Waspada
Waspada » Kehilangan Barokah
Al-bayan Headlines

Kehilangan Barokah

Oleh H.Syarifuddin Elhayat

Dan ingatlah juga ketika Tuhanmu mengumumkan, jika kalian bersyukur pasti Kami akan tambah nikmat kepadamu, tapi jika kamu mengingkari (nikmat itu) maka azab-Ku maha pedih (QS. Ibrahim: 7)

Negeri Baghdad Irak,pernah dijuluki dengan negeri Alfu Lailah Wa Lailah negeri seribu malam. Kehidupan yang gemerap dan cemerlang. Namun dalam berbilang abad negeri yang serba “wah” tersebut, akhirnya—menurut catatan sejarah, redup akibat direbut dan dikuasai bangsa asing.

Jengis Khan pendiri Kekaisaran Mongolia melalui cucuya bernama Hulagu, melakukan invasi ke Irak, merebut kota Baghdad, menjarah habis seluruh kota mulai dari bawah hingga ke atas, meluluh lantakkan negeri kaya itu.

Tidak sedikit rakyat menjadi korban keganasan Hulagu—beberapa sumber menyebut 200 ribu, bahkan ada yang mengatakan 400 ribu nyawa melayang. Sarana ibadah dan ilmu, seperti masjid yang dibangun berabad-abad rata dengan tanah, perpustakaan terlengkap nyaris tidak tersisa.

Penguasa zalim itupun mendirikan markasnya di luar kota Baghdad. Dalam berbilang waktu Hulagu ingin bertemu ulama dan orang berilmu di negeri itu. Karena menurut dia ada hal yang mau dia diskusikan. Tentu tak seorang pun berani datang menemui Hulagu yang bengis.

Namun di tengah kekalutan cengkeraman kezaliman itu tampil seorang muda ingin memenuhi tawaran dimaksud. Dia bernama Kadihan, anak muda. Saking mudanya dia belum berjenggot, seorang guru madrasah.

Akan menemui Hulagu, Kadihan membawa seekor unta, seekor kambing dan seekor ayam jantan (ayam jago). Hulagu memandangi anak muda itu dari ujung rambutnya hingga ujung kaki sembari berkata, ”Mereka—ulama hanya menemukan orang seperti Anda untuk bertemu denganku?? (apa tak ada orang lain selain antum).

Kadihan dengan tenang menjawab, ”Tuan, jika Anda ingin bertemu dengan yang lebih besar (dari aku), di luar markas ini ada saya bawa seekor unta. Atau jika Anda ingin bertemu yang berjenggot, di luar sana saya ada bawa kambing. Bahkan jika Anda ingin berjumpa dengan yang bersuara nyaring, di luar sana juga sudah siap ada ayam jantan (jago).”

Mendengar jawaban itu, Hulagu menyadari anak muda yang berani itu bukanlah orang sembarangan. “Baiklah, kata Hulagu, coba kamu jelaskan, apa yang telah membawa aku bisa datang ke sini (Baghdad)..

Guru muda ini menjawab, ”Sesungguhnya perbuatan kami sendirilah yang telah membuat dan membawamu datang ke sini (Baghdad). Kami tidak pernah lagi mensyukuri nikmat Allah. Kami tenggelam kesenangan dunia, berfoya-foya. Kami hanya sibuk mengejar pangkat dan jabatan, berebut kekuasaan dan kekayaan (dengan mengabaikan yang lain). Akhirnya Allah-lah yang telah menggerakkanmu melangkah ke mari (Baghdad) untuk menarik semua kenikmatan itu, hingga kamipun jadi begini,” katanya.

Hulagu kembali bertanya, “Lantas apa yang dapat mengusir aku dari negeri ini?” Tuan Hulagu, kata sang anak muda itu, jika kami (bangsa ini) menyadari kembali, untuk mensyukuri nikmat yang telah Allah, dan kamipun berhenti bertikai, maka ketahuilah, Andapun tidak akan pernah bisa bertahan lama (menjajah dan menjarah) negeri kami ini.

Cerita singkat ini dinukil dari cuplikan pidato Presiden Turki Erdogan di depan rakyatnya. Agaknya kisah ini menjadi inspirasi dan pesan buat saya dan kita semua, bahwa ketika kita sudah lupa nikmat Allah dengan kesyukuran, mengabaikan barokah-Nya, kitapun lalai menjalankan perintah-Nya.

Maka tak ada balasan lain kecuali kehancuran dan kesengsaraan yang akan kita dapatkan. Allah dalam Surat Al ‘Araf: 96 mengingatkan: Jika sekiranya penduduk satu negeri beriman dan bertakwa (kepada Allah), pastilah akan Kami bukakan (limpahkan) kepada mereka barokah dari langit dan bumi, akan tetapi mereka mendustakan (mengingkari) ayat-ayat Kami, maka Kami pun menyiksa mereka disebabkan perbuatannya.

Demikian pula jika kesyukuran sudah tak ada, kecuali pertengkaran dan perpecahan semata, maka siksa dan azab pun akan turun ke tengah kita. Afwan tuan. Semoga kita bisa bercermin, untuk bisa melihat kembali “wajah” negeri yang gemah ripah lhoh jinawi, yang terbebas dari segala invasi dan intervensi. Waspada

Berita Terkait

Memuat....
UA-144743578-2