Memaafkan Tetangga

Memaafkan Tetangga
Oleh Dr Nada Sukri Pane

  • Bagikan

“Jibril selalu berwasiat kepadaku agar memenuhi hak tetangga sehingga aku mengira tetangga akan menjadi ahli waris” (HR. Buhari, Muslim, Abu Daud, Ibnu Majah, dan Tirmizi)

Imam Abu Hanifah berpendapat bahwa disebut tetangga jika berdampingan atau menempel. Sedangkan ulama Hanafiyah lainnya yaitu Abu Yusuf dan Muhammad berpendapat, tetangga itu yang berdampingan atau dalam lingkungan satu masjid.

Definisi terakhir ini adalah definisi syar’i sesuai dengan pendapat banyak ulama. Menurut KKBI tetangga adalah orang rumahnya bersebelahan atau jiran.

Jangan pernah membenci tetangga. Karena merekalah bisa jadi orang yang pertama menolong Anda. Diriwayatkan dari Abu Syuraih RA, Rasulullah SAW pernah bersabda, “Demi Allah, dia tidak beriman. Demi Allah, dia tidak beriman. Demi Allah, dia tidak beriman.”

Sahabat lalu bertanya, ‘Siapa ya Rasulullah?’ Beliau bersabda, “Orang yang membuat tetangganya merasa tidak aman dari kejahatannya” (HR. Bukhari).

Seorang hamba yang baik senantiasa mengabdi kepada Allah dan berbuat baik kepada manusia, termasuk tetangga. Karena itu, Rasul memerintahkan Abu Dzar (dan istrinya) agar saat memasak memperbanyak kuahnya sehingga tetangga dapat ikut merasakannya.

Rasul pun menyatakan tidak beriman seseorang yang tidur dalam keadaan kenyang sementara tetangganya kelaparan (HR. Bukhari).

Dalam bertetangga, hendaklah kita menjaga kerukunan, saling menghormati dan menghargai satu sama lain. Lingkungan bertetangga yang harmonis, pastinya akan meningkatkan kualitas hidup kita.

Walaupun tidak memiliki hubungan darah tetapi hendaklah kita bertetangga saling menjaga dan memperhatikan satu sama lain. Begitu pentingnya berbuat baik kepada tetangga seperti halnya kita baik kepada keluarga.

Jika berbuah manggamu di halaman, maka tetangga jangan tak dapatan. Karena “Tetangga yang buruk adalah kemalangan, sama seperti tetangga yang baik adalah berkah yang besar” (Hesiod).

Muliakanlah tetangga dengan berbagai cara, sebagaimana saran dari Imam Al-Ghazali yakni; Memulai mengucapkan salam pada tetangga. Mengucapkan selamat pada tetangga jika mereka mendapati kebahagiaan.

Menjenguk tetangga yang sakit. Melayat (ta’ziyah) ketika tetangga mendapatkan musibah. Berupaya menghadiri undangan dan meminta maaf jika berbuat salah.

Upayakan hindari kebisingan yang mungkin menurut Anda biasa saja tapi tidak bagi tetangga, terlebih hal itu dilakukan pada malam hari di waktu tetangga beristirahat. Jika Anda meminjam sesuatu, kembalikan segera selesai dipakai.

Jika kamu memiliki masalah dengan tetangga, pergilah langsung dan diskusikan secara baik. Usahakan berdamai dan selesai tanpa lapor polisi.

Selanjutnya, berusaha lemah lembut pada tetangga. Jadilah guru yang mendidik dalam sikap dan perkataan. Jika ingin dapat tetangga baik, maka kita harus berbuat baik. Dari Aisyah ra Rasulullah SAW bersabda:

“Jibril selalu berwasiat kepadaku agar memenuhi hak tetangga sehingga aku mengira tetangga akan menjadi ahli waris” (HR. Buhari, Muslim, Abu Daud, Ibnu Majah, dan Tirmizi).

Dalam sebuah hadis Rasulullah SAW bersabda, ”Barang siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir maka ia harus memuliakan tetangganya.”

Rasulullah SAW mengungkapkan bahwa Jibril selalu memerintahkannya untuk berbuat baik kepada tetangga. Ada kisah tentang seorang wanita ahli ibadah, tapi ia divonis oleh Rasul sebagai ahli Neraka. Apa sebabnya? Karena ia selalu menyakiti tetangganya (HR. Bukhari). WASPADA

Guru SMAN 16 Medan, Alumni Program Doktor PEDI UIN SU

  • Bagikan