Keagungan Pribadi Nabi Muhammad - Waspada

Keagungan Pribadi Nabi Muhammad
Oleh M Ridwan Lubis

  • Bagikan

Pribadi Beliau SAW al iltizam al kamil yaitu konsistensi yang dilukiskan sebagai sikap amanah yang paripurna. Memelihara kepercayaan dari setiap lapisan makhluk di alam semesta adalah hal yang tidak mudah akibat dari berbagai kepentingan yang mengikuti di belakangnya

Nabi Muhammad SAW adalah manusia biasa sebagaimana manusia lainnya yang dilukiskan dalam Al Quran dengan kata basyar. Tetapi di balik itu, ditinjau dari aspek kepribadian, Beliau adalah manusia luar biasa dalam hal wawasan pengetahuan, kebijakan dan strategi dalam merumuskan proses internalisasi syariat.

Said Hawa melukiskan adanya empat penampilan yang menjadikan Beliau sebagai manusia luar biasa yaitu al shidq al mutlak, al iltizam al kamil, al tabligh al kamil dan al ‘aql al ‘azim (Said Hawa, Al Rasul, 2003: 28).

Dalam pada itulah pribadi Beliau merupakan juru bicara baik dalam ucapan, perbuatan maupun sikap yang menjadi representasi dari keseluruhan ajaran Islam. Tidak mengherankan orang-orang akhirnya menerima ajaran Islam sekalipun mulanya sangat menentang dakwah Nabi Muhammad, karena ketertarikan kepada pribadi Beliau.

Pertama, kejujuran yang mutlak yang tidak tergantung terhadap lawan bicaranya. Masa jahiliyah dikenal sebagai kehidupan manusia yang dikuasai cara berpikir dengan didasarkan kepada sistim diskriminasi sosial berdasarkan asal usul keturunan.

Beliau memang berasal dari suku terpandang yaitu Quraisy akan tetapi melalui kesukuan yang terpandang itu ia memperkenalkan sistim sosial yang dirindukan umat manusia yaitu kesetaraan secara hierarkhi biologis.

Kalaupun terdapat pembedaan bukan karena latar belakang asal usul keturunan akan tetapi semata-mata karena kedekatan kepada Allah yang disebut taqwa. Dalam berhadapan dengan para pemuka bangsawan ketika itu, Beliau bersikap santun namun menunjukkan sikap jujur yang mutlak.

Bayangkan manakala masyarakat yang dibentuk struktur kehidupan feodalistik, lalu kemudian rela menggadaikan kejujuran dengan harapan akan memperoleh imbalan materi atau kedudukan sosial.

Kedua, al iltizam al kamil yaitu konsistensi yang dilukiskan sebagai sikap amanah yang paripurna. Memelihara kepercayaan dari setiap lapisan makhluk di alam semesta adalah hal yang tidak mudah akibat dari berbagai kepentingan yang mengikuti di belakangnya.

Dalam sejarah sosial, rusaknya keakraban sebuah masyarakat akibat karena semakin kabur sikap konsistensi warga masyarakat yang akhirnya mendorong sikap meraih kesempatan dalam kesempitan.

Hal tersebut bisa terjadi dalam berbagai profesi baik di bidang politik, ekonomi, pendidikan, hukum dan lain sebagainya. Dengan terjadinya kemunduran konsistensi menjaga amanah menjadi bibit runtuhnya setiap setia kawan dalam kehidupan bermasyarakat.

Ketiga, al tablig al kamil yaitu penyampaian kandungan risalah secara sempurna. Risalah yang dibawa Beliau pada dasarnya memuat berita gembira (tabsyir) dan peringatan (tanzir) yang harus disampaikan kepada semua orang tanpa kecuali.

Perimbangan Beliau ketika menyampaikan pesan risalah sama sekali tidak terpengaruh oleh respon manusia terhadap pesan dakwah akan tetapi pesan Allah harus disampaikan secara tegas namun bijaksana kepada setiap manusia tanpa kecuali.

Pada mulanya, memang tidak sedikit yang menyambut dengan penolakan bahkan mencaci pribadi beliau. Akan tetapi sedikitpun Beliau tidak terpengaruh dengan sambutan tersebut. Sikap yang Beliau tunjukan tersebut tentu memerlukan bekal keberanian yang luar biasa dan kedekatan diri yang sungguh-sungguh ke hadirat Allah .

Keempat, al ‘aql al ‘azim yaitu kecerdasan akal yang agung. Secara sosiologis, Beliau telah memiliki pemahaman yang tepat terhadap perkembangan pemikiran manusia. Sikap rasionalitas dalam kehidupan manusia banyak dipetik tradisi kehidupan dalam dunia perdagangan.

Setiap kegiatan dagang selalu didasarkan kepada pertimbangan rasionalitas dan pragmatis guna memperoleh untung yang lebih banyak. Pengalaman terhadap sikap rasionalitas dan pragmatis ini Beliau temukan ketika ikut berdagang ke Syam.

Namun kemudian oleh Beliau, sikap rasionalitas dan pragmatis itu dikemas melalui bingkai hukum dan moralitas syariat. Sebagai ilustrasi ketika Beliau menyampaikan sebuah pesan dakwah sekalipun menggunakan rumusan kata yang ringkas akan tetapi memuat makna yang amat luas (jawami’ al kalim).

Terkadang pertanyaan yang disampaikan para sahabat materinya sama akan tetapi jawaban Beliau bervariasi karena kekuatan suatu jawaban tergantung dari target yang dicapai (muqtada al hal).

Karena sahabat yang bertanya memiliki latar belakang kehidupan yang berbeda maka Rasululullah memberikan jawaban sesuai dengan latar belakang kehidupan sahabat. Beliau tidak menggunakan jawaban yang sama terhadap pertanyaan yang sama yang disampaikan orang yang berbeda.

Keagungan pemikiran Beliau sekaligus menampakkan sikap rendah hati ketika mengemukakan jawaban terhadap pertanyaan yang berkaitan dengan persoalan teknis kehidupan. Bahkan Beliau tidak segan dengan bersabda: bahwa kamu lebih mengetahui terhadap urusan kehidupan dunia kamu.

Hal itu menunjukkan keagungan pemikiran Beliau terhadap perlunya kelenturan dalam memahami setiap konteks perubahan sosial. Dengan kebijakan sikap yang ditunjukkan Beliau menghasilkan konsep yang strategis dalam memahami kesinambungan dan perubahan.

Sebagai contoh, ketika Beliau menjadi pemimpin ummah di Madinah, Beliau tetap memanfaatkan keberadaan pemimpin kabilah sebagai sarana berkomunikasi dengan masyarakat namun

Beliau tetapi sebagai pemimpin puncak yang mengendalikan arah dan tujuan kehidupan umat manusia sesuai pesan syariat. Beliau tampil menjadi pemimpin umat dalam berbagai kabilah yang kemudian menjadi embrio konsep negara dalam bentuk konfederasi.

Selain dari itu, masyarakat Madinah adalah beragam baik suku, ras maupun agama akan tetapi Beliau arahkan menjadi umat yang rukun, dengan membuka peluang terjadinya perbedaan namun tetap bersatu dalam tujuan. (Guru Besar UIN Syarif Hidayatullah Jakarta)

  • Bagikan