Waspada
Waspada » Keberkahan Ramadhan Di Tengah Pandemi Covid-19
Al-bayan Headlines

Keberkahan Ramadhan Di Tengah Pandemi Covid-19

Oleh Prof Muzakkir

Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa (QS. Al-Baqarah/2:183)

 

Sejuta rasa terindah bergelora di hati bagi orang-orang beriman, karena Allah SWT masih mempertemukannya dengan bulan suci Ramadhan. Bulan suci Ramadhan adalah madrasah ruhaniyah, bulan mujahadah-perjuangan panjang menata hati, menghidupkan rasa dalam jiwa, memperbaiki moralitas, mengendalikan belenggu hawa nafsu-jihadun nafs dan tipu daya Setan. Serta dapat merasakan halawatul iman-manisnya iman dalam beribadah kepada Allah SWT.

Dalam al-Quran setidaknya ada tiga mujahadah-perjuangan panjang harus diraih mendapatkan keberkahan-kemuliaaan hidup melalui puasa Ramadhan; Pertama, mujahadah menjadi pribadi takwa. Yaitu pribadi yang istiqamah dalam kebaikan dan kebenaran, membenci perbuatan maksiat, dan mencintai perbuatan yang dicintai Allah.

Kedua, mujahadah menjadi pribadi yang bersyukur, memanfaatkan nikmat Allah SWT dengan baik, dan tidak berani menyalahgunakan nikmat-NYA apalagi mengingkarinya, takut jika nikmat itu berubah menjadi kesengsaraan“. …dan hendaklah kamu mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu, supaya kamu bersyukur (QS. Al-Baqarah/2:185).

Ketiga, mujahadah menjadi pribadi yang cerdas hati dan akal, menata hidup dalam kebenaran, dan selalu merasakan hidupnya bersama Allah SWT. “Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, Maka (jawablah), bahwasanya aku adalah dekat. aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia memohon kepada-Ku, Maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintah-Ku) dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku, agar mereka selalu berada dalam kebenaran” (QS. Al-Baqarah/2:186).

Untuk Meraih keberkahan Ramadhan, diperlukan keikhlasan dan kesungguhan serta persiapan memasuki bulan berkah ini; Pertama, luruskan niat, karena niat akan menentukan nilai sebuah amal dan perbuatan, beribadah semata ikhlas karena Allah SWT dan mengharapkan Ridh-NYA.

Kedua, membuat target dan rencana program prioritas Ramadhan. Seperti shalat berjamaah lima waktu di masjid, dengan tetap waspada dan mengikuti protokoler kesehatan. Jika tidak berjamaah di masjid karena pandemi, shalat berjamaah di rumah bersama keluarga, perbanyak doa dan dapat khatam al-Quran, membuka mata dan hati lebih peduli terhadap sesama.

Ketiga, membekali diri dengan ilmu. Mendalami ilmu keislaman melalui majlis ta’lim yang bisa secara online di rumah, dan semangat membaca buku-buku keislaman, Keempat, carilah lingkungan mendukung hati dan diri untuk beramal, dengan menjadikan rumahku adalah surga bagiku. Perbanyak tadarus dan tadabbur al-Quran (pengkajian al-Quran secara mendalam).

“Apabila suatu kaum berkumpul di salah satu rumah Allah (masjid) sambil membaca Al-Qur’an dan saling bertadarus bersama-sama, niscaya akan turun ketenangan atas mereka, rahmat Allah akan meliputi mereka, para malaikat akan melindungi mereka dan Allah menyebut mereka kepada makhluk-makhluk yang ada disisi-Nya”(HR.Muslim).

Bulan Ramadhan adalah bulan Al-Qur’an, karena itu dianjurkan memperbanyak membaca, mempelajari, menelaah dan menadabbur Al-Qur’an. Dan nuzulul Quran (turunnya Al-Qur’an) di bulan Ramadhan adalah anugerah Ilahi terbesar kepada manusia sebagai; Penyembuh (Syifaun). Bahwa telah ada kondisi sebelumnya penyakit sosial di masyarakat yang berpangkal dari penyakit hati yang perlu diobati (kesombongan-keserakahan dan kezaliman).

Petunjuk (hudan), bahwa sudah terdapat pula kekeliruan jalan ditempuh manusia sebelumnya. Sehingga ia harus dijadikan petunjuk untuk kembali ke jalan yang benar, dalam menempuh masa depan (QS. Yunus : 57).

Hakikat dari penemuan Laylatul Qadar di bulan Ramadhan adalah munculnya kesadaran tulus dari seseorang untuk; menyadari kesalahan dan kekeliruannya masa lalu, menyucikan dirinya dari dosa yang pernah dilakukan, dan bertekat menjadikan Al-Qur’an sebagai petunjuk bagi kehidupannya di masa datang. Orang beriman akan memperoleh pencerahan batin, ketenangan dan kedamaian karena kebersamaannya yang panjang bersama Al-Qur’an.

Kelima, melakukan muhasabah, memperbaiki diri, hijrah-melakukan perubahan yang lebih baik dalam segala hal dan bertaubat dari kesalahan dan dosa masa lalu. Keenam, memperbanyak ibadah sunnah, senantisa menyempurnakan ibadah wajib dan mengurangi aktivitas duniawi.

