Waspada
Waspada » Itsar
Al-bayan Headlines

Itsar

Oleh Tgk Helmi Abu Bakar el-Langkawi

Kebaikan apa saja yang kamu perbuat untuk dirimu niscaya kamu memperoleh (balasan)nya di sisi Allah sebagai balasan yang paling baik dan yang paling besar pahalanya. Dan mohonlah ampun kepada Allah; sungguh, Allah Mahapengampun lagi Mahapenyayang (QS. al-Muzammil: 20)

Sikap Mukmin yang menghindari dan berlepas diri dari egois dan lebih mementingkan keinginan orang lain dikenal dengan itsar. Mengutip sebagian ulama Itsar adalah mengutamakan orang lain dalam perkara mubah meskipun kita membutuhkan. Itsar juga bisa berarti mencintai apa yang ada pada saudara kita sebagaimana kita mencintai hal tersebut ada pada diri kita.

Menurut ulama, Itsar adalah tingkatan ukhuwah dan mahabbah yang tertinggi. Keindahan ajaran Islam yang diserapnya mampu membentuk kepribadiannya menjadi Muslim yang mencintai orang lain, seperti ia mencintai dirinya sendiri. Apabila melihat kesempatan mendahulukan orang lain, dia akan mendahulukannya atas dirinya. Terkadang rela kelaparan agar orang lain kenyang. Adakalanya dia harus menahan dahaga agar orang lain tidak kehausan. Bahkan, dia siap mati demi kehidupan seseorang.

Gambaran di atas dapat dikatagorikan sebagai salah satu bagian Mukmin sejati. Dia bergembira ketika mampu menyuguhkan yang terbaik untuk orang lain. Masa hidupnya yang indah dilalui dengan pendekatan yang tulus kepada Allah subhanahu wa ta’ala, dan pengorbanan demi maslahat manusia.

Orang seperti ini adalah orang yang paling baik, sebagaimana sabda Nabi shallallahu alaihi wa sallam:“Sebaik-baik orang ialah yang paling bermanfaat bagi orang lain” (HR. ath-Thabarani, ad-Daraquthni). Dalam kitab Samirul Mukminin karya Syekh Muhammad Al-Hajjar dikisahkan, pernah ada 30 orang saleh bepergian bersama dalam sebuah safar. Mereka memiliki roti terbatas dan tidak mencukupi.

Roti-roti itu dipotong, mereka sepakat memadamkan lentera agar satu dan lainnya tidak saling melihat siapa yang tidak dapat bagian. Mereka duduk bersama untuk makan. Saat lentera dinyalakan, ternyata roti masih utuh seperti semula tanpa seorang pun yang memakannya karena sifat Itsar terhadap orang lain dibanding diri sendiri. Mereka tidak memakannya, khawatir rekannya yang lain tidak dapat bagian.

Itsar itu tandanya adalah memberi dan berbagi. Mencintai saudara kita adalah berani berbagi. Dengan alasan paling mendasar, kebaikan berbagi itu akan kembali kepada diri si pemberi. Yaitu jika kita ingin melipatgandakan akumulasi kebaikan kita dan daftar amal yang banyak, itu tidak mungkin terjadi bila hanya melakukan kebaikan untuk diri sendiri. Sebab, kita hanya satu per orang (TGH Habib Ziadi, Keajaiban Itsar, 2015).

Selanjutnya juga dikisahkan, dalam sebuah rumah kaum salaf terdapat seikat buah anggur milik seorang penghuni rumah. Dia memberikan anggur itu kepada saudarinya. Saudari yang diberi itu memberikan lagi kepada saudarinya yang lain. Lalu saudarinya itu memberi ibunya. Ibunya menyembunyikan seikat anggur untuk dihidangkan kepada suaminya. Sang suami malah memberikannya kepada anak pertama, pemilik dari seikat anggur itu.

Demikianlah, seikat anggur itu beralih dari satu tangan ke tangan yang lain karena sifat Itsar yang dimiliki satu keluarga tersebut. Mencintai orang yang kita cintai adalah upaya kita memiliki jumlah kebaikan yang banyak dari kebaikan yang kita tanam untuk diri kita. Akumulasi kebaikan kita akan sangat terbatas bila itu hanya berupa kebaikan untuk diri kita sendiri.Artinya, bila tidak memiliki tempat untuk meletakkan perbuatan baik, kita tidak akan memiliki pengali yang bisa memperbanyak jumlah perbuatan baik kita.

Marilah kita menebarkan kebaikan bukan hanya untuk diri sendiri juga lain termasuk melakukan Itsar atau Altruisme sebagai sikap dalam mengembangkan kepedulian dan ukhuwah sesama. Bukankah kebaikan dan nikmat itu saling berbagi terlebih kebaikan dalam merintis jalan ke surga. Lantas surga itu cukup kita saja calonnya dengan mengabaikan dan melupakan saudara kita yang yang lainnya. Benarkah demikian? Wallahu Muwaffiq Ila Aqwamith Thariq. WASPADA

Guru Dayah MUDI Mesjid Raya Samalanga dan Dosen IAI Al-Aziziyah Samalanga serta Ketua PC Ansor Pidie Jaya

Berita Terkait

Memuat....
UA-144743578-2