Investasi Menghadapi Kematian

Investasi Menghadapi Kematian

  • Bagikan

Dan tiada seorangpun yang dapat mengetahui (dengan pasti) apa yang akan diusahakannya besok, dan tiada seorangpun yang dapat mengetahui di bumi mana dia akan mati. Sesungguhnya Allah Maha mengetahui lagi Maha Mengenal (QS.Luqman : 34)

Drama hidup yang penuh misteri dan seketika bisa mengubah jalan hidup seseorang serta keluarga adalah kematian. Setiap orang tidak bisa lolos darinya, namun kita semua tidak tahu kapan, dimana dan bagaimana kematian itu terjadi, sehingga semua yang ada ini tiba-tiba rapuh dan kecil tak berdaya dihadapan-NYA.

Kematian adalah sesuatu yang paling dekat dengan kita. Kematian pasti terjadi, tetapi Allah SWT memberi ruang kebebasan memilih jalan ke arah kematian itu. Maka usahakan kematian sebagai wisuda kehidupan, meraih akhir perjalanan hidup terindah menuju Allah SWT, husnul khotimah. Bagi orang beriman, kematian itu sebuah destinasi memasuki kehidupan baru lebih indah, damai, dan membahagiakan, tentunya jika membawa investasi amal shaleh.

Karena itu, jangan pernah terlena, berlebihan pada kesenangan sesaat di dunia. Tidaklah kenikmatan dunia berarti apa-apa, bagai setetes besar madu, siapa yang hanya mencicipinya sedikit, ia selamat, dan siapa yang menceburkan diri ke dalamnya, akan binasa. Harta dan anak-anak adalah perhiasan kehidupan dunia tetapi amalan-amalan yang kekal lagi shaleh adalah lebih baik pahalanya di sisi Tuhanmu serta lebih baik untuk menjadi harapa “(QS.Al-Kahfi : 46).

Hari ini, saat ini pun bahkan setiap nafas dan denyut nadi sesungguhnya kita sedang menanti kematian  itu, sebuah penantian tentu akan ada akhirnya. Di antara orang-orang Mukmin itu ada orang-orang yang menepati apa yang Telah mereka janjikan kepada Allah; Maka di antara mereka ada yang gugur. dan di antara mereka ada (pula) yang menunggu- nunggu dan mereka tidak mengubah (janjinya) (QS.Al-Ahzab : 23).

Karena tiada keabadian dalam hidup  ini, dan dunia hanyalah persinggahan sesaat. Hidup adalah amanah Allah SWT, kita diberi hak pakai bukan hak milik, tapi Allah SWT pemilik segalanya. Maka seharusnya kita mempersiapkan bekal sebagai investasi-perbendaharaan yang akan mengantarkan kita menuju pintu gerbang kematian.  

Diriwayatkan oleh Ibnu Majah dari Abu Hurairah, Nabi SAW, bersabda, Di antara amalan dan perbuatan baik yang mengikuti seorang Mukmin setelah ia mati, adalah; ilmu yang pernah ia ajarkan atau siarkan, atau anak shaleh yang ditinggalkannya, atau mushaf yang ia wariskan, atau masjid yang ia bangun, atau rumah yang ia bangun untuk penampungan orang-orang terlantar, atau sungai (sumber air) yang ia pinjamkan, atau sedekah yang ia keluarkan dari hartanya ketika ia masih hidup dalam keadaan sehat. Semua itu akan diikutkan dengannya setelah ia mati (HR.Ibnu Majah).

Berdasarkan riwayat Hadis tersebut, maka investasi-perbendaharaan kematian sebagai bekal menuju Allah SWT adalah: Pertama, ilmu yang pernah ia ajarkan atau siarkan  ilman a’llamahu wa nasyarahu). Ilmu adalah cahaya kehidupan dan sumber kebahagiaan, bersyukurlah jika setitik ilmu yang kita miliki dapat memberi pencerahan bagi diri sendiri dan orang lain, ilmu- ilmu yang bermanfaat untuk kehidupan.

Apalagi ilmu agama sebagai media mendekatkan diri kepada Allah SWT, dan sepanjang hidup ini adalah belajar, merasa haus akan ilmu. Warisan ilmu akan abadi. Kearifan sebagai orangtua adalah menginginkan anak-anaknya lebih pandai, lebih sukses dan lebih hebat dari dirinya.

Kedua, anak shaleh yang ditinggalkannya (waladan sholihan tarakahu). Anak yang sukses kehidupan duniawinya, dan berhasil menata kehidupan Akhiratnya, ia berbakti kepada ayah bundanya dan taat kepada Allah SWT, menjadi cahaya dan penyejuk hati. Bukannya anak yang hanya sebagai perhiasan duniawi semata, tidak sukses membangun kehidupan untuk Akhiratnya, apalagi anak durhaka kepada kedua orang tuanya dan menjadi musuh Allah SWT pula.

Sekedar renungan “kasih sayang ibu membawa ke surga, kasih sayang ayah tiada penghujungnya, kasih sayang Anda sejauhmana? Kita dibesarkan dari sebesar telapak tangan, maka ayah dan bunda jangan pernah dilupakan. Untaian mutiara yang dipersembahkan, istana megah yang dibangun, sesungguhnya itupun belum cukup untuk membalas jasa baik keduanya, karena kasih sayang ayah dan bunda tiada batas dan tiada bertepi.”

