Waspada
Waspada » Keharaman Khamar
Al-bayan Headlines

Keharaman Khamar

Oleh Islahuddin Panggabean

Mereka menanyakan kepadamu (Muhammad) tentang khamar dan judi. Katakanlah, “Pada keduanya terdapat dosa besar dan beberapa manfaat bagi manusia. Tetapi dosanya lebih besar daripada manfaatnya” (QS. Al-Baqarah : 219)

Ayat di atas turun berkenaan dengan ‘Umar bin Khattab, Mu’az bin Jabal dan sekelompok kaum Ansar yang mendatangi Nabi Saw. Mereka berkata, “Wahai Rasulullah, berilah kami fatwa tentang khamar dan judi (Maisir). Karena sungguh keduanya dapat menghilangkan akal dan merampas harta.” Kemudian turunlah ayat ini.

Syaikh Ali Al-Shobuni mengatakan di antara hikmah diturunkannya al-Quran secara tadrij (bertahap) adalah untuk mengobati penyakit sosial yang sangat sulit disembuhkan dengan cara seketika, tetapi harus bertahap. Salah satu contoh penyakit sosial adalah minum khamar atau Miras.

Proses Alquran mengharamkan dimulai penjelasan bahwa dengan buah kurma dan anggur orang-orang membuat Khamar (hal yang memabukkan) dan ada juga yang menjadikannya sebagai rezeki yang baik (dibuat makanan dan minuman yang bermanfaat bagi manusia) sebagaimana dalam QS An-Nahl ayat 67.

Tahapan selanjutnya turun ayat 219 surah Al-Baqarah menjelaskan khamar dan judi terdapat bahaya besar dan juga ada manfaatnya tetapi mudharatnya/bahayanya lebih besar dari manfaatnya. Berdasarkan ayat ini, sebagian sahabat meninggalkannya, namun sebagian masih meminumnya dengan alasan ada manfaatnya.

Meskipun khamar mendatangkan manfaat tertentu seperti kehangatan di musim dingin, laba yang diperoleh dari bisnis khamar, obat penyakit dan dapat membangkitkan semangat. Tetapi kerugiannya atau dampak negatifnya lebih besar daripada manfaatnya.

Suatu hari Abdurrahman bin ‘Auf mengundang sahabat ke rumahnya, menghidangkan makanan dan khamar. Ketika tiba waktu shalat Maghrib, mereka menyuruh seseorang menjadi imam yang membaca ayat kedua a’budu maa ta’budun (tanpa kata la) sehingga maknanya “Aku menyembah apa yang kalian sembah”. Bacaannya ngawur.

Tahapan ketiga Allah melarang secara kondisional yaitu tidak boleh minum khamar pada waktu shalat saja sampai mereka sadar selain waktu shalat maka diperbolehkan. Maka orang Islam masa itu hanya minum khamar malam hari saja dan selain waktu shalat.

Selanjutnya, turunlah pula ayat pengharaman mutlak yakni QS Al-Maidah ayat 90. Khamar termasuk dosa besar. Ia termasuk perbuatan setan, keji dan berdampak dapat menimbulkan permusuhan. Khamar juga menghalangi dari mengingat Allah (QS Al-Maidah 91).

Khamar disamping merusak agama, juga pada gilirannya membahayakan kesehatan, akal, keturunan dan harta. Lima hal yang merupakan maqasid syariah (tujuan ditetapkannya syariat). Khamar disebut merupakan induk kejahatan, pintu kemaksiatan yang selalu menimbulkan ketidaktentraman dan mengagnggu keharmonisan.

Sabda Rasulullah SAW, “Khamar adalah induk dari segala kejahatan, barangsiapa meminumnya, maka shalatnya tidak diterima selama 40 hari, apabila ia mati, sementara ada khamr diperutnya, maka matinya jahiliyyah” (HR AthTabrani).

Islam memang membolehkan manusia beraktivitas ekonomi sebebasnya selama tidak bertentangan dengan larangan yang sudah ditetapkan. Ekonomi dalam Islam bertujuan membangun harmonisasi kehidupan sehingga kesejahteraan masyarakat bisa tercapai berawal kesejahteraan individu dalam suatu masyarakat.

Kesejahteraan yang ingin dicapaipun bukan materi semata. Harus ada keseimbangan materi dan spiritual. Karena itu, prinsip ekonomi dalam rangka memanfaatkannya sesuai kebutuhan dan bukan untuk berlebihan dan utamanya dalam rangka mendekatkan diri kepada Allah SWT. Wallahua’lam.  WASPADA

Pengurus Wilayah Mathla’ul Anwar Sumut

Berita Terkait

Memuat....
UA-144743578-2