Waspada
Waspada » Kemenangan Hakiki
Al-bayan Headlines

Kemenangan Hakiki

Oleh Dirja Hasibuan

 

Kemenangan tidak bersumber, kecuali dari sisi Allah SWT Yang Mahaperkasa lagi Mahabijaksana (QS. Ali ‘Imran: 126)

Hari Raya Ied Fitri dikenal juga dengan “Hari Kemenangan”. Peperangan melawan nafsu dan Iblis tidak berhenti dengan hadirnya Ied Fitri, tetapi berlanjut selama nafas berhembus. Karena nafsu dan Iblis menyertai manusia selama hidupnya dan setan telah bersumpah di hadapan Allah SWT untuk menyesatkan manusia dari arah kiri dan kanan; atas dan bawah menyesatkannya sampai dengan detik terakhir dari hayat manusia (QS. al-A’raf: 17).

Kemenangan melawan Iblis dan nafsu ditandai terkendalinya syahwat dan teratasinya rayuan Iblis yang mengantar pemenang patuh mengikuti perintah agama, akal, dan budaya. Bukan sebaliknya. Karena jika sebaliknya, maka itulah kekalahan, bahkan perbudakan manusia oleh setan dan nafsu.

Di sisi lain harus disadari, bahwa kemenangan bermacam-macam. Ada yang hanya menghasilkan kelezatan jasmani; makan, minum, dan seks. Jelas bukan itu yang dikehendaki oleh kemenangan setelah bepuasa walau memang dengan Ied Fitri kita telah memeroleh kebebasan dalam batas-batas tertentu untuk makan, minum, dan seks.

Kemenangan hakiki adalah yang mengantar kepada diraihnya nilai-nilai spiritual, yang tidak bisa dipisahkan dari fitrah dalam arti kesucian, yang mencakup tiga unsur pokok, yaitu: Keindahan, Kebenaran, dan Kebaikan.

Upaya mencari yang benar menghasilkan ilmu, melakukan yang baik membuahkan budi, dan mengekspresikan keindahan melahirkan seni. Karena itu, peperangan yang perlu dimenangkan adalah peperangan melawan berbagai keburukan, seperti kebodohan, kemiskinan, penyakit hati dan kezaliman.

Kemenangan hakiki menghasilkan pencerahan akal dan jiwa sekaligus penyerahan diri, rasa, dan pikir kepada Allah swt. Kemenangan hakiki menghasilkan pengakuan atas kebenaran walau pengakuan itu tidak sejalan dengan keinginan nafsu atau dorongan Iblis.

Itu sebabnya, yang kalah dinilai sebagai pemenang jika ia mengakui secara kesatria kekalahannya, karena ketika itu ia berhasil mengalahkan nafsu dan syahwatnya yang berkoalisi dengan Iblis. Sebaliknya, yang menang dinilai kalah jika itu diperolehnya melalui proses yang terlepas dari nilai-nilai etik dan spiritual karena ketika itu ia dikuasi oleh nafsu dan Iblis.

Itu juga sebabnya kemenangan hakiki tidak selalu harus dikaitkan dengan hasil dan karenanya kegagalan dapat menjadi kemenangan yang tertunda. Di sisi lain, kemenangan hakiki tidak dapat diperoleh tanpa bantuan Allah SWT, baik kemenangan menghadapi nafsu dan Iblis maupun kemenangan di bidang politik, militer, atau lainnya.

Allah SWT menegaskan bahwa, Kemenangan tidak bersumber, kecuali dari sisi Allah SWT Yang Mahaperkasa lagi Mahabijaksana (QS. Ali ‘Imran: 126), bahkan Allah menegaskan bahwa: Bukan engkau Wahai Nabi Muhammad yang membunuh mereka, tetapi Allah SWT yang membunuh mereka, bukan engkau yang melempar ketika engkau melempar, tetapi Allah SWT Yang melempar… (QS. al-Anfal: 17).    WASPADA

Dosen FAI Univa Medan, GPAI SMKN 1 Lubukpakam, dan Pengurus MGMP PAI SMK Kab. Deliserdang

Berita Terkait

Memuat....
UA-144743578-2