Ketika Ulama Menjadi Umara

Ketika Ulama Menjadi Umara

  • Bagikan

”Barangsiapa yang mempelajari suatu ilmu yang seharusnya diharap adalah wajah Allah, tetapi jika ia mempelajarinya hanya untuk mencari harta benda dunia, maka ia tidak akan mendapati wangi Surga di Akhirat nanti (HR. Abu Daud, Ibnu Majah dan Ahmad)

Mengutip Imam Baihaki dalam Kitab Dalalun Nubuwah, ulama adalah sosok yang memberi informasi dan solusi bagi setiap persoalan. Ulama juga sosok yang akhlakul karimah. Memiliki integritas dan pribadi panutan masyarakat, sesuai ucapan dengan perbuatan.

Dalam berbagai majelis agama mereka menyampaikan Quran dan hadis yang harus dilaksanakan. Mereka adalah pewaris para Nabi.

Dalam khitah pengabdian Majelis Ulama Indonesia telah dirumuskan lima fungsi dan peran ulama yaitu; (a) Sebagai pewaris tugas para Nabi (Warasatul Anbiya), (b) Sebagai pemberi fatwa (mufti), (c) Sebagai pembimbing dan pelayan umat (riwayat wa khadim al ummah), (d) Sebagai gerakan islah wa al Tajdid, (e) Sebagai penegak amar ma’ruf dan nahi munkar. Pertanyaannya apakah MUI telah melaksanakan khitah ini?

Namun, “Semakin tinggi pohon semakin kencang angin menggoyang. ”Di balik keahliannya dalam agama, tetapi godaan shaitan berkelindan dengan tawaran meyesatkan. Akibatnya kadang ulama melakukan berbagai penyalahgunanan demi kekayaan. Mengeluarkan fatwa plin-plan hanya karena kepentingan. Sekali waktu dilarang, minggu depan diperbolehkan.

Ada pandangan pesimis ketika melihat ulama menjadi umara (pemerintah). “Kebinasaan bagi umatku (datang) dari ulama suu, mereka menjadikan ilmu sebagai barang dagangan yang mereka jual kepada para penguasa. Mereka menjual agama demi untuk mendapatkan keuntungan bagi diri mereka sendiri. Allah tidak akan memberikan keuntungan dalam perniagaan mereka itu” (HR. Al Hakim).

Sungguh sangat mengecewakan ketika ulama melarang Muslim shalat di masjid, hanya demi mememenuhi keinginan umara. Padahal keutamaan sholat berjamaah di masjid akan mendapat hikmah yang luar biasa yakni;

Akan didoakan malaikat, mendapat naungan di hari Kiamat, terhindar dari sifat munafik dan terhindar dari siksa kubur. Bahkan shalat di masjid dilipatgandakan pahalanya 27 kali lipat (HR. Bukhari-Muslim).

Kita sangat kecewa jika ulama mengeluarkan fatwa yang membingungkan karena godaan harta. Dari Abu Hurairah, Rasulullah SAW berkata: ”Barangsiapa yang mempelajari suatu ilmu yang seharusnya diharap adalah wajah Allah, tetapi jika ia mempelajarinya hanya untuk mencari harta benda dunia, maka ia tidak akan mendapati wangi Surga di Akhirat nanti (HR. Abu Daud, Ibnu Majah dan Ahmad).

Sebelum jauh tersesat jalan, mari kita instropeksi diri. Sejauh mana ulama mampu memberi keadilan hukum agama buat umat muslim. Umar bin Khattab ra berkata “Sesungguhnya paling aku khawatirkan dari umat ini adalah para munafik yang berilmu.” Para sahabat bertanya “Bagaimana orang munafik tapi ia alim?” Sayyidina Umar menjawab “Mereka alim dalam lisannya tapi tidak dalam hati dan amalnya.”

Kita sedih melihat ulama bercanda mesra bercengkrama dengan umara tak ingat pulang. Kita juga terenyuh melihat ulama hidup mewah di antara tetangga yang belum dapat makan satu harian. Wahai ulamaku sayang, kembalilah pulang dalam kesederhanaan, menjawab persoalan umat Muslim sesuai kehendak Allah. Jadilah suri tauladan suar penunjuk jalan, sekaligus sebagai “sandaran hati” umat Islam.    WASPADA

Guru SMAN 16 Medan, Alumni Program Doktor PEDI UINSU

  • Bagikan