Ketiga, mushaf yang ia wariskan (mushafan warrasahu). Yaitu menjadikan Alquran sebagai petunjuk dalam kehidupan, selalu membacanya, mengkajinya mendalam dan mengamalkannya.  Adalah sangat mulia orang mempelajari Alquran dan mengajarkannya kepada orang lain, juga menghadiahkannya atau mewaqafkannya kepada orang beriman, sehingga akan terwujud generasi qurani. Kita merindukan ayat-ayat suci Alquran yang dibaca untuk menyiram kegersangan hati yang telah kering dan gelap jauh dari pancaran cahaya ilahi.

‘Abdullah bin Buraidah al-Aslami dari ayahnya ra meriwayatkan, Rasulullah SAW bersabda: “Barangsiapa yang membaca Al-Quran, mempelajari dan mengamalkan isinya, kelak di hari Kiamat ia akan diberi mahkota dari cahaya yang sinarnya bagaikan cahaya matahari, dan kedua orang tuanya diberi dua pakaian yang belum pernah mereka lihat di dunia. Keduanya bertanya, “Mengapa kami diberi pakaian ini? Kemudian dijawab, “Ini adalah imbalan dari apa yang telah dilakukan anak kalian terhadap Al-Quran”(HR. al-Hakim).

Hadis ini memberikan pelajaran bagi umat Islam agar senantiasa membaca Alquran, mempelajari dan mengamalkan isinya. Karena kelak pada hari Kiamat mereka yang senantiasa membaca, mempelajari dan mengamalkan isi Alquran akan diberi mahkota dari cahaya yang sinarnya bagaikan cahaya matahari, dan kedua orang tuanya diberi dua pakaian yang belum pernah mereka lihat di dunia. Inilah dahsyatnya membaca Alquran dan mengamalkan isinya.

Keempat, masjid yang ia bangun (masjidan banahu). Sedekah jariyah, seperti membangun masjid yang bersumber dari harta halal. Bagi yang belum dapat membangun masjid secara fisiknya, tentu dapat menjadi orang yang memakmurkannya, hati yang selalu terpaut kepada masjid, menghidupkan shalat berjamaah di awal waktu.

Riwayat dari Abdullah bin Mas’ud, “Aku bertanya kepada Nabi SAW, “Perbuatan apa yang paling dicintai Allah?” Rasul menjawab, “Shalat tepat pada waktunya.” “Kemudian apa?” tanyaku lagi. Beliau menjawab, “Berbakti kepada orang tua.” “Apalagi?” sambungku. Beliau menjawab, “Jihad fi sabilillah” (HR. al-Bukhari).

Kelima, rumah yang ia bangun untuk penampungan orang terlantar (Baytan banahu libnis sabil). Hidup yang dapat memberi menfaat kepada orang lain, dan tidak hanya mementingkan diri sendiri itulah orang yang terbaik. Sesungguhnya Allah SWT telah memilih kita menerima amanah-NYA (harta, ilmu, pangkat, jabatan, dan lain-lain) untuk dapat berbagi kepada sesama. Bukankah di sekitar kita masih banyak orang yang memerlukan uluran tangan kita?

Keenam, sungai (sumber air) yang ia pinjamkan (nahron akrohu). Air adalah kehidupan, setitik air sesungguhnya dapat memberikan kehidupan bagi manusia, hewan dan tumbuhan, artinya mari kita menjaga bumi Allah SWT, tidak malah merusak kesantunan alam semesta, karena semesta pun bertasbih kepada Allah SWT.

Ketujuh, sedekah yang ia keluarkan dari hartanya ketika ia masih hidup dalam keadaan sehat (shodaqatan akhrojaha mim malihi fi shihhatihi wa hayatihi ). Sedekah memberikan rasa bahagia kepada orang lain dengan tulus, bisa berupa ilmu, harta, tenaga, perkataan baik, bahkan senyuman.

Sehingga sedekah itu menjadi pelita menerangi di alam barzakh dan akan dikenang sepanjang masa bagi yang hidup. Apa yang ada pada diri kita akan binasa dan apa yang ada di sisi Allah SWT akan abadi. Setiap kali kita dititipkan kesenangan sejatinya kita kembalikan kepada Allah SWT sebagai rasa syukur pasti Allah SWT akan menambah nikmat-NYA yang lain.

Jadikanlah kematian sebagai muhasabah diri, lahir disambut gembira, mati diantar duka. Ketika sang bayi lahir, semua tertawa gembira dengan senyum bahagia. Padahal , kala itu sang bayi menangis, baru meninggalkan rahim sang ibu yang sangat damai, lalu memasuki dunia yang penuh keributan, permainan dan tipu daya.

Jadikanlah nanti ketika engkau meninggalkan dunia ini, orang lain yang melepasmu menangis, sementara ruhmu tersenyum gembira menghadap ilahi. (Ya Allah) Tuhan Pencipta langit dan bumi. Engkaulah Pelindungku di dunia dan di Akhirat. Wafatkanlah aku dalam keadaan Islam dan gabungkanlah aku dengan golongan orang-orang yang shaleh (QS. Yusuf (12): 101).

“Ya Allah, jadikanlah sebaik-baik umurku adalah umur yang terakhirnya, sebaik-baik amalku adalah amal-amal penutupannya dan sebaik-baik hariku adalah hari saat aku menghadap-Mu.” (HR. Ath-Thabarani). Semoga kematian kita akan menjadi perjalanan terindah menuju Allah SWT, membawa investasi-perbendaharaan Taqwa, yang berhiaskan iman, ilmu dan amal shaleh meraih husnul khotimahAamiin Ya Mujiibad Da’awaad. Waspada

Guru Besar Fakultas Ushuluddin Dan Studi Islam UIN SU

 

  • Bagikan