Komunikasi Yang Menyejukkan Dalam Alquran

Komunikasi Yang Menyejukkan Dalam Alquran

  • Bagikan

Pada hari ini Kami tutup mulut mereka; dan berkatalah kepada Kami tangan mereka dan memberi kesaksianlah kaki mereka terhadap apa yang dahulu mereka usahakan (QS. Yasiin: 65)

Ada ungkapan yang sering kita dengar “mulutmu adalah harimau bagimu, yang akan menerkam dirimu sendiri”, juga ungkapan “luka karena tajamnya pisau masih ada obatnya, tapi terluka karena tajamnya kata-kata belum tentu ada obatnya”.

Kalimat filosofis tersebut memberikan pembelajaran bahaya lisan yang tidak terjaga. , apalagi karena lidah tak bertulang, tak terbatas kata-kata, tinggi gunung seribu janji, lain di bibir lain pula di hati. Berhati-hati dengan lisan karena dapat membawa malapetaka disebabkan lautan fitnah, berita bohong, adu domba, ghibah/gosip, sumpah dan janji palsu.

Diriwayatkan dari Abu Hurairah bahwa Rasulullah SAW ditanya tentang apa penyebab terbanyak manusia masuk surga? Nabi menjawab: “Takwa kepada Allah dan akhlak yang baik”. Rasulullah SAW juga ditanya tentang apa penyebab terbanyak manusia masuk neraka? Nabi menjawab: “Dua lobang, mulut dan kemaluan” (HR at-Turmudzi).

Karena pentingnya menjaga lisan, Alquran menyebutkan enam prinsip berkomunikasi yang berperadaban: Pertama, Qawlan Sadidan (QS. An-Nisa’: 9 dan QS. Al-Ahzab: 70), yaitu perkataan yang benar, jujur, lurus, tidak berbohong, tidak berbelit-belit;

Kedua, Qawlan Balighan (QS. An-Nisa’: 63), yaitu perkataan yang mengenai sasaran, atau mencapai tujuan, fasih, jelas maknanya, terang, efektif, tepat mengungkapkan apa yang dikehendaki, berbekas dan menyentuh pada hati dan otak sekaligus;

Ketiga, Qawlan Maysura (QS. Al-Isra’: 28), yaitu perkataan yang pantas, sesuai situasi kondisi, sehingga terciptalah komunikasi dua arah yang harmonis. Ketika berhadapan dengan orang sakit, berikan semangat dan kekuatan jiwa untuk kesembuhannya, bukan melemahkannya;

Keempat, Qawlan Layyinan (QS. Thoha: 44), yaitu perkataan yang lemah lembut, santun dan berperadaban, menghindari kata-kata yang keji, carut-marut, perkataan yang tidak berkualitas;

Kelima, Qawlan Kariman (QS. Al-Isra’: 23), yaitu perkataan yang mulia, terutama kepada kedua orang tua, dan orang-orang yang lebih tua dari pada kita;

Keenam, Qawlan Ma’rufan (QS. An-Nisa’: 5), yaitu perkataan yang baik, yang membawa manfaat dan kebaikan. Nabi SAW bersabda: “Perkataan yang baik itu adalah sebagai sedekah” (HR.Muslim).

Dalam teori komunikasi, para ahli menyebutkan ada lima Prinsip Komunikasi Efektif yang bila dirangkum dalam satu kata mencerminkan esensi dari komunikasi itu sendiri yaitu “REACH”, yang meraih.

Pertama, respect. Sikap menghargai individu yang menjadi sasaran pesan kita. Pada dasarnya setiap manusia ingin dihargai dan dianggap penting. Jika kita harus mengkritik atau memarahi, lakukan dengan penuh respek terhadap harga diri seseorang, menyentuh tapi tidak menyinggung,

Kedua, empathy. Yaitu kemampuan menempatkan diri kita pada situasi kondisi yang dihadapi orang lain. Salah satu prasyarat utama dalam memiliki sikap empati adalah kemampuan mendengarkan atau mengerti terlebih dulu sebelum didengarkan atau dimengerti orang lain.

Ketiga, audible. Dapat didengarkan atau dimengerti dengan baik. Hukum ini mengatakan, pesan harus disampaikan melalui media (delivery channel) sehingga dapat diterima dengan baik oleh penerima pesan.

Keempat, clarity; kejelasan dari pesan itu sendiri sehingga tidak menimbulkan multi interpretasi atau berbagai penafsiran yang berlainan. Karena kesalahan penafsiran terhadap pesan dapat menimbulkan berbagai penafsiran yang akan menimbulkan dampak yang tidak sederhana.

Kelima, humble; adalah sikap rendah hati, sikap yang penuh melayani, sikap menghargai, mau mendengar dan menerima kritik, tidak sombong dan memandang rendah orang lain, berani mengakui kesalahan, rela memaafkan, lemah lembut dan penuh pengendalian diri, serta mengutamakan kepentingan yang lebih besar.

