Jangan Suka Marah

Jangan Suka Marah

  • Bagikan

“Dari Abu Hurairah berkata, seorang lelaki berkata kepada Nabi Muhammad Saw. “berilah aku wasiat” Beliau menjawab: “Janganlah engkau marah.” lelaki itu mengulang-ulang permintaannya namun Rasulullah (selalu) menjawab: “Janganlah engkau marah” (HR. Bukhari)

Marah ada dua macam; Pertama, marah yang terpuji. Adalah marah karena membela diri, membela agama, membela kehormatan, atau membela orang yang dizalimi. Kedua, marah yang tercela.

Adalah marah yang dilakukan atas dasar kebencian, iri, dengki, balas dendam atau egois, yang diiringi dengan perbuatan tercela. Tetapi hati-hati, karena marah yang terpuji dapat tergelincir menjadi marah tercela.

Islam melarang marah tak terkendali. Dalam sebuah hadis dijelaskan sedemikian rupa tentang larangan untuk marah sebagaimana hadis di awal tulisan ini.

Allah suka dengan orang yang mampu menahan amarah; “Orang yang berinfaq di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan (kesalahan) orang lain. Dan Allah mencintai orang-orang yang berbuat baik“ (QS. Ali Imran: 134).

Nabi Muhammad SAW memberi perhatian besar terhadap masalah ini hingga beliau bersabda dalam satu hadis; “Jangan kamu marah, maka kamu akan masuk Surga” (HR. Tabrani).

Berikut cara yang diajarkan Rasulullah SAW untuk mengendalikan marah. Pertama, membaca kalimat ta’awudz. Dari sahabat Sulaiman bin Surd, Beliau menceritakan:

“Suatu hari saya duduk bersama Rasulullah SAW. Ketika itu ada dua orang yang saling memaki. Salah satunya telah merah wajahnya dan terlihat urat lehernya. Kemudian Rasulullah bersabda:

“Sungguh saya mengetahui ada satu kalimat, jika dibaca oleh orang ini, marahnya akan hilang. Jika dia membaca ta’awudz: A‘uudzu billahi minas syaithanir rajiim, marahnya akan hilang” (HR. Bukhari dan Muslim).

Kedua, diam. Coba diam dan pergi sejenak mencari sudut untuk menyendiri. Anda dapat memikirkan segala sesuatunya dengan lebih jernih. Duduklah dan tarik napas sejenak, lalu cari solusi untuk menyelesaikan masalah yang membuat Anda marah tersebut.

Diam merupakan perbuatan mulia dan salah satu cara untuk mengantisipasi marah. Dari Ibnu Abbas, Rasulullah bersabda: “Jika kalian marah, diamlah” (HR. Ahmad).

Ketiga, mengambil posisi rendah. Orang yang marah biasanya berada pada posisi yang tinggi atau merasa lebih tinggi. Karena itu, agar marah segera turun, maka turunkan posisimu atau hatimu. Rasulullah bersabda:

“Apabila kalian marah, dan dia dalam posisi berdiri, hendaknya dia duduk. Karena dengan itu marahnya bisa hilang. Jika belum juga hilang, hendak dia mengambil posisi tidur” (HR. Ahmad, Abu Daud).

Keempat, berwudhu atau mandi. Marah itu datangnya dari setan dan setan diciptakan dari api. Maka orang yang marah dianjurkan berwudhu atau mandi untuk memadamkan amarahnya. Dari Urwah As Sa’di, Nabi SAW bersabda:

“Sesungguhnya marah itu dari setan, dan setan diciptakan dari api, dan api bisa dipadamkan dengan air. Apabila kalian marah, hendaknya dia berwudhu” (HR. Ahmad dan Abu Daud).

Ketahuilah bahwa, akan diberikan Allah hadiah istimewa bagi orang yang mampu menahan amarahnya. Sebagaimana sabda Rasulullah SAW:

“Siapa yang berusaha menahan amarahnya, padahal dia mampu meluapkannya, maka dia akan Allah panggil di hadapan seluruh mahluk pada hari kiamat, sampai Allah menyuruhnya untuk memilih bidadari yang dia kehendaki” (HR. Abu Daud, Turmudzi).

Oleh Dr Nada Sukri Pane, Guru SMAN 16 Medan, Alumni Program Doktor PEDI UIN SU

  • Bagikan