Waspada
Waspada » Kehampaan Spiritual Manusia Modern Menuju Ilahi
Al-bayan Headlines

Kehampaan Spiritual Manusia Modern Menuju Ilahi

Akhir-akhir ini proyek modernitas yang ditandai kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi oleh sebagian ilmuwan dinyatakan gagal dan hanya melahirkan manusia robot tanpa jiwa. Manusia yang tidak memiliki rasa, kehilangan makna atau manusia kosong (the hollow man).

 

Manusia modern adalah manusia yang dengan kesadaran sendiri membakar tangan mereka di dalam api yang mereka nyalakan sendiri. Mereka telah mengesampingkan Tuhan dalam kehidupannya karena segala persoalan hidup diperoleh dan dapat diatasi dengan ilmu pengetahuan dan teknologi.

Peran Tuhan telah digantikan ilmu pengetahuan dan teknologi. Namun perakteknya ternyata ilmu pengetahuan dan teknologi  tidak berhasil sepenuhnya menyelesaikan seluruh persoalan manusia, kendatipun diakui ada sisi-sisi kemudahan yang diciptakan oleh ilmu pengetahuan.

Ilmu pengetahuan dan teknologi tidak saja gagal menyelesaikan seluruh persoalan hidup manusia. Malah sebaliknya perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi yang pesat menambah problema baru manusia dalam bentuk hilangnya pegangan moral dan orientasi makna hidup.

Capaian manusia berupa penemuan canggih, ternyata tidak menjadikan manusia itu bahagia. Tetap saja ia merasakan sesuatu yang kurang dalam hidupnya. Penyakit rohani yang dialami manusia inilah yang disebut dengan kehampaan spiritual.

Orientasi hidup manusia yang sangat materialistik membuatnya abai terhadap nilai-nilai spiritual yang sebenarnya dibutuhkan. Manusia akhirnya mengalami keterasingan jiwa atau mengalami alienasi diri (self alienation).

Para Psikolog Agama telah melakukan identifikasi penyakit-penyakit yang diderita manusia modern yang disebut sebagai gejala keterasingan (alienasi) yang disebabkan:

(a)perubahan sosial yang berlangsung sangat cepat, (b) hubungan hangat antar manus ia sudah berubah menjadi hubungan yang gersang, (c) lembaga tradisional berubah menjadi lembaga rasional, (d) masyarakat yang homogen sudah berubah menjadi heterogen, dan (e) stabilitas sosial berubah menjadi mobilitas sosial.

Situasi psikologis dalam sistem sosial yang mengkungkung manusia modern itu bagaikan kerangkeng sangat kuat, membuat penghuninya tidak mampu melepaskan diri. Para ahli psikologi agama menganalisis fenomena abad modern ditandai beberapa karakteristik.

Pertama, meningkatnya kebutuhan hidup. Semula manusia sudah merasa cukup ketika ia berhasil memenuhi kebutuhan primernya; sandang, pangan dan papan. Namun sejalan perkembangan mayarakat, kebutuhan primer berubah menjadi pristise yang bersifat sekunder.

Akibatnya orang hidup selalu mengejar waktu dan materi demi prestise. Pada gilirannya manusia tidak lagi memperhatikan nilai-nilai moral dan agama. Ia hidup bagaikan mesin  yang tidak punya perasaan.

Kedua, menguatnya rasa individualistis dan egois antar sesama manusia. Manusia disibukkan oleh dirinya sendiri dan tidak lagi memikirkan orang lain. Di sinilah muncul sikap-sikap individualistis dan egois yang mewarnai hubungan antar manusia.

Karena ia terlalu menonjolkan “keakuannya”, akhirnya ia merasa kesepian dalam hidup. Andaipun berhubungan dengan orang lain, semuanya didasarkan atas kepentingan dan penuh motif material. Hilanglah rasa persaudaraan dan cinta. Hubunganpun jadi sangat gersang.

Ketiga, hidup dipahami sebagai sebuah persaingan yang antara satu dengan lainnya harus saling menyingkirkan dan memusnahkan. Untuk mengejar sesuatu, katakanlah untuk memperoleh materi dan prestasi, manusia tidak segan menyingkirkan orang lain jika dipandang akan menghalanginya.

