Jangan Durhaka
Oleh Tgk Helmi Abu Bakar el-Langkawi

  • Bagikan

“Kami perintahkan kepada manusia supaya berbuat baik kepada ibu bapaknya. Ibunya mengandungnya dengan susah payah dan melahirkannya dengan susah payah (pula). Mengandungnya sampai menyapihnya adalah tiga puluh bulan, sehingga apabila dia telah dewasa dan umurnya sampai empat puluh tahun ia berdoa: “Ya Tuhanku, tunjukilah aku untuk mensyukuri nikmat Engkau yang telah Engkau berikan kepadaku dan kepada ibu bapakku dan supaya aku dapat berbuat amal yang saleh yang Engkau ridhai; berilah kebaikan kepadaku dengan (memberi kebaikan) kepada anak cucuku. Sesungguhnya aku bertaubat kepada Engkau dan sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang berserah diri” (QS. Al-Ahqaf: 15)

Keberadaa orang tua antara ibu dan ayah berdasarkan salah satu hadis nabi menyebutkan kedudukan ibu yang lebih mulia di atas bapak. Ini sebagaimana juga diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim.

Dari Abu Hurairah ra, ia berkata: Seorang lelaki datang kepada Rasulullah SAW, lalu bertanya: “Wahai Rasulullah, siapakah orang yang paling berhak mendapatkan perbuatan kebaikanku?” Beliau SAW menjawab, “Ibumu,”” lelaki itu bertanya lagi, “Kemudian siapa?” Beliau SAW menjawab, “Ibumu,” Lelaki itu bertanya lagi, “Kemudian siapa?” Beliau SAW menjawab, “Ibumu,” Lelaki itu bertanya lagi, “Kemudian siapa?” Beliau menjawab, “Bapakmu” (HR. Bukhari dan Muslim).

Di lain waktu Rasulullah SAW bersabda: “Orang tua adalah pintu Surga yang paling baik. Kalian bisa sia-siakan pintu itu atau kalian bisa menjaganya” (HR. Tirmidzi). Penegasan kata ‘paling baik’ di atas seakan-akan ingin menunjukkan kepada kita akan pentingnya berbuat baik dan berbakti kepada orang tua.

Al-Qâdhi dalam kitab Tuhfatul Ahwadzi bi Syarhi Jâmi’ at-Tirmidzi menjelaskan: “Tegasnya, maksud dari awsath al-bâb adalah sebaik-baiknya pintu dan paling mulianya pintu. Maknanya adalah, sesungguhnya sebaik-baiknya pintu yang menjadi wasilah masuknya seseorang ke dalam Surga, juga menjadi wasilah bagi ia untuk mendapatkan derajat yang tinggi ialah dengan menaati orang tua dan merawat di sampingnya” (Imam al-Mubarâkfûri, Tuhfatul Ahwadzi, hal. 522).

Melihat hadis dan penjelasan di atas, kita pun sangat dilarang mendurhakai orang tua. Tingkat larangannya mencapai level haram, sebab ada ancaman jika melakukannya. Bahkan mendurhakai orang tua termasuk bagian dari dosa yang besar (al-kabâir).

Rasulullah SAW bersabda: “Maukah aku beritahukan kepada kalian tentang dosa-dosa yang paling besar?” Para sahabat menjawab; “Tentu, wahai Rasulullah!” Beliau bersabda: “Mempersekutukan Allah dan durhaka kepada kedua orang tua.”

Meyakitkan hati orang tua, meskipun tanpa kita asumsikan dengan dalil agama, secara logika sehat orang yang paling berjasa dan membesarkan kita kemudian kita melakukan perbutan yang melukai hatinya jelas itu bukanlah hal yang baik terlebih syariat Islam sendiri telah menempatkan orang durhaka kepada orang tua sebagai dosa besar.

Pertama, hadis yang diriwayatkan Imam Bukhari dan riwayat lainnya dari Mughirah bin Syu’bah. Nabi Muhammad SAW bersabda: “Sesungguhnya Allah mengharamkan atas kalian berbuat durhaka kepada para ibu kalian, dan mengharamkan mengubur anak perempuan hidup-hidup, menolak kewajiban dan menuntut yang bukan haknya. Allah juga membenci kika kalian menyebarkan kabar burung, banyak bertanya, dan menyia-nyiakan harta?”

