Karakter Kerja
Oleh Tantomi Simamora

  • Bagikan

Dan katakanlah: “Bekerjalah kamu, maka Allah dan Rasul-Nya serta orang-orang Mukmin akan melihat pekerjaanmu itu, dan kamu akan dikembalikan kepada [Allah] Yang Mengetahui akan yang ghaib dan yang nyata, lalu diberitakan-Nya kepada kamu apa yang telah kamu kerjakan” (QS. At-Taubah: 105)

Bekerja adalah amalan ibadah untuk menunjukkan kesungguhan kita dalam mendaparkan rezeki yang telah disediakan oleh Allah SWT kepada hambanya. Contoh pada suatu perusahaan, karyawan terbaik perusahaan selalu memiliki sikap yang baik dan profesional dalam bekerja, bahkan ia tidak akan pernah puas dalam menyelesaikan pekerjaan sebelum benar-benar tuntas.

Inovatif, ulet, disiplin, produktif, kreatif, dan memeiliki jiwa entrepreneur merupakan nilai-nilai karakter kerja yang harus tertanam di dalam etos kerja dan diaflikasikan. Karyawan yang benar-benar profesional juga sangat menyukai pekerjaannya, menikmatinya dengan senang hati, tanpa ada rasa beban sedikitpun. Karakter kerjanya terfokus untuk menyelesaikan tugas-tugas rutin dan juga tugas-tugas penuh tantangan dengan berkualitas.

Dr Anies Baswedan pernah mengatakan, “Karakter kerja terbagi kepada tiga macam, yaitu: bekerja dengan ikhlas, cerdas dan tuntas”. Bekerja dengan ikhlas, tentu tidak akan pernah mengharap imbalan ataupun pujian dari manusia, pekerjaannya akan terus bertumpu hanya untuk Yang Mahakuasa.

Penulis akan mencoba mengulas tiga karakter ini. Pertama, bekerja dengan ikhlas, tidak akan menjadi beban, bahkan ia akan menikmati pekerjaan itu sebagai ibadah untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT.

Bekerja dengan ikhlas, tentu akan menggairahkan aktifitas yang tulus dan murni dari hati, tidak karena takut kepada atasan atau pemimpin perusahaan. Sedangkan dalam ajaran agama disebutkan, bahwa manusia yang mengharap sanjungan manusia, merupakan sifat-sifat orang munafik yang harus dihindari.

Sebab ia beramal tidak sesuai antara perbuatan dan hatinya. Bekerja dengan ikhlas hanya karena yang Maha Kuasa adalah bekerja dengan karya terbaik, prestatif dan menjadi teladan kebaikan bagi semuanya. Sebab ia bekerja dengan menyapa Allah, dan Allah hanya akan menerima pekerjaan yang baik-baik dan ikhlas.

Kedua, bekerja cerdas. Bekerja cerdas adalah modal kedua dalam bekerja, sekaligus sebagai penggagas menuju kemajuan, dan untuk mewujudkan suatu kemajuan, tentu harus menghindari rasa nyaman dalam setiap pekerjaan.

Cerdas dalam bekerja akan memiliki loyalitas yang sangat tinggi, sehingga ia mencintai profesinya , dan dengan rasa cinta tersebut akan membawanya menuju kemajuan yang berkesinambungan karena selalu memikirkan ide-ide, agar nilai plusnya kian bertambah. Ia akan selalu memperbaiki kualitas kerja.

Sebaiknya kita terus melakukan metode-metode baru dalam bekerja. Tidak ada salahnya untuk melakukan hal baru dalam pekerjaan anda, walaupun akhirnya gagal, karena dari kegagalan tersebut, akan membawa kita kepada sifat kesensitifan yang akan rentan menjadi orang yang sangat kritik terhadap masalah-masalah dalam pekerjaan, bahkan dalam masalah yang ringan sekalipun, ia akan terus berpikir dan berbuat untuk yang terbaik dalam setiap pekerjaannya.

Yang tak kalah pentingnya, kecerdasan dalam bekerja seorang karyawan tidak akan terjebak dalam satu rutinitas. Berkerja keras setiap hari memang merupakan suatu kewajiban bagi para pekerja, namun kalau pekerjaannya berputar hanya disitu-situ saja, justru hasilnya akan nihil, karena tidak ada kreatifitas baru dalam pekerjaannya.

Terjebak dalam satu rutinitas merupakan masalah yang sangat urgen dalam pekerjaan, karena jebakan itulah yang akan menyebabkan seseorang lupa dan tidak kompetitif. Di era global ini, tentunya banyak hal yang harus kita pikirkan untuk sebuah kemajuan dan harus siap bersaing prestasi-prestasi yang tinggi sekalipun.

Kemudian kerja cerdas juga akan menghindari pujian. Sebab pada hakikatnya pujian adalah cobaan. Jika kita terlalu nyaman dengan satu pujian orang lain, tentu akan membuat kita cepas puas dengan yang kita lakukan, sehingga ide saat itu juga terhenti untuk melakukan pemabaharuan-pembaharuan.

Pujian bisa saja membuat kita bahagia, tetapi jika kita terlalu nyaman dengan pujian karena meraih satu prestasi, malah akan membuat anda tidak bahagia dan semakin tersiksa, karena Anda terus berada dalam zona kenyamanan.

Ketiga, bekerja tuntas. Walaupun kita sudah bekerja dengan ikhlas dan cerdas, target terakhir pencapaian dalam suatu pekerjaan adalah tuntas, sehingga setiap pekerjaan membuahkan hasil yang tidak bertele-tele. Karyawan yang memiliki ide-ide kemajuan, dalam bekerja selalu tuntas.

Orang yang memiliki jiwa kemajuan akan terus memikirkan ide-ide baru dalam aktivitasnya, ia akan terus melakukan terobosan-terobosan baru untuk meningkatkan kinerjanya, tidak pernah nyaman dengan sesuatu yang ia hasilkan.

Jangan sampai zona nyaman ini terpatri di dalam jiwa seseorang, karena akan mengakibatkan tidak kompetitif untuk menuju sebuah kemajuan. Zona nyaman akan membuat seseorang terlena, dininaboboin oleh rasa kepuasan terhadap diri sendiri, karena sudah berhasil mengerjakan yang menjadi rutinitas setiap harinya.

Akibatnya, pekerjaan tersebut tidak mengalami perkembangan signifikan, karena mengandalkan kebiasaan-kebiasaan lama. Bekerja tidak hanya sebagai rutinitas, tetapi harus memiliki karakter kerja, yaitu kerja ikhlas, cerdas dan tuntas.

Dalam bekerja, teruslah untuk melakukan hal yang terbaik untuk meningkatkan kinerja, menerima semua kritikan dan saran dari orang-orang yang ada disekitar kita, meskipun tujuannya melemahkan anda karena itu adalah pelajaran yang sangat berharga. WASPADA

(Guru Pesantren Modern Unggulan Terpadu Darul Mursyid/PDM Tapanuli Selatan)

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.