Israk sebagai perjalanan Nabi Muhammad Saw dari Mekkah ke Baitul Makdir Pelestinaa tidaklah sekedar anjangsana atau windowshow, alias melihat-lihat. Tetapi memiliki makna yang dalam yang bisa dijadikan ‘ibrah (bahan pembelajaran) dalam kehidupan. Beberapa peristiwa tersebut ialah sebagai berikut:
- Pertama, Nabi melihat sekelompok anak manusia yang memotong-motong lidahnya karena menjulur kepanjangan. Begitu dipotong menjulur lagi, emikian seterusnya. Bisa dibayangkan betapa sakitnya. Jangankan dipotong, lidah pecah-pecah kena panas dalam saja, rasa sakitnya tak terperikan. Karena penasaran sekaligus kasihan lalu Nabi bertanya kepada Jibril, siapa mereka ini. Jibril menjawab, mereka adalah ummatmu yang suka berbohong dan berbohong, sehingga dipotong menjulur lagi. Setelah berbohong, berbohong lagi, sehingga berbohong dianggap sebagai hal biasa.
Padahal hal dalam Islam berbohong adalah tanda kemunfaikan, sebagaimana maksud hadits Nabi yang mengatakan: “Tanda-tanda munafiq ada tiga; jika berkata berbohong, jika berjanji mengengkari, dan jika diberi amanah mengkhianati amanah”.
Kasus ini tentu menjadi ‘ibrah penting ketika hari ini dunia, terutama Indonesia memasuki fase “post truth”, di mana kebohongan menjadi trend, tanpa malu atau merasa bersalah. Terutama kebohongan politik yang menggejala. Akibatnya terjadi kebohongan ganda (kizb murakkab), karena untuk menutup kebohongan terpaksa berbohong lagi. Semoga kondisi post truth ini menampakkan masa suramnya sehingga peristiwa potong memotong lidah selama israk ini menjadi tidak lagi menjadi kemungkinan terjadi. - Kedua, Nabi melihat seorang nenek tua renta. Begitu tuanya, ia berjalan dengan bungkuk sehingga kepalanya sudah sejajar dengan pinggangnya. Merasa aneh, lalu Nabi bertanya kepada Jibril siapa wanita tua ini. Jibril menjawab, itu adalah gambaran usia dunia yang sudah tua renta. Bayangkan betapa tuanya dunia ini sekarang, karena peristiwa israk mikraj terjadi pada abad 6 Masehi yang lalu.
Tuanya usia dunia berarti tidak lama lagi ia akan pergi, alias kiamat. Apa yang bisa dilakukan ialah persiapan dan persiapan bekal. Persiapan bekal terbaik tentunya ialah takwa, seperti kata hadits: “Siapkanlah bekal, sungguh bekal terbaik ialah takwa”. Tentu berupa amal kebajikan demi kebajikan. - Ketiga, Nabi melihat seorang wanita yang mengambil kayu api. Setelah dikumpul lalu diikat dan diangkat, karena kebanyakan tidak terangkat. Tetapi sang wanita tersebut mengambil kayu api lagi, ikat lagi dan tentu tidak bisa lagi terangkat. Demikian setrusnya. Karena keheranan Nabi bertanya kepada malaikat Jibril, lalu dijawab bahwa itu gambaran anak manusia yang diberi memikul amanah jabatan tidak bisa dilaksanakan, tetapi minta jabatan lain lagi. Demikianlah perjalanan terus berlangsung dengan beberapa peristiwa lainnya.
Tentu ini juga menjadi ‘ibrah bagi anak manusia yang “gila” jabatan, apalagi jabatan itu memperoleh gaji dengan uang masyarakat. Tentu kita bangga dengan seorang yang multi jabatan jika dilakukan secara fungsional, sayangnya seringkali semua pekerjaan menjadi tidak jelas, karena kebanyakan jabatan. Inilah kelak yang berujung ibarat wanita pencari kayu api tadi.
… 5=3=2022..
Update berita terkini dan berita pilihan kami langsung di ponselmu. Pilih saluran favoritmu akses berita Waspada.id WhatsApp Channel : https://whatsapp.com/channel/0029VaZRiiz4dTnSv70oWu3Z dan Google News Pastikan kamu sudah install aplikasi WhatsApp dan Google News ya.