Rasulullah SAW apabila berbicara, dengan bahasa yang mudah dimengerti sesuai kadar intelektualitas dan lingkup pengalaman orang yang dihadapinya. Aisyah ra, menceritakan:

“Rasulullah tidaklah berbicara seperti yang biasa kamu lakukan (yaitu berbicara dengan nada cepat). Namun Beliau berbicara dengan nada perlahan dan dengan perkataan yang jelas dan terang lagi mudah dihafal oleh orang yang mendengarnya” (HR. Abu Daud).

Bahkan Nabi Muhammad SAW sering melakukan penegasan dengan menaikkan nada (affirmation) dan pengulangan (repetition) agar ucapannya dapat dimengerti dengan baik.

Sebagaimana diriwayatkan Anas bin Malik mengatakan; “Rasulullah sering mengulangi perkataannya tiga kali agar dapat dipahami” (HR. Bukhari). Berikut contoh keahlian Nabi Muhammad SAW menghadapi lawan bicara.

Dalam sebuah hadis dikisahkan, “Suatu hari datanglah seorang pemuda kepada Nabi Muhammad SAW yang hendak masuk Islam. Namun, ia mengajukan satu syarat yang sangat “tidak rasional”, yaitu meminta izin agar Nabi tidak melarangnya berbuat zina.

Nabi SAW malah tersenyum dan sama sekali tidak marah. Beliau pun mengajak si pemuda berdialog, “Wahai anak muda, mendekatlah!” Pemuda itu kemudian mendekat. Lalu, Nabi berkata lagi, “Duduklah!” Pemuda itu pun duduk. “Wahai pemuda,” kata Nabi SAW, “Sukakah kamu jika itu terjadi pada ibumu?” (Nabi bertanya bagaimana jika ibumu dizinai orang?)

“Tidak. Demi Allah, saya tidak rela!”Demikian pula seluruh manusia tidak suka zina terjadi pada ibu-ibu mereka,” tegas Rasulullah SAW. Nabi pun bertanya lagi, “Sukakah kamu jika itu terjadi pada anak perempuanmu? “Pemuda itu lagi-lagi menjawab tidak.

Kemudian, Nabi SAW bertanya bagaimana kalau hal itu terjadi kepada saudara perempuan dan bibinya. Jawaban pemuda itu pun tetap sama, “Tidak rela”. Nabi Muhammad kemudian meletakkan tangannya di atas bahu pemuda itu sambil berdoa, “Ya Allah, sucikanlah hati pemuda ini. Ampunilah dosanya dan peliharalah dia dari zina” (HR. Ahmad).

Setelah peristiwa itu, terjadi perubahan drastis pada diri si pemuda. Saat itu, tidak ada perbuatan yang paling dibenci pemuda itu selain zina. Melalui kisah tersebut, tergambar kepiawaian komunikasi efektif Nabi Muhammad SAW dan kehebatan mengemas pesan yang ingin disampaikan dan mempengaruhi lawan bicaranya..

Pertama, Nabi Muhammad SAW memperlakukan pemuda tersebut dengan begitu hormat, Beliau tetap menghargai pemuda itu (respect) meskipun permintaannya sangat tidak etis. Terbukti, beliau tidak memarahinya.

Kedua, Nabi Muhammad SAW berusaha merasakan apa yang ada dalam hati si pemuda (empathy), sehingga tidak bersikap frontal, menyerang, dan menyalahkan. Andai saja Rasulullah SAW langsung mengatakan tidak boleh, haram, terkutuk, lancang, besar kemungkinan si pemuda justru mundur dan mengurungkan niatnya untuk masuk agama Islam.

Ketiga, Nabi Muhammad SAW menyampaikan pesan dengan sangat mudah dimengerti dan sesuai pemahaman si pemuda dengan jelas (audible) serta penuh keterbukaan (clearity). Ini teknik persuasif agar pemuda sadar dan merasakan ketenangan dan bukan beban.

Keempat, Nabi Muhammad SAW menjalin komunikasi dengan landasan akhlak mulia (humble), rendah hati, lemah lembut, rela memaafkan, mau mendengarkan, dan penuh pengendalian diri.

Meskipun Rasulullah SAW memahami bahwa zina itu haram, Beliau tidak langsung memberikan dalil ihwal haramnya zina dan akibat buruk yang ditimbulkannya, Beliau cukup menyentuh hati dan pikiran si pemuda, sehingga keinginannya berubah.

Kelima, Nabi Muhammad SAW pun memiliki “senjata pamungkas” mempengaruhi dan menaklukkan lawan bicara, yaitu kepercayaan sebagai buah dari integritas diri yang telah teruji. Pemuda itu berani meminta izin berzina, sebab ia percaya bahwa Nabi Muhammad SAW ialah sosok yang jujur dan dapat memberikan solusi.

Sebab, jalinan komunikasi yang efektif tidak mungkin terjadi apabila orang yang berkomunikasi tidak saling percaya. Semoga Lisan kita dapat menjadi obat yang menyembuhkan dan menyejukkan, bukan menjadi racun yang membinasakan diri dan orang lain. Waspada

Penulis adalah Guru Besar Fakultas Ushuluddin Dan Studi Islam UIN SU

  • Bagikan