Akhirnya yang terbangun adalah hidup penuh permusuhan. Manusia modern begitu sibuk dan bekerja keras melakukan penyesuaian diri dengan trend modern. Ia merasa sedang berjuang memenuhi keinginannya padahal sebenarnya mereka diperbudak keinginan orang lain, oleh keinginan sosial.

Ia sebenarnya sedang mengejar apa yang diharapkan orang lain bukan keinginan dirinya. Berangkat dari analisis yang dikemukakan para pakar di atas, manusia modern mengidap gangguan kejiwaan berupa:

Pertama, kecemasan. Perasaan cemas yang diderita manusia modern di atas bersumber dari hilangnya makna hidup (the meaning of life). Manusia gagal merumuskan tujuan hidupnya di muka bumi ini.

Kedua, kesepian. Gangguan kesepian bersumber dari hubungan antarmanusia (interpersonal) di kalangan masyarakat modern yang tidak lagi tulus dan hangat. Kegersangan hubungan ini disebabkan karena semua manusia menggunakan topeng sosial menutupi wajah kepribadiannya. Jadi bukan dengan tampilan jati dirinya sendiri.

Ketiga, kebosanan. Karena hidup tidak bermakna dan hubungan antar sesama manusia itu gersang, terasa hambar, menyebabkan manusia modern mengidap penyakit kejiwaan berupa kebosanan hidup.

Ketika di pentas kepalsuan, manusia modern seolah memperoleh kepuasaan namun hanya sekejap, setelah ia kembali ke rumahnya ia menjadi sepi dan cemas. Perasaan berkepanjangan ini menjadikan dirinya mengalami bosan terhadap kepura-puraan, kepada kepalsuan namun ia tetap tidak tahu apa yang harus dilakukan.

Keempat, perilaku menyimpang. Dalam keadaan jiwa yang kosong dan rapuh, menjadikan seseorang tidak lagi mampu berpikir jauh, kecenderungan kepada pemuasan kepada hal-hal yang rendah menjadi sangat kuat, karena pemuasan atas motif ini sedikit menghibur.

Manusia dalam tingkat gangguan kejiwaan ini mudah sekali di ajak atau dipengaruhi untuk melakukan perbuatan-perbuatan yang menyimpang dari norma moral.

Kelima, psikosomatik. Psikosomatik merupakan penyakit gabungan fisik mental. Yang sakit sebenarnya jiwanya, tetapi menjelma dalam bentuk fisik. Mereka biasanya selalu mengeluh tidak enak badan, jantungnya berdebar, merasa lemah dan tidak mampu berkonsentrasi.

Wujudnya bisa dalam bentuk syndrome, trauma, stress, ketergantungan obat penenang dan sebagainya. Jelaslah, tasawuf muncul sebagai gerakan moral dalam rangka menyempurnakan akhlak manusia dengan cara pembersihan hati dari kecenderungan nafsu yang destruktif.

Biasanya ini dilakukan dengan menjalani fase takhalli (mengosongkan diri dari sifat tercela melalui taubat yang sebenarnya). Kemudian tahalli (menghiasi diri dengan sifat terpuji, dengki diganti baik sangka, rakus dengan qana`ah). Barulah ia dapat dekat dan menerima kehadiran Allah SWT yang sering disebut dengan tajalli.

Sepertinya proyek modernitas telah menjadikan kehidupan manusia tidak lagi seimbang antara kebutuhan ruhani dengan jasmani. Dominasi kebutuhan manusia yang bersifat materialistik dan rasionalistik, membuat kebutuhan manusia yang bersifat rohani, spiritualitas menjadi tidak terpenuhi.

Akibatnya manusia mengalami disharmonisasi internal. Muncullah penyakit kejiwaan sebagaimana yang telah disebut di muka. Sebagai jalan keluar, tasawuf adalah sebagai pilihan yang tepat untuk menyeimbangkan kembali kebutuhan manusia tersebut. Waspada

Guru Besar UIN-SU

Berita Terkait

Memuat....
UA-144743578-2