Keberkahan Ramadhan dapat diraih melalui puasa sebagai ibadah yang memiliki berbagai dimensi manfaat sangat luar biasa, mencakup; Dimensi fisik, puasa sebagai peningkatan status kesehatan. Karena berpuasa secara baik dan benar akan menyehatkan, seperti menyegerakan berbuka dengan air yang tidak dingin dan sunnah makan kurma, atau sesuatu yang manis.

“Dari Anas bin Malik, ia berkata : Nabi shallallahu ‘alayhi wa Sallam biasa berbuka puasa sebelum shalat dengan ruthab (kurma muda), jika tidak ada kurma muda (ruthab), maka beliau berbuka dengan kurma (tamar), dan jika tidak ada tamar, beliau meminum seteguk air” (HR. Abu Daud).

Tidak melewatkan makan sahur walaupun seteguk air, dengan cara melambatkannya atau mendekati waktu imsak. Dari Anas bin Maalik Radhiyallahu anhu beliau berkata: Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah bersabda, “Bersahurlah kalian karena dalam sahur ada keberkahan” (HR. Bukhari).

Tidak melewatkan tidur siang walaupun sebentar, dan memakai wangi-wangian yang alami supaya tetap segar.

Dimensi Psikologis, puasa sebagai penyembuhan penyakit hati, terutama tujuh penyakit hati yang sangat berbahaya; membanggakan diri (al-ujub), terpedaya perasaan sendiri (al-ghurur), sombong (al-takabbur), pamer karena ingin dipuji (al-riya’), buruk sangka tanpa alasan ( su’ul zhan), kikir enggan menolong (al-shuhh), dendam (al-hiqd). Puasa menghidupkan hati, mengendalikan hawa nafsu dan menundukkan kecintaan berlebihan terhadap dunia.

Dimensi Sosial, meningkatkan solidaritas dan kepedulian terhadap sesama manusia, semangat untuk berbagi kepada sesama, pemberdayagunaan harta di jalan Allah secara benar, seperti zakat, infak dan sedekah.

“Sedekah yang paling utama adalah sedekah yang dikeluarkan pada bulan Ramadhan.” (HR.Turmizi). “Adalah Rasulullah SAW sebaik-baik manusia, seberani-berani manusia, dan semurah-murah tangan dari tangan manusia” (HR.Muslim).

Sangat penting kita memiliki tujuh perilaku yang dapat memelihara dan membesarkan nilai sedekah; Ikhlas karena Allah semata (QS.Al-Bayyinah : 5), menginfakkan dari harta yang halal dan yang baik (QS.Al- Baqarah: 267), memberi sedekah walaupun dari harta yang sedikit, menyegerakan bersedekah sebelum ajal tiba.

Bersedekah secara sembunyi-sembunyi, karena khawatir akan riya, tidak akan mengungkit sedekah, karena khawatir akan terhapus pahalanya, tidak pernah menyakiti hati orang yang diberi, karena takut dosa (QS.Al-Baqarah: 254).

Dimensi Spiritual, meningkatkan kualitas keimanan dan amal shaleh untuk semakin mendekatkan diri kepada Allah SWT. Ada baiknya kita bertanya pada diri sendiri, andai ini Ramadhan terakhir bagiku, tentu kita akan mempersembahkan yang terbaik.

Hakikat puasa terletak pada Imsak ‘An (menahan diri) dan Imsak Bi (berpegang teguh kepada perintah Allah dan Rasul-Nya). Dalam bahasa Arab, kata Imsak bisa dilekatkan dengan huruf jar (kata sambung) `an dan bi. Jika dikaitkan dengan `an (imsak `an) jadilah maknanya menahan diri sedangkan jika dihubungkan dengan bi (imsak bi) jadilah maknanya berpegang teguh.

Orang berpuasa harus imsak `an sekaligus imsak bi. Seorang Muslim menahan diri harus disebabkan berpegang teguh pada ajaran Allah SWT. Karena bisa jadi ada orang yang imsak `an tapi tidak imsak bi. Ia berpuasa karena ingin diet atau ingin menuntut ilmu tertentu. Ada pula orang yang merasa imsak bi namun tidak imsak `an.

Selalu saja ia mengatakan kita harus berpegang teguh pada Al-Qur’an dan Hadis (imsak bi). Namun ia tidak dapat menerima pendapat orang lain, selalu menyalahkan orang lain dan merasa dirinya paling benar. Orang ini dipandang tidak dapat mengendalikan egonya. Ia tidak imsak `an.

Tentu saja paling baik adalah imsak `an sekaligus imsak bi. Imsak ‘An itu ada enam hal, yaitu; menahan pandangan dari segala yang haram. Karena pandangan itu adalah anak panah iblis, menjaga lisan dari perkataan keji dan sia-sia. Menahan pendengaran, setiap yang haram untuk dikatakan, haram juga untuk didengarkan, menahan diri tidak makan, minum dan tidur yang berlebihan, menahan perut, tangan, kaki dan seluruh panca indra dari perbuatan haram.

Sesudah berbuka, hatinya antara harap dan cemas puasanya diterima atau tidak. Sehingga senantiasa meningkatkan kualitas ibadahnya. Puasanya mengajari senantiasa menjaga mulut, perut dan syahwat (kemaluan). Semoga madrasah ruhaniah Ramadhan menjadikan kita pribadi yang takwa, pribadi yang bersyukur dan pribadi yang cerdas intlektual dan hati nurani.    WASPADA

Guru Besar Fakultas Ushuluddin Dan Studi Islam UIN-SU

Berita Terkait

Memuat....
UA-144743578-2