Kedua, Imam Bukhari dan Imam Muslim serta sejumlah perawi hadits lainnya mengabarkan hadis dari Abu Bakar. Ia berkata, Rasulullah SAW bersabda: “Maukah aku ceritakan kepada kalian dosa besar yang paling besar, yaitu tiga perkara?” Kami menjawab, Ya, Rasulullah.

Rasulullah berkata: “Menyekutukan Allah, dan mendurhakai dua orang tua. Rasulullah sedang bersandar lalu duduk, maka berkata Rasulullah: Tidak mengatakan kebohongan dan kesaksian palsu. Beliau terus mengulainya sampai kami berkata semoga beliau berhenti.”

Pelaku durhaka kepada orang tua tidak sedikit balasan yang akan dirasakannya baik di dunia maupun akhirat, Syamsuddin Noor dalam bukuya buku Dahsyatnya Do’a Ibu menyebutkan ada beberapa efek buruk dibalik durhaka kepada orang tua, diantaranya, pertama.Sia-sia amalnya. Tsauban ra berkata, Rasulullah SAW bersabda:

“Tiga macam dosa yang akan menyia-nyiakan segala amal-amal lainnya, yaitu syirik atau mempersekutukan Allah, durhaka kepada ayah ibu, dan lari dari medan perang” (HR At-Tabrabi).

Dari hadis tersebut terlihat amal ibadah seseorang tidak ada artinya apabila orang tersebut melakukan tiga hal yang disebutkan, salah satunya durhaka kepada ayah dan ibu. Abu Umamah berkata, Rasulullah SAW bersabda:

“Allah tidak akan menerima amal tiga golongan manusia yang bersifat sharfan (taubat atau hal yang sunah) dan ‘adlan (fidyah atau tebusan), yaitu anak yang durhaka kepada kedua orang tua, orang yang suka memberi namun mengharapkan balasan yang lebih, dan orang yang tidak percaya dengan takdir” (HR Imam Ibnu Ashim).

Ketiga, disegerakan balasannya di dunia. Allah bisa berkehendak untuk menunda azab akibat dosa-dosa hamba-Nya sampai hari kiamat kecuali azab akibat dosa anak yang durhaka kepada orang tuanya. Allah akan mempercepat azab-Nya di alam dunia sebelum ia meninggal.

“Ada dua pintu petaka yang disegerakan akibatnya di dunia, yaitu orang yang zalim dan durhaka kepada orang tua” (HR Al-Hakim). Al-Hakim dan Al-Ashbahani meriwayatkan semua dosa akan ditunda oleh Allah hukumannya sampai hari Kiamat nanti.

Terkecuali mereka yang durhaka kepada ayah atau ibu. Maka, Allah akan segera memberi hukumannya di dunia sebelum mereka meninggal. Aisyah r.a. berkata Rasulullah SAW bersabda:

“Amal kebajikan yang disegerakan balasannya di dunia adalah berbakti kepada kedua orang tua dan menyambung tali silaturrahmi. Sedangkan kejahatan yang disegerakan siksaannya adalah berzina, durhaka kepada kedua orang tua, dan memutus silaturahim” (HR Imam Turmudzi dan Ibnu Majah).

Keempat, menghilangkan cahaya kesalehan. Dari kesempurnaan birrul walidaini adalah berbuat baik dan berbakti kepada orang tua ketika keduanya masih hidup dan ketika salah satunya atau keduanya sudah tiada.

Jika orang tua sudah tiada, maka kewajiban anak untuk memelihara hubungan dengan orang-orang yang dekat dan dicintai oleh orang tua.Rasulullah SAW bersabda: “Barangsiapa yang ingin menyambung hubungan dengan orang tuanya di alam kubur, maka sambunglah silaturrahmi dengan sahabat-sahabatnya setelah ia meninggal dunia” (HR Abu Ya’la dari Ibnu Umar).

Sementara dari Abdillah bin Umar r.a. berkata Rasulullah SAW bersabda: “Peliharalah hubungan dengan teman-teman yang dicintai kedua orang tuamu, jangan kamu memutuskannya. Sebab apabila hubungan itu terputus, Allah akan memadamkan nur cahayamu” (HR Bukhari).

Dari kedua hadis tersebut, dijelaskan hubungan persahabatan orang tua yang terjalin dengan baik, apabila tidak diteruskan oleh anak-anaknya tentu akan hilang jika hubungan tersebut masih kerabat atau keluarga. Wallahu Muwaffiq Ila Aqwamith Thariq.(Dosen IAI Al-Aziziyah Samalanga dan Guru Dayah MUDI Mesjid Raya Samalanga serta Ketua Ansor Pidie Jaya)

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *