup dengan menyatakan ‘Kun!’ kemudian alam ini tergelar.

Sayyd Tantawi menjelaskan makna kun fayakun menurut para ulama. Sebagian ulama berpendapat bahwa kun fayakun merupakan kata yang berfungsi sebagai alegori atau permisalan (isti’arah tamsiliyah). Artinya, Allah SWT memiliki kuasa untuk menciptakan segala sesuatu tanpa ada halangan.

Sebagian ulama memahaminya secara harfiah bahwa skenario Allah dalam penciptaan segala sesuatu dilakukan dengan mengeluarkan instruksi “jadilah”. Instruksi penciptaan telah diucapkan dahulu kala pada zaman azali.

Frasa “Kun Fayakun” juga terdapat di beberapa ayat lain seperti QS Al-Baqarah ayat 117. “Allah Pencipta langit dan bumi, dan bila Dia berkehendak (untuk menciptakan) sesuatu, maka (cukuplah) Dia hanya mengatakan kepadanya: “Jadilah!” Lalu jadilah ia.”

Selain itu, terdapat dalam QS Ali Imran ayat 47. “Maryam berkata: “Ya Tuhanku, betapa mungkin aku mempunyai anak, padahal aku belum pernah disentuh oleh seorang laki-lakipun”.

Allah berfirman (dengan perantaraan Jibril): “Demikianlah Allah menciptakan apa yang dikehendaki-Nya. Apabila Allah berkehendak menetapkan sesuatu, maka Allah hanya cukup berkata kepadanya: “Jadilah”, lalu jadilah dia.”

Di dalam ayat lain, dikemukakan “Datanglah kamu berdua menurut perintah-Ku dengan patuh atau terpaksa” (QS 41:11). Itulah gambaran alam dan seisinya menaati Allah “secara otomatis” dan segala sesuatu memuji Allah.

Ayat Kun Fayakun sejatinya menunjukkan kekuasaan perintah (Amr) Allah yang tidak butuh prasyarat dalam penciptaan-Nya.

Jika Allah mau, cukup bagi-Nya hanya berkata “Jadi!” maka “tergelarlah” seluruh keinginan-Nya itu. Semuanya terjadi begitu saja dan begitu mudah, suatu gambaran mengenai kemahakuasaan-Nya yang mutlak.

Ungkapan kun fayakun semakna dengan ungkapan lain dalam Al-Quran yang menunjukkan kemudahan dan kesengsaraan pengerjaannya seperti wa maa amrunaa illa wahidatun kalamhin bil basar (dan perintah Kami hanyalah satu perkataan seperti kejapan mata).

Atau maa khalqukum wa laa ba’sukum illa kanafsin wahidah (tidaklah Allah menciptakan dan membangkitkan kamu dari kubur itu melainkan hanyalah seperti menciptakan dan membangkitkan satu jiwa saja).

Kalimat Kun Fayakun di sisi lain, membuat kaum beriman terus berusaha tanpa pernah merasa putus asa. Bila semuanya ada dalam keputusan Allah, semua penghalang dari makhluk-Nya tak dapat menggentarkan niat kebaikan kaum beriman.

Tugas kaum beriman adalah terus berusaha dan menyesuaikan dirinya dengan kehendak (iradah) Allah, dan kesesuaian ini diyakini akan melahirkan kun fayakun dalam aspek kehidupan ini.

Meski demikian, Al-Quran juga memuat informasi bahwa penciptaan semesta ini berlangsung selama “enam masa”. Firman Allah SWT: “Sesungguhnya Tuhan kamu ialah Allah yang telah menciptakan langit dan bumi dalam enam masa, lalu Dia bersemayam di atas ‘Arsy…” (QS A’raaf: 54). Informasi ini terkesan bertolak belakang dengan ayat di atas.

Di satu sisi, ada kun fayakun yang bermakna penciptaan mutlak akan tetapi, di sisi lain disebutkan adanya waktu yang dibutuhkan dalam penciptaan alam semesta (enam masa).

Para mufasir pun menjelaskan bahwa dalam iradah Allah, semuanya berlangsung serentak sebagaimana konsep Kun Fayakun. Namun Allah juga mengajarkan sebuah hukum alam yakni proses kepada manusia.

Akan tetapi dalam sejarah juga terlihat bahwa Allah dengan kuasa-Nya melewati sebuah hukum alam, sepertu tongkat Nabi Musa segera berubah menjadi ular, laut dapat membelah secara seketika, dan sejumlah mukjizat para nabi lain.

Dengan frasa Kun Fayakun, orang beriman dapat mengambil hikmah bahwa sebagai hamba yang lemah, seyogianya kita meyakini keagungan dan kekuasaan Allah SWT yang telag menciptakan langit bumi serta segala isinya. Ini menuntun manusia agar dengan rendah hati berserah diri kepada Allah Yang Mahakuasa.

Kun Fayakun juga memberi keyakinan bahwa bagi Allah tak ada yang mustahil, sementara manusia punya keterbatasan. Keterbasan diri manusia dapat diatasi bila menyesuaikan dirinya dengan kehendak Allah.

Kisah keberhasilan pada nabi dan rasul menunjukkan kemampuan manusia mengecap kun fayakun itu. Manusia yang terbatas akan merasakan ketakterbatasan, jika ia menyatukan diri dengan iradah-Nya.

Kun Fayakun adalah sebuah frasa yang menunjukkan kekuasan Allah yang mutlak. Selain itu, bagi kaum beriman frasa itu juga kerap menjadi simbol optimisme dalam menjalani kehidupan. Tidak ada yang dapat menghalangi kehendak Allah. Wallahua’lam.

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *