Ketika Nabi Muhammad Saw mengisahkan perjalanan israk mikrajnya di pagi hari, secara otomatis mendapat ejekan atau pembuliyan dari masyarakat kota Mekkah ketika itu. Umat Islam sendiri terpecah tiga, seperti disebut sebelumnya, yaitu pengikut setianya tetap percaya, yaitu Abubakar dan kawan-kawan, yang engkar semakin engkar seperti Abu Jahal dan Abu Lahab, dan yang ragu menjadi tidak percaya atau menjadi munafik.
Secara akal sehat (common sense) penolakan adalah hal wajar, karena memang di luar jangkauan pikiran. Bayangkan jarak Mekkah Jerussalem mencapai 1.200 Km yang biasanya ditemuh selama satu bulan sekali perjalanan dengan catatan setiap hari menempuh perjalanan 40 Km. Namun Nabi Muhammad menempuhnya hanya sekitar 4 jam (tsulutsul layl) pergi dan pulang (p/p), termasuk kegiatan mikraj ke Shidraul Muntaha p/p.
Namun keraguan ini akan segera sirna jika menggunakan kata “diperjalankan” bukan “berjalan”, sebagaimana maksud al-Qur’an surat al-Isra’ yang menggunakan kata “asra” yang berarti Allah memperjalankan Nabi Muhammad dengan memnggunakan alat transportasi kenderaan Buraq. Disebut buraq karena kecepataannya seperti cahaya, dari kata barq yang berarti cahaya. Jika kecepatan cahaya yang dijadikan sebagai alat ukur perjalanan Nabi Muhammad, maka perjalanan 1.200 Km hanya ditempuh beberapa detik saja, karena satu detik cahaya mencapai 200-an Km.
Saya punya pengalaman manis bertemu presiden atau undangan presiden langsung dijemput dengan pesawat kepresidenan.
Jam 08.00 pagi berangkat dari Polonia Medan, jam 10.00 sampai di bandara Cengkareng Jakarta, lalu dijemput bus kepresidenan, jam 12.00 sampai di istana Presiden di Bogor, dan jam 13.00 sudah bertemu presiden. Jadi dalam waktu 5 jam sudah bertemu presiden. Kemudian, jam 16.00 sore meninggalkan Jakarta dan jam 18.00 sudah sampai di Medan kembali. Dalam kacamata awam suatu hal yang impossible, mustahil.
Begitulah perjalanan Israk mikraj Nabi, beliau menggunakan kenderaan Buraq secepat cahaya didampingi oleh malaikat Jibril, bertemu dengan Allah dan pulang kembali ke Mekkah hanya dalam waktu 4 jam tersebut.
Dulu ketika pertama kali di Medan, mendengar ilustrasi seorang ustaz dalam ceramah israk mikrajnya. Dia membuat kisah seekor semut dari Binjai yang bercerita kepada teman sesama semut bahwa ia barusan pulang dari Jakarta. Koq bisa ? Rupanya semut tersebut menempel di rambutan bawaan orang Binjai yang pergi ke Jakarta, sampai di Jakarta sang semut pindah tempat menempel di tas orang Binjai tersebut sampai esoknya kembali ke Binjai. Sampai di Binjai kembali, sang semut meninggalkan tas dan kembali berkumpul dengan kelompoknya, lalu bercerita baru pulang dari Jakarta.
Jadi kalau yang namanya “diprjalankan” yang mustahil menjadi mungkin, yang mungkin menjdi terjadi.
Jadi tak perlula diragukan kebenaran kisah Israk dan mikraj Nabi Muhammad Saw yang hari ini kita peringati.
Selamat memperingati Israk Mikraj Nabi Besa Muhammad Saw, semoga tetap sehat fisik dan iman. Sehat fisik dalam pancaroba kesehatan karena ancaman copid-19 yang belum sirna, dan sehat iman karena hari ini umat Islam sedang dicoba dengan berbagai penghinaan dan pelecehan. Sabarlah yaaa…
…1=3=2022..
Update berita terkini dan berita pilihan kami langsung di ponselmu. Pilih saluran favoritmu akses berita Waspada.id WhatsApp Channel : https://whatsapp.com/channel/0029VaZRiiz4dTnSv70oWu3Z dan Google News Pastikan kamu sudah install aplikasi WhatsApp dan Google News ya.