Waspada
Waspada » Kolom dr Arifin S. Siregar: Demi Ukhuwah! Amalkan Ibadah Disepakati?
Al-bayan Headlines

Kolom dr Arifin S. Siregar: Demi Ukhuwah! Amalkan Ibadah Disepakati?

Ibadah kita diterima Allah SWT ada dua syarat, ikhlas Lillahi ta’ala dan dikerjakan harus sesuai petunjuk Allah SWT dan Rasul- Nya. Ikhlas tapi caranya tidak sesuai petunjuk Rasul-Nya, maka ibadah/akidah tertolak

Di antara beberapa ustad, ulama, atau penceramah sering berkata : “Jangan mengangkat kepermukaan masalah perbedaan pendapat (khilafyah). Jangan menonjolkan perbedaan masalah ibadah/akidah. Hal itu menimbulkan perpecahan ukhuwah Islamiyah”.

Untuk anjuran itu kita 100% setuju. Tapi yang mengajak, justru tidak sesuai ucapan dengan perbuatan. Buktinya, yang menimbulkan perpecahan itu adalah di satu pihak mengamalkan amalan ibadah yang tidak disepakati (berbeda pendapat kebenarannya) oleh pihak lain. Andai mengamalkan amalan ibadah/akidah disepakati, tinggalkan amalan ibadah/akidah yang tidak disepakati, tentu perpecahan itu tidak terjadi.

Jadi nyatanya yang menganjurkan menghindari perpecahan justru menyuruh mengamalkan/mendakwahkan agar yang tidak disepakati diamalkan terus, justru itu yang menimbulkan perpecahan. Adapun adanya pembahasan ibadah/akidah yang diperselisihkan kebenarannya, adalah untuk mencari kenapa tidak disepakati dan mana ibadah/akidah yang disepakati kebenarannya. Agar diamalkan bersama yang disepakati kebenarannya dan ditinggalkan ibadah/akidah yang tidak disepakati kebenarannya.

Tidak disepakati tentu karena ibadah/akidah itu argumentasinya tidak kuat atau tidak Sunnah atau merusak tauhid atau bid’ah. Mari kita amalkan ibadah/akidah yang disepakati kebenarannya, demi tegaknya ukhuwah Islamiyah. Bukan ngotot mempertahankan mengamalkan yang tidak disepakati kebenarannya. Ngotot mengamalkan yang tidak disepakati, justru itulah yang menimbulkan perpecahan, pengotakkan umat atau menimbulkan kebencian.

Adalah pembohongan yang nyata dan tak jujur, mengusulkan mengajak: mari jangan membicarakan perselisihan pendapat (khilafiyah). Tapi justru di antara ulama mengajak mengamalkan masalah yang tidak disepakati. Gara-gara tahlilan menghadiahkan pahala oleh hadirin (para takziah) hari kematian ayahnya di hari ke 40, 100, 1.000, antara abang adik bertengkar.

Si adik merasa berhak karena selama sakitnya dirawat di rumahnya. Begitu juga masyarakat kampung bertengkar mau di-shalat-kan di masjid yang katanya Sunnah atau masjid yang dituduh bid’ah.

Bisa perpecahan tidak terjadi, bila amal ibadah/akidah yang tidak disepakati ditinggalkan. Toh mengamalkan yang Sunnah (disepakati) maka pelaksanaan penyelesaian ayahnya yang wafat tetap sah (tidak menimbulkan tuduhan bid’ah).

Kalaulah si abang yang kaya, begitu cinta pada ayahnya, mau membantu ayahnya di alam barzah, maka ada pilihan yaitu handai taulan/orang kampung diundang baca do’a untuk ayahnya dan ceramah agama, tanpa harus hari ke 40, 100 atau 1000, cukup mendo’akan dan ceramah setawar sedingin untuk keluarga. Inilah cara yang Sunnah, disepakati kebenarannya, terhindar dari perpecahan umat.

Harus kita sadari, ibadah kita diterima Allah SWT ada dua syarat. Pertama, ikhlas Lillahi ta’ala (beribadah karena Allah). Kedua, dikerjakan harus sesuai petunjuk Allah SWT dan Rasul- Nya. Ikhlas tapi caranya tidak sesuai petunjuk Rasul-Nya, maka ibadah/akidah tertolak.

