Jangan Sakiti Orang Tuamu

  • Bagikan

Dan jika kedua orang tuamu menyuruh kamu supaya musyrik, maka janganlah kamu ikut. Tetapi hormatilah kedua orang tuamu itu di dunia ini dengan cara yang baik dan sopan (QS. Lukman: 15)

Beberapa hari lalu, banyak kasus di TV, HP, koran, dan lain-lain, memberitakan teganya anak kandung menuntut orang tuanya (ayah/ibu). Hal ini terjadi di pulau Jawa, Sumatera, Sulawesi dan lain-lain. Pemicunya kerakusan/keserakahan harta dan ingin menguasai harta orang tuanya.

Si anak tidak peduli pada hukum agama, hukum negara maupun adat dan adab terhadap orang tuanya. Tega si anak menuntut orang tuanya ke pengadilan Rp3 miliar imbalan tanah orang tuanya. Bila orang tuanya tidak mampu membayarnya maka akan dipenjarakannya.

Keserakahan si anak dan tidak tau adab, sehingga tega merampas harta orang tuanya dan menyakiti hatinya. Si anak lupa atau mengenyampingkan peringatan Allah SWT melalui QS Lukman 15 dimana Allah SWT menyatakan: “Dan jika kedua orang tuamu menyuruh kamu supaya musyrik, maka janganlah kamu ikut. Tetapi hormatilah kedua orang tuamu itu di dunia ini dengan cara yang baik dan sopan”.

Jelas dan tegas Allah memperingatkan pada anak yang beriman sekalipun orang tuamu menyuruh kamu anak nya supaya musyrik, jangan ikut (itu prinsip). Tapi dengan tegas dan jelas Allah SWT mengingatkan bagaimana Allah SWT mengangkat tinggi kemuliaan dan derajat orang tua (ayah dan ibu), meskipun mereka menyuruh anaknya musyrik/kafir.

Seandainya pun ia “bandit”, preman, gila sekalipun, maka si anak harus tetap atau wajib menghormatinya, tidak boleh menyakitinya atau menghinanya. Semisal hanya sekedar mengatakan “ah” sehingga menyakiti hatinya atau menghinanya.

Seandainya ayahnya mengajak supaya musyrik, tolak dengan cara sopan dan lemah lembut. Jadi janganlah kita sakiti hatinya meskipun mereka maksiat, hanya gara-gara serakah harta orang tuanya, yang telah dicarinya dengan susah payah untuk membesarkan, menyekolahkan anaknya, maupun untuk cadangan belanjanya di hari tuanya, setelah ia tidak mampu lagi bekerja.

Sahabat Ali bin Abu Thalib RA berkata: “Siapa yang menyusahkan, menyakiti ayah dan ibunya, berarti mereka telah durhaka terhadap keduanya”. Kemudian HR. Bukhari Muslim, Nabi SAW menyatakan: “Adalah dosa yang paling besar selain syirik adalah durhaka kepada orangtuanya”.

Ketahuilah harta itu dicarinya dengan jerih payah siang dan malam, hujan dan panas mereka tempuh untuk membesarkan dan menyekolahkan anaknya. Bila si anak sakit, dijaganya sehingga sembuh. Lupakah anda bila anak sakit dan opname di rumah sakit, maka orang tua menjaganya sampai sembuh.

Namun bila orang tua sakit, maka si anak datang juga bersama istri/suami menjenguknya, bertahan hanya lebih kurang setengah jam. Selanjutnya berkata ke pada orang tuanya yang terbaring itu, mengatakan: “Kami pamit dulu ayah/ibu, karena kami ada undangan/keperluan lain lagi”.

Atau anak meminta TV pada orang tuanya, maka orang tuanya sedaya-upaya berusaha membelinya yang 32 inci, meskipun uangnya terbatas, karena rasa sayang kepada anaknya. Terjadi orang tuanya kepingin TV maka minta dibelikan kepada anaknya, maka anaknya yang sudah kecukupan, tega membelikan hanya TV 14 inci.

Maka menjadi tanda tanya, kenapa ada di antara anak tega menyakiti hati orang tuanya dengan kata-kata yang pedih menusuk hati atau tega merampas hartanya. Apakah tidak takut perbuatan anak yang demikian, Allah sangat marah di ancamnya dengan ancaman “durhaka” dan ditempatkan di neraka yang berkekalan (rujuk QS. Lukman 15 dan QS. An Nisa’ 12 dan 14).

Juga rujuk pada sabda Nabi SAW yang menyatakan: “Ridha Allah itu, tergantung ridha kedua ayah dan ibumu dan murka Allah bergantung kepada murka kedua ayah dan ibumu”.

Cara Pembagian Harta

Hukum faraid: QS. An Nisa’: 12 Allah SWT menyatakan: Suami mendapat setengah dari harta sepeninggal istri (wafat), bila tidak mempunyai anak. Bila istri punya anak, maka suami memperoleh seperempat bagian (setelah hutang dibayar). Istri memperoleh seperempat bagian harta sepeninggal suami (bila tidak mempunyai anak).

Bila mempunyai anak maka istri memperoleh 1/8 bagian. Kemudian untuk kebenarannya harus disertakan surat pernyataan. QS An Nisa’ 14, menyatakan: Bila hukum Allah ini (hukum faraid) dilanggar maka Allah mengancam tempatnya neraka, siksa yang berat kekal dan juga diancam (QS. Lukman: 15).

Status Harta

Harta yang ada pada orang tua itu adalah milik (hak) orang tua, bukan harta anak. Dan harta yang ada pada anak juga harta orang tua.  Rujukannya: HR. Muslim di mana Nabi SAW menyatakan: “Dirimu dan hartamu adalah milik ayahmu”.

Asal usulnya hadis ini timbul: seorang ayah mengambil barang anaknya tanpa permisi, si anak keberatan dan mengadu pada Nabi SAW. Maka Nabi menjawab “Dirimu dan hartamu adalah milik ayahmu”.

Kemudian hibah boleh diberikan orang tuanya tidak lebih dari sepertiga harta. Harus ada surat pernyataan tanda bukti, dan masih bisa ditarik oleh orangtuanya.

Wasiat: Wasiat oleh orang tuanya bisa diberikan kepada ahli waris dan ada surat bukti kebenarannya dan realisasinya pemberian itu setelah orang tuanya wafat dan dapat dilaksanakan setelah hukum faraid diselesaikan.

Yang melaksanakan hukum faraid adalah suami atau keluarga suami atau para ulama/pengadilan agama. Dan harus di sertai surat bukti kebenarannya. Ada yang menyatakan bisa dipakai hukum kompilasi dimana bila istri wafat, maka harta dibagi dua, setengah bagian untuk ayah dan setengah bagian untuk diwariskan pada anak. Selanjutnya pembagiannya sesuai QS. An Nisa’: 12 di atas.

Penutup

Tentu tidak menutup kemungkinan apa yang saya utarakan di atas bisa salah. Dan untuk itu saya mohon maaf dan rela diralat. Waspada

Penulis adalah Dokter Spesialis

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *