Sejak awal memang Islam sudah mengajarkan bahwa otak senantiasa sejalan dengan iman, karena iman harus bisa dibuktikan secara akal pikiran. Ini sejalan dengan hadits Nabi yang mengatakan “agama ialah akal, tidak wajib beragama orang yang tidak berakal” (add-dinu huwal ‘aqlu la dina liman la ‘aqla lahu).
Pada kesempatan lain Nabi bersabda: “Tidak ditulis dosa tiga pelaku dosa, yaitu anak-anak sampai baligh, orang tidur sampai bangun, dan orang gila sampai sadar”. Berpijak pada dua hadits ini ditambah dengan sejumlah ayat al-Qur’an yang mendorong penggunaan akal, seperti Q.S. Yusuf/12: 2, Q.S. Ali Imran/3: 190 dan lain-lain dapatlah didaulat bahwa Islam adalah agama yang rasional.
Namun perlu dicatat bahwa inti agama bukanlah rasional tidaknya, karena beragama adalah penerimaan utuh terhadap ajaran agama (sami’na wa atha’na), sebagaimana dicatat dalam al-Qur’an surat al-Baqarah/2: 285.
Namun tidak bisa dipungkiri bahwa terdapat sejumlah kasus yang sepertinya sulit diterima akal biasa, seperti kasus israk dan mikraj Nabi, sehingga terjadi pergumulan di antara iman dan otak atau akal, seperti judul di atas. Tapi yakinlah pergumulan akan berakhir jika kembali kepada judul sebelumnya bahwa israk mikraj adalah peristiwa “diperjalankan” yaitu Allah memperjalankan Nabi, bukan perjalanan Nabi sendiri.
Oleh sebab itu, jika dalam tradisi Barat yang sekuler dikenal terminologi rasional dan irrasional, atau diterima akal (rasional) dan tidak diterima akal (irrasional atau non rasional), dalam khazanah intelektual Islam dikenal satu term lain, yaitu “supra rasional” yang berarti di luar jangkauan akal pikiran manusia, atau belum terjangkau akal pikiran manusia. Namun yang supra rasional akan berobah status menjadi rasional (diterima akal, ma’qulat) ketika dalam perkembangannya diperoleh temuan sains dan teknologi yang menguatkan adanya atau terjadinya yang supra rasional tersebut, seperti kasus israk mikraj.
Jika pada awalnya peristiwa israk mikraj dianggap sebagai hal yang supra rasional, namun dengan teori cahaya dengan rumus fisika S=v.t (jarak= kecepatan kali waktu). Cahaya 1 detik = 200 km, peristiwa israk dan mikraj adalah menjadi hal yang rasional, tidak lagi supra rasional, karena Nabi Muhammad mengenderai kenderaan buraq. Disebut buraq, karena kecepatannya seperti cahaya (barq= cahaya).
Kasus ini bisa juga dikaitkan dengan kisah-kisah lain yang diceritakan al-Qur’an, seperti Fir’aun, Gua Kahfi, dan sebagainya, yang dalam teori pembelajaran wahdatul ‘ulum disebut dengan motode paralelisasi, yaitu menganggap paralel konsep yang berasal dari Al-Qur’an dengan konsep yang berasal dari Sains karena kemiripan konotasinya tanpa menyamakan keduanya. Paralelisasi sering dipergunakan sebagai penjelasan ilmiah atas kebenaran ayat-ayat Al-Qur’an dalam rangka memberi pemahaman yang lebih holistik terhadap al-Qur’an dan Islam.
…2=3=2022..
Update berita terkini dan berita pilihan kami langsung di ponselmu. Pilih saluran favoritmu akses berita Waspada.id WhatsApp Channel : https://whatsapp.com/channel/0029VaZRiiz4dTnSv70oWu3Z dan Google News Pastikan kamu sudah install aplikasi WhatsApp dan Google News ya.