Contoh Amal Yang Disepakati

  1. Qunut shalat Shubuh. Adalah hadis membenarkan qunut Shubuh dianggap lemah (tidak disepakati). Shalat Shubuh sepakat tanpa qunut adalah sah. Maka demi ukhuwah Islamiyah, maka kita ambil yang disepakati, tinggalkan qunut Shubuh, karena tetap sah tanpa qunut.
  2. Shalat tarawih 23 raka’at, kebenaran nya tidak disepakati. Shalat Tarawih 11 raka’at (HR. Muslim) disepakati kebenarannya, maka diamalkan yang disepakati yang hadisnya shahih.
  3. Meng-azankan keberangkatan jamaah calon haji atau ketika menguburkan mayat ke liang lahat. Tidak disepakati ada Sunnahnya. Namun disepakati tanpa azan keberangkatan jamaah calon haji atau penguburan mayat tanpa azan tetap sah. Maka demi ukhuwah Islamiyah, tinggalkan azan untuk haji dan mayat.
  4. Menghadapi kematian, ada yang mengamalkan baca surat Yasin dimana pahalanya dihadiahkan pada yang wafat, tidak disepakati kebenarannya. Sepakat tidak ada Sunnahnya, maka sebaiknya ditinggalkan demi tidak terjebak bid’ah (sesat) atau merusak tauhid (menentang QS. An-Najm: 39). Jadi karena sepakat tidak ada Sunnahnya (Nabi SAW dan Sahabat tidak pernah mengamalkannya), maka tinggalkan amalan itu.
  5. Secara rasional shalat witir 3 raka’at 2 salam dimana setelah 2 raka’at lalu salam, disambung 1 raka’at ditutup salam. Adalah 2 raka’at pertama, bukan shalat witir, tapi shalat sunat biasa. Satu raka’at itu yang witir. Maka cara 3 raka’at dengan 2 salam tidak disepakati kebenarannya sebagai shalat witir, mari kita tinggalkan.

Apalagi menurut Sunnah (hadis) pun dimana Nabi SAW shalat witir 3, 5, 7, 9 atau 11 raka’at semuanya hanya saru salam. Berarti yang disepakati kebenarannya adalah 3 raka’at satu salam. Demi ukhuwah Islamiyah, tinggalkan shalat Witir 3 raka’at 2 salam.

  1. Syalawat pakai “sayyidina”, tidak disepakati kebenarannya. Karena sesuai HR.Muslim Nabi SAW mengajarkan sahabat bunyi syalawat tanpa “sayyidina”. 7. Azan shalat Jum’at dua kali azan sesudah masuk waktu shalat Jum’at, tidak disepakati kebenarannya, karena bukan ajaran Nabi SAW. Yang disepakati azan sesudah masuk waktu shalat Jum’at hanya satu kali, maka kita amalkan azan shalat Jum’at satu kali, tinggalkan dua kali yang tidak di sepakati.
  2. Tepung tawar tidak disepakati ada Sunnahnya. Adalah sepakat tepung tawar cara berdoa agama Hindu, yang diadatkan orang Indonesia pada cara berdoa agama Islam. Maka mari kita tinggalkan, karena merusak tauhid dan terjebak bid’ah.
  3. Berdoa ber-tawassul/ber-wasilah pada yang sudah wafat, mohon turut mendo’akan permohonan seseorang. Tidak sepakat kalau yang sudah wafat bisa berdo’a lagi. Maka mari kita tinggalkan. Kita amalkan yang disepakati yaitu mohon orang yang masih hidup turut mendo’akan permohonan seorang yang berdo’a. Contohnya yang ada Sunnahnya seorang buta minta Nabi SAW (semasa masih hidup) mendo’akan si buta dapat melihat. Maka Nabi SAW berdo’a dan si buta pun juga berdo’a kepada Allah SWT, kemudian si buta dapat melihat. Cara inilah yang Sunnah.
  4. Kenduri laut dengan mengorbankan kepala kerbau/ayam ke laut, agar nelayan yang turun ke laut di hindari dari bala dan agar nelayan banyak tangkapan nya. Tidak di sepakati ada Sunnahnya. Sepakat berdo’a sesuai petunjuk Nabi SAW bermohon hanya kepada Allah SWT. Maka tinggalkan kenduri laut. Waspada

Berita Terkait

Memuat....
UA-144743578-2