Waspada
Waspada » Kolom dr Arifin S. Siregar, SpKK: Azankan Haji Sunnah Atau Bid’ah ? (Menanggapi Tulisan H. Mohd. Nasir Lc, MA)
Al-bayan Headlines

Kolom dr Arifin S. Siregar, SpKK: Azankan Haji Sunnah Atau Bid’ah ? (Menanggapi Tulisan H. Mohd. Nasir Lc, MA)

  • Mengenai masaalah dunia kamu, kamu lebih tahu. Mengenai masalah agama (akidah dan ibadah), ikut aku. (HR. Ahmad). Shallu kama roaitumuni ushalli (Shalatlah kamu seperti kamu melihat aku shalat) (HR. Muslim)

  •  
  •  
  • Sering kita lihat dan dengar ketika memberangkatkan calon jamaah haji atau juga ketika memasukkan mayat ke liang lahat kuburan, maka azan dikumandangkan. Maka timbul pertanyaan bagi orang yang kritis atau yang mau tau, apakah hal itu benar atau salah atau apakah hal itu Sunnah atau bid’ah ?
  •  
  • Pembahasan yang dilakukan H. Muhammad Nasir, Lc, MA (pada Mimbar Jumat Waspada edisi 28 Juli 2017) perlu ditanggapi. Seperti sudah diajarkan dalam Islam, materi ajaran Islam itu dibagi 3 golongan besar, yaitu kelompok akidah, kelompok ibadah dan kelompok muamalah.
  •  
  • Pertama, kelompok akidah yaitu yang menyangkut masaalah keyakinan (rukun iman). Kedua, kelompok ibadah yang menyangkut amalan yang berkaitan hubungan antara seseorang dengan Tuhan-Nya (hablumminallah). Ketiga, kelompok muamalah yaitu yang berkaitan amalan masaalah hubungan antara seseorang dengan orang lain (hablumminannas).
  •  
  • Nabi SAW telah menetapkan masaalah akidah dan ibadah, penetapan bentuknya, tempat, waktu, pengamalannya itu hak perogatif (hak penetapannya) adalah pada Nabi SAW. Adalah mengamalkan akidah (keyakinan) atau mengamalkan ibadah yang bukan petunjuk Nabi SAW, maka Nabi SAW memberi ancaman syirik dan bid’ah.
  •  
  • Untuk itu rujukannya berlandaskan HR. Ahmad: Nabi SAW bersabda: “Mengenai masalah dunia kamu, kamu lebih tahu. Mengenai masalah agama (akidah dan ibadah), ikut aku”. Pada HR. Muslim, Nabi SAW bersabda: “Shallu kama roaitumuni ushalli (Shalatlah kamu seperti kamu melihat aku shalat).
  •  
  • Maka azan adalah ibadah (sunat) yang ditetapkan Nabi SAW untuk memanggil dan memulai shalat. Itupun hanya khusus untuk shalat wajib. Mulai dari masa Nabi SAW, masa sahabat, masa tabi’in atau tabi’uttabi’in, dan seterusnya mereka tidak ada atau tidak pernah mengamalkan azan untuk keberangkatan jamaah calon haji atau ketika menanam mayat. Karena mereka takut akan kena ancaman Nabi SAW yaitu bid’ah, sesat dan di neraka, bila tidak mengikuti petunjuk atau amalan Nabi SAW.
  •  
  • Ibadah haji adalah ibadah yang mulia dan sifatnya wajib dan kewajibannya hanya satu kali seumur hidup dan yang sekali itulah menjadi modal untuk kita hadapkan pada Allah SWT kelak di Akhirat. Bila itu rusak atau cacat fatal (bid’ah sesat), betapa ruginya kita kelak di Akhirat nanti.
  •  
  • Sangat disesalkan bila Ustadz H. Muhammmad Nasir, Lc ,MA, berani mengajak umat hanya berpedoman pada ajakan Prof Dr Wahbah al Zuhaly untuk menghalalkan azan untuk orang kesusahan, sedang marah, kebakaran, hewan yang mengamuk, menanam mayat dan sebagainya berlandaskan pada qiyas.
