“Seutama-utama puasa setelah Ramadhan adalah puasa di bulan Muharram, dan seutama-utama shalat sesudah shalat wajib adalah shalat malam” (HR. Muslim No. 1163).
Menebarkan salam dan kedamaian, memberikan makanan, menjalin persaudaraan, dan shalat malam adalah anjuran dari Nabi Muhammad SAW, agar kita dapat menggapai Surga dengan tanpa kesulitan dan tanpa banyak rintangan.
Pertama, menebarkan salam, perdamaian dan kasih sayang. Dijelaskan dalam hadits shahih yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad: “Sebarkan kedamaian, berikan makanan, bersilaturrahimlah, shalatlah ketika orang-orang tidur, engkau akan masuk Surga dengan damai.”
Menebarkan perdamaian bisa diawali dengah memberi ucapan salam kepada saudara kita, yaitu Assalamualaikum warahmatullahi wa barakatuh (Keselamatan, rahmat, dan berkah Allah subhanahu wata‘ala semoga tercurahkan untukmu).
Lazimnya ucapan salam ini akan dijawab saudara kita dengan jawaban wa’alaikumussalam warahmatullahi wa barakatuh (Bagimu keselamatan, rahmat dan berkah Allah SWT).
Ucapan salam ini memiliki makna yang mendalam. Imam an-Nawawi dalam Syarah Sahih Muslim menjelaskan bahwa ucapan salam tidak sekadar kata-kata, namun mengandung arti menebarkan perdamaian, kasih sayang dan kerukunan terhadap sesama, baik kepada keluarga, tetangga, maupun terhadap sesama muslim.
Kata salam juga menjadi kunci yang ampuh untuk menghilangkan permusuhan, kebencian, dan kerenggangan diantara sesama. Karena itu, Islam sangat menganjurkan kita untuk saling mengucapkan salam, tujuannya adalah mewujudkan kerukunan dan kedamaian, dan menghilangkan kerenggangan dan permusuhan di antara sesama.
Hadis di atas memberikan pelajaran kepada kita bahwa tidak diperkenankan bagi seorang muslim untuk membenci dan menghujat sesama muslim, menyebarkan permusuhan, menebarkan ujaran kebencian dan memutuskan tali persaudaraan.
Karena menebarkan permusuhan adalah ciri-ciri dari ajaran syaitan, sebagaimana dalam Al-Qur’an Surat Al-Maidah ayat 91, syaitan memiliki tujuan menimbulkan permusuhan dan kebencian di antara sesama Muslim.
Kedua, memberikan makanan kepada fakir miskin. Selain kita diwajibkan untuk mengeluarkan nafkah untuk keluarga, atau mengeluarkan zakat atas harta, Nabi Muhammad SAW menganjurkan kepada kita untuk bersedekah, terutama bagi orang-orang yang membutuhkan.
Mengapa memberikan makanan dapat menghantarkan kita menuju Surga? Karena orang yang senang memberikan makanan adalah orang yang dekat dengan Surga. Sebagaimana riwayat Imam Turmudzi dalam sunan Turmudzi Juz 3 halaman 407 disebutkan:
“Orang dermawan itu dekat dengan Allah, dekat dengan Surga, dekat dengan manusia, dan jauh dari Neraka.”
Imam Al-Ghazali sebagaimana dikutip oleh kitab Faidlul Qadir karya Muhammad al-Munawi, juz 4 halaman 138 menjelaskan, bahwa sikap dermawan merupakan buah dari cinta Akhirat, dan tidak berlebihan dalam mencintai dunia fana.
Sikap dermawan tumbuh dari penghayatan seseorang tentang iman dan tauhid kepada Allah subhanahu wata‘ala. Sehingga muncul sikap tawakkal dan berserah diri kepada Allah, secara otomatis muncul sikap percaya bahwa Allah adalah pemberi rezeki.
Seorang dermawan yakin bahwa orang berbuat baik dengan mensedekahkan sebagian hartanya, Allah pasti akan menggantinya sepuluh kali lipat kebaikan. Berbeda dengan orang yang bakhil, ia adalah orang yang terlalu cinta dunia dan ragu terhadap janji Allah.
Karena itu, tempat yang layak bagi seorang dermawan adalah Surga, sebaliknya tempat yang layak bagi orang bakhil adalah Neraka.
Ketiga, menyambung silaturrahmi. Dalam sebuah riwayat Imam Hakim dalam Kitab Mustadrok Ala Shohihain Juz 2 halaman 563, dengan sanad yang shahih Nabi bersabda:
”Tiga hal yang menjadikan seseorang akan dihisab Allah dengan mudah dan akan dimasukkan ke Surga dengan Rahmat-Nya. Sahabat bertanya, bagi siapa itu wahai Rasulullah SAW? Nabi bersabda:
Engkau memberi orang yang menghalangimu, engkau memaafkan orang yang mendzalimimu, dan engkau menjalin persaudaraan dengan orang yang memutuskan silaturrahim denganmu.
Sahabat bertanya, jika saya melakukannya, apa yang saya dapat wahai Rasulullah SAW? Nabi bersabda: Engkau akan dihisab dengan hisab yang ringan dan Allah akan memasukkanmu ke Surga dengan rahmat-Nya.”
Mengenai pentingnya silaturrahim, terdapat sebuah cerita dari Imam Ashbihani yang termaktub dalam kitab Irsyadul Ibad halaman 94, suatu ketika sahabat duduk di sisi Nabi Muhammad SAW.
Kemudian Nabi bersabda: Tidak boleh duduk dengan kami orang yang memutuskan silaturrahim, kemudian seorang pemuda keluar dari halaqoh, pemuda tersebut mendatangi bibinya untuk menyelesaikan sesuatu masalah di antara keduanya, kemudian bibinya meminta maaf terhadap pemuda tersebut.
Setelah urusan selesai, pemuda kembali ke halaqoh, kemudian Nabi Muhammad SAW bersabda: sesungguhnya rahmat Allah tidak akan turun pada suatu kaum, yang di dalamnya terdapat orang yang memutuskan persaudaraan.
Keempat, menjalankan shalat malam ketika banyak orang telah tidur terlelap. Shalat malam menjadi shalat yang spesial karena dilakukan di waktu banyak orang beristirahat dan lalai dari berdzikir kepada Allah SWT.
Shalat malam juga menjadi indikasi seseorang jauh dari riya’ dan pamer dalam beribadah, karena di waktu ini banyak orang beristirahat. Sehingga bagi orang yang menjalankan ibadah di waktu malam mendapatkan ganjaran yang lebih, terutama oleh Nabi disabdakan sebagai orang yang akan masuk Surga dengan tanpa kesulitan.
Update berita terkini dan berita pilihan kami langsung di ponselmu. Pilih saluran favoritmu akses berita Waspada.id WhatsApp Channel : https://whatsapp.com/channel/0029VaZRiiz4dTnSv70oWu3Z dan Google News Pastikan kamu sudah install aplikasi WhatsApp dan Google News ya.