Waspada
Waspada » Kesetaraan Gender
Al-bayan Headlines

Kesetaraan Gender

Oleh Islahuddin Panggabean

Sungguh, laki-laki dan perempuan muslim, laki-laki dan perempuan mukmin, laki-laki dan perempuan yang tetap dalam ketaatannya, laki-laki dan perempuan yang benar, laki-laki dan perempuan yang sabar, laki-laki dan perempuan yang khusyuk, laki-laki dan perempuan yang bersedekah, laki-laki dan perempuan yang berpuasa, laki-laki dan perempuan yang memelihara kehormatannya, laki-laki dan perempuan yang banyak menyebut (nama) Allah, Allah telah menyediakan untuk mereka ampunan dan pahala yang besar (Q.S Al-Ahzab [33] : 35)

Ada beberapa riyawat terkait sebab turunnya ayat di atas. Diriwayatkan dari Qatadah, ia berkata para wanita datang menemui istri-istri Nabi dan mereka berkata, “Allah telah mnyebutkan kalian di dalam Al-Qur’an dan tidak menyebutkan kami di dalam Al-Qur’an.” Maka Allah SWT menurunkan ayat (HR Ibnu Sa’ad). Diriwayatkan pula dari Mujahid, ia berkata, Ummu Salamah RA berkata, “Ya Rasulullah, laki-laki telah disebutkan di dalam Al-Qur’an, sedangkan kami para wanita tidak.” Maka turunlah ayat ini.

Sementara Diriwayatkan Imam At-Tirmidzi, dan meng-hasan-kan hadits ini, dari ‘Ikrimah dan Ummu Imarah al-Anshari bahwasannya ia datang kepada Rasulullah SAW berkata, “Wahai Rasulullah! Aku melihat segala sesuatu itu selalu berkaitan dengan laki-laki, sedangkan untuk kaum perempuan tidak pernah disinggung sedikitpun.” Maka dari itu, turunlah ayat ini yang menegaskan bahwa baik laki-laki maupun perempuan jika melakukan perbuatan baik, sama-sama disediakan ampunan dan pahala yang berlimpah.

Berbagai riwayat tersebut memiliki satu nafas yakni para perempuan kala itu mempertanyakan posisinya dalam agama Islam. Jawaban dari Allah terkait hal itu pun sangat terang bahwa dalam Islam laki-laki dan perempuan sebenarnya setara.

Secara religius kaum lelaki dan wanita memiliki kesetaraan yang mutlak. Dalam ayat lain, Allah Swt berfirman, “Barangsiapa mengerjakan amal kebajikan, baik laki-laki maupun perempuan sedang dia beriman, maka mereka itu akan masuk ke dalam surga” (QS An-Nisa : 124). Secara umum, Allah menilai kemuliaan bukan berdasarkan jenis kelamin melainkan ketakwaan (QS Al-Hujurat :13).

Kesetaraan ini dilengkapi dengan sejumlah aturan yang memuliakan kaum perempuan. Misalnya, larangan membunuh bayi perempuan, yang telah menjadi kebiasaan orang Arab (QS at-Takwir :8-9). Kebiasaan lain orang Arab adalah perempuan tidak berhak mendapatkan warisan, bahkan kaum perempuan (istri ayahnya selain ibu) dapat menjadi warisan anaknya. Tradisi ini pun dikecam dan tak boleh dilakukan lagi (QS An-Nisa :19).

Reformasi Al-Quran dilakukan dengan memuliakan perkawinan sebagai ikatan berdasarkan “cinta” yang setara antarpasangan (QS Ar-Ruum :21). Kesetaraan itu digambarkan sebagai saling melengkapi, menutupi aib, dan memperindah di antara pasangan. “Istri adalah pakaian suami dan suami adalah pakaian istri” (QS Al-Baqarah :187). Bahkan, Allah menegaskan perlunya bersikap lembut dan penuh kebaikan terhadap istri. “Hiduplah bersama (Pergaulilah) mereka di dalam kebajikan” (QS An-Nisa :19). Dalam lembaga perkawinan yang mulia itu, perempuan dalam perannya sebagai ibu mendapat penghormatan yang bahkan lebih besar dari anaknya.

Setelah Reformasi pemuliaan perempuan lewat pernikahan itu, Al-Quran kemudian memperbaiki aturan warisan dengan pemberian hak perempuan mendapatkan warisan (QS An-Nisa :7-12). Pemberian hak ini adalah sebuah sejarah yang gemilang terhadap hak mendapatkan penghidupan yang layak terhadap kaum perempuan. Namun, karena kaum lelaki memiliki fungsi yang berbeda dalam memberikan perlindungan dan menafkahi kehidupan (QS An-Nisa : 34), pembagian harta waris tidak diberikan secara sama.

Islam memberikan kesetaraan terhadap kaum perempuan, kesetaraan yang terpenting adalah di wilayah Spiritual. Kesetaraan spiritual ini menjadikan kaum perempuan mendapatkan kewajiban yang sama. Allah mewajibkan semua manusia untuk “menyuruh kepada yang baik, melarang kemungkaran, menerangkan yang halal dan yang haram, serta membebaskan manusia dari beban kehidupan dan belenggu yang memasung kebebasan” (QS Al-A’raf :157)

Dalam ayat 35 surah Al-Ahzab di atas menyebut laki-laki dan perempuan secara bersamaan, yakni Muslim-muslimah, Mukmin-mukminah, dan qanit-qanitah. Arti kata ‘qunut’ ialah ketaatan yang muncul sebagai konsekuensi iman. Wallahua’lam.   WASPADA

(Pengurus Wilayah Mathla’ul Anwar Sumatera Utara)

Berita Terkait

Memuat....
UA-144743578-2