  •  
  • Adalah Imam Syafii menolak qiyas digunakan pada ibadah. Kata Imam Syafii: “La qiyasa fil ibadatika” (tidak ada qiyas dalam hal ibadah) (Kitab Ushul Fiqih: Arrisalah). Nabi SAW telah menetapkan masaalah akidah dan ibadah pengamalannya, hanya boleh sesuai petunjuk Nabi SAW.
  •  
  • Tidak mematuhinya diancam Nabi SAW dengan bid’ah sesat, neraka. Apakah ustadz Nasir lebih meneladani dan mematuhi Prof Wahbah, ketimbang (atau dari pada) mematuhi petunjuk Nabi SAW?
  •  
  • Mohon umat jangan digiring untuk tidak mematuhi Nabi SAW atau digiring pada kesesatan! Meskipun alasannya dengan 1000 macam alasan yang berlandaskan akal dan pikiran yang tidak sejalan atau tidak mematuhi petunjuk Nabi SAW, maka landasan akal itu harus ditolak!
  •  
  • Kita harus berpikir jeli. Tanpa azan adalah ibadah haji tetap syah. Meletakkan azan pada ibadah haji, mungkin berpahala, mungkin berdosa. Bila berdosa (bid’ah, sesat, neraka). Alangkah ruginya kita. Padahal tanpa azan, ibadah haji tetap sah, kenapa kita ambil risiko, kemungkinan bid’ah sesat, neraka? Alangkah ruginya dan bodohnya kita.
  •  
  • Terjadinya hal ini, terutama tanggung jawab ulama. Kenapa mengajak, atau membiarkan azan untuk hal di luar shalat wajib. Justru shalat sunat sekalipun tidak digunakan azan, seperti misalnya shalat Id Fitri, shalat taraweh. Kalau pakai akal, tentu hal ini lebih besar manfaatnya dilakukan azan. Ibadah tidak merujuk pada akal dan pikiran, tapi merujuk pada petunjuk Nabi SAW, agar kita selamat.
  •  
  • Ustadz Nasir mengatakan di dalam azan ada kata (suara) talbiyah, ada kalimat thayyibah atau suara pada kemenangan, dan sebagainya. Menurut penilaian akal ulama dan akal kita, itu adalah bagus dan mulia untuk dikumandangkan seraya mengusir setan, dan sebagainya.
  •  
  • Hal itu bagus dan baik menurut kita, tapi tidak benar menurut Nabi SAW. Bila itu baik dan bagus, berarti Nabi SAW lalai atau luput dari mengetahui azan itu baik dan bagus untuk keberangkatan calon Haji, dan sebagainya itu.
  •  
  • Dengan kata lain, ulama dan kita lebih tau dari Nabi SAW, kegunaan azan untuk amalan yang lain selain untuk shalat. Untuk menghindari keangkuhan atau ketidakpatuhan umatnya pada petunjuk Nabi SAW. Maka Nabi SAW mengingatkannya ancaman bid’ah sesat dan neraka.
  •  
  • Mungkin ada yang mengatakan, membuat azan pada haji itu, itu masalah khilafiyah. Untuk itu maka ditanya kasus yang bagaimana contohnya, yang terjebak bid’ah? Kalau Anda memisalkan membuat shalat Shubuh menjadi 3 rakaat khilafiyah itu tidak benar.
  •  
  • Itu bukan khilafiyah, tapi hukumnya haram (berdosa), karena melanggar ketetapan yang sudah jelas dan wajib hukumnya harus 2 rakaat. Makanya yang terkena ancaman bid’ah itu adalah amalan-amalan ibadah, yang hukumnya sunat, tidak diamalkan Nabi SAW, tapi kita buat (kita amalkan). Misalnya syalawat ditambah sayyidina, atau tahlilan malam ke-40, ke-100 dan ke-1000 hari kematian, dosa lain-lain.Waspada
  • Dokter Spesialis

Berita Terkait

Memuat....
UA-144743578-2