Karakter Pria Sejati
Oleh H.Yose Rizal, S.Ag, MM

  • Bagikan

Dan di antara manusia ada orang yang mengorbankan dirinya karena mencari keridhaan Allah dan Allah Mahapenyantun kepada hamba-hamba-Nya (QS. Al-Baqarah: 207)

Tulisan sederhana ini merupakan manifestasi dari ke-Agungan dan ke-Mahabesaran Allah SWT dalam menciptakan makhluknya. Mama Dedeh dalam tausiah di salah satu stasiun televisi yaitu seorang pria ganteng, berpenampilan menarik, cool dan sederet makna positif yang kasat mata.

Lalu lelaki tersebut banyak disukai wanita—merupakan hal lumrah (biasa-biasa saja). Tetapi jika seorang pria berakhlak mulia, berbudi luhur dan rajin beribadah sehingga Allah SWT jatuh cinta dan disukai-Nya itu baru hal luar biasa.

Bagaimana ciri pria sejati yang sebenarnya dalam pandangan Islam yang ia dapat disukai oleh Tuhannya. Dalam Islam, ada beberapa cara membangun karakter pria sejati.

Pertama, pria sejati fokus menjaga shalat 5 waktu. Shalat merupakan hal paling penting bagi setiap Muslim. Jangan mengaku Muslim kalau tidak shalat. Shalat merupakan pembeda Muslim dengan mereka (non muslim).

Rasulullah SAW bersabda: “Perjanjian di antara kita dengan mereka adalah shalat, barangsiapa yang meninggalkan shalat maka ia telah kafir” (MuttafaqAlaih)

Kedua, pria sejati tidak mau menzhalimi orang lain. Zhalim merupakan perbuatan paling besar dosanya di sisi Allah SWT. Zhalim adalah lawan dari ‘adil. Zhalim artinya meletakkan sesuatu tidak pada tempatnya atau melakukan sesuatu yang tidak semestinya.

Lawannya ‘adil, yang artinya meletakkan sesuatu pada tempatnya atau melakukan sesuatu yang pantas. Jadi kalau seseorang membunuh ular karena membela tikus yang akan dimangsa ular itu, maka tindakannya itu tidak bisa dikatakan ‘adil. Karena sudah takdir Allah SWT, bahwa tikus itu memang makanan ular.

Demikian pula sikap orang vegetarian yang tak mau makan daging. Karena katanya manusia tidak pantas berwatak kejam membunuh binatang yang akan dimakannya. Dengan sikap demikian mereka menganggap kehidupan mereka penuh kasih sayang sesama makhluk Tuhan.

Padahal Allah SWT telah berfirman: “Dan Ia telah menyediakan bagi kamu segala sesuatu yang ada di langit dan apa yang ada di bumi seluruhnya dari pada-Nya, sesungguhnya dalam hal ini terdapat beberapa tanda bagi kaum yang mau berfikir” (QS. Al-Jathiyah: 13).

Dari ayat ini maka membunuh binatang yang memang diciptakan Allah untuk kepentingan kesejahteraan manusia tidaklah termasuk zhalim atau kejam. Asalkan memenuhi segala persyaratan berkenaan dengan itu seperti pisau tajam dan langsung memotong urat leher agar darahnya segera tumpah dengan lancar, dan sebagainya.

Kezhaliman bisa terjadi jika seseorang melakukan sesuatu yang berlawanan dengan kewajaran. Sesuatu yang tidak wajar itu biasanya bertentangan dengan hukum atau sunnah Allah SWT. Jadi zhalim dengan tegas berarti melakukan sesuatu yang bertentangan dengan sunnah Allah SWT. Bedanya dengan kufur hanyalah dalam i’tiqadnya.

Ketiga, pria sejati memperlakukan isteri dengan baik. “Yang paling sempurna imannya di antara kalian adalah yang paling baik akhlaknya. Dan yang paling baik di antara kalian adalah yang paling baik kepada istri-istrinya” (HR. Turmudzi).

Istri kita adalah pendamping hidup dalam suka dan duka. Mereka kaum yang sangat sensitif. Mereka sangat senang dimanja sepenuh hati. Meski kadang bengkok seperti tulang rusuk.

Dan suami yang baik adalah yang piawai memperlakukan istrinya dengan baik. Seorang suami sejati hendaklah bisa menjalin komunikasi dengan tutur kata yang baik kepada istrinya.

Gunakanlah pilihan kata yang halus dan sopan. Hindari kata-kata kasar dan bernada tinggi yang sok menggurui. Istri juga harus diperlakukan dengan menyenangkan. Jauhkan sikap cuek dan tidak peduli.

Jangan mudah cemberut, marah, dan sikap ingin menang sendiri. Dan yang tak kalah pentingnya, berikan mereka nafkah batin yang memadai di tempat tidur sehingga jalinan cinta selalu erat sepanjang masa. Sudahkah Anda menjadi yang terbaik bagi istri anda?.

Keempat, pria sejati menjaga diri dari godaan wanita lain. Salah satu yang paling dikhawatirkan oleh Rasulullah SAW terhadap kaum laki-laki adalah wanita. Wanita memang halus dan lembut, namun di balik kehalusan dan kelembutannya menyimpan sejuta pesona yang menggoda.

Sudah terlalu banyak sejarah mencatat bagaimana kaum Adam tak berdaya dan bertekuk lutut di hadapan wanita. Pantas kalau sebagian orang mengatakan “Wanita Racun Dunia”, meski ungkapan ini terlalu berlebihan.

Apalagi di abad informasi dan komunikasi modern sekarang ini, tetangga yang jauh bisa ada di depan layar komputer dan laptop dalam sekejap, bahkan dalam genggaman handphone.

Renungkanlah apa yang pernah digambarkan Nabi, “Tujuh orang yang akan berada dalam naungankan Allah pada saat tiada naungan selain naungan-Nya,…(salah satunya), seoranglaki-laki yang diajak berbuat mesum oleh wanita cantik, namun dia menolak seraya berkata,”Aku takut kepada Allah Rabb Semesta Alam” (HR. Bukhari-Muslim).

Pria sejati dalam pandangan Islam adalah keikhlasan niat, lurusnya tujuan, benarnya maksud dan ittiba dengan sunnah Rasulullah Shalallahu Alaihi Wasalam dalam beramal. Semoga bermanfaat.(Kepala Seksi Pendidikan Madrasah Kantor Kementrian Agama Kota Medan, Mahasiswa Program Doktoral Pendidikan Islam UIN SU)

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *