Waspada
Waspada » Internalisasi Nilai Karakter Melalui Ibadah
Al-bayan Headlines

Internalisasi Nilai Karakter Melalui Ibadah

Oleh Ismet Junus

Waspada/Ilustrasi
Waspada/Ilustrasi

Kaum Mukminin yang paling sempurna imannya adalah yang paling baik akhlaknya, paling lapang dadanya, paling mudah bersahabat dan disahabati. Tidak ada kebaikan pada orang yang tidak bersahabat dan tidak disahabati   (HR Ath-Thabrani)

Menghadapi situasi sulit dan perasaan jenuh yang berpotensi memicu kerawanan sosial, selayaknya seluruh komponen bangsa mewaspadai gejala kemerosotan moral. Salah satunya menggelorakan semangat menginternalisasikan nilai-nilai karakter positif pada diri melalui ibadah.

Memasuki bulan Ramadhan, saatnya berbenah diri mempersiapkan mental spiritual menginternalisasi nilai karakter melalui amal ibadah fardhiah dan ibadah ammah. Mempercayai tidak ada sesuatupun musibah dapat terjadi tanpa seizin Allah, Orang beriman, niscaya akan diberi petunjuk Allah untuk menerangi hatinya (QS.64:11).

Percaya takdir, baik dan buruk ada hikmah-Nya yang perlu disikapi secara positif. Cerdas merespons situasi, tangguh mengendalikan diri, dan bersikap tabah menghadapi tantangan hidup merupakan karakter fundamental yang amat diperlukan agar tidak mudah berputus asa (QS.12:87). Sebaliknya menancapkan suatu harapan kuat di balik kesulitan terdapat kemudahan, dan berprinsip segala urusan diselesaikan sunguh-sungguh (QS:94:5-8).

Bermodal keyakinan mempercayai rahmat Allah meliputi segala sesuatu yang ditetapkan untuk orang bertakwa (QS.7:156), melambungkan semangat perjuangan. Walau sesulit apapun keadaannya, tetap gigih mengatasi masalah dengan keyakinan selama berkomitmen mengusung agama Allah dan mengikuti sunnatullah (hukum alam ciptaan-Nya), pasti ditolong Allah, dan diteguhkan kedudukannya.. (QS.47:7).

Selalu bertekad ikhlas mencari ridha-Nya dan serius bekerja mengatasi masalah kehidupan, Insya Allah dipantaskan memperoleh hidayah-Nya untuk menemukan berbagai jalan solusi. Sesungguhnya Allah beserta orang yang berbuat baik. (QS.29:69).

Untuk memperlancar proses internalisasi nilai karakter, diperlukan aktivitas penyadaran umat. Aktivitas tersebut harus dimulai dari pembenahan akar pemahaman penggunaan istilah karakter, setelah itu ke tahap aktualisasi penghayatan dan pengabdiannya.

Selama ini istilah karakter dari Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), yang berarti:‘sifat-sifat kejiwaan, akhlak atau budi pekerti yang membedakan seseorang dari yang lain; tabiat; watak’. Sebenarnya antara pengertian karakter dengan akhlak dalam ajaran Islam tidaklah serupa, terdapat perbedaan pada sisi etimologis, konotasi terminologis, dan denotasinya.

Dari segi etimologis makna akhlak Islamiyah berbeda dasarnya dengan karakter, yaitu: 1.Konsep jati diri manusia dalam Islam, terdiri dari : raga, jiwa, ruh dan fitrah. Konsep ruh dan fitrah berwujud dimensi alam gaib yang diyakini wujudnya dengan keimanan teguh. Konsep tersebut tidak terkandung dalam pengertian istilah karakter.

Menurut Al-Quran dan Hadis aspek ruh bersifat subjektif-objektif-transendental (Bastamam : hal. 53-55), mengindikasikan pengewajantahan hubungan manusia-alam-Tuhan, dan menempatkan aspek pengembangannya terkait erat dengan dimensi Tuhan. Karena itu melatih pengembangan potensi ruhani (ruh dan fitrah) melalui ibadah, akan menemukan jalan tepat untuk menempa nilai akhlaqul karimah. Sebagai contohnya, mendirikan ibadah salat dapat mencegah diri dari perbuatan keji dan mungkar . (QS.29:45)

2. Tingkah laku berakhlak mulia bertaut erat dengan keimanan: Kaum Mukminin yang paling sempurna imannya adalah yang paling baik akhlaknya, paling lapang dadanya, paling mudah bersahabat dan disahabati. Tidak ada kebaikan pada orang yang tidak bersahabat dan tidak disahabati (HR Ath-Thabrani).

3. Menerapkan akhlak mulia merupakan ibadah meraih derajat hamba yang selalu shalat malam, banyak berpuasa, dan banyak membaca ayat-ayat Allah (HR.Ahmad.)

4. Tolok ukur nilai pada istilah karakter adalah ciptaan manusia. Sementara ukuran akhlak mulia berasal dari Al-Quran dan keteladanan dari Rasulullah SAW. Mengamalkannya adalah ibadah bernilai sacral, untuk mewujudkan Maqasidus-Syari’ah, yang rahmatan lil alamin

Secara terminologis, definisinya, telah dikemukakan para ulama besar seperti Al-Gazali, Ibnu Taymiyah, As-Sa’diy, dan lainnya. Pendapat mereka dapat dipertautkan dalam satu benang merah, berikut:

“Akhlak mulia terangkum dalam bentuk ketundukan, dan ketakwaan kepada Allah, kapan, dan dimanapun kita berada sehingga menimbulkan rasa malu sekaligus takut kepada-Nya, bersikap santun, lemah lembut terhadap sesama mahkluk hingga terpancar rasa saling menghormati, menjaga martabat kehormatan diri dan hak-hak sesama dengan mengindahkan nilai-nilai dinul Islam yang luhur, agar dapat melahirkan pribadi Muslim terhormat lagi mulia” (Ihsan & al-Atsari:h. 11).

Definisi di atas menunjukkan konotasi akhlak Islami memiliki dua aspek tendensi khusus, yaitu ketuhanan, dan kemanusiaan. Pada aspek ketuhanan, akhlak Islami diamalkan memenuhi perintah dan mencari ridha-Nya. Ada keketentuan wajib diikuti dalam hubungan dengan Allah dan dengan sesama makhluk-Nya dalam praktik kehidupan sehari-hari.

Untuk itu Allah menurunkan Al-Quran dan mengutus Rasulullah SAW untuk menuntun manusia mengaplikasikan manhaj Allah dalam kehidupan.Yaitu menerapkan akhlak Islami sebagai ibadah dengan menghimpun kekuatan jasmani dan rohani, pikiran dan perasaan, diamalkan secara lahir dan batin, berlandaskan kehendak ikhlas mencari ridha-Nya.:

Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan keta’atan kepada-Nya dalam menjalankan agama yang lurus (QS. 98:5). Karena itu dikatakan akhlak itu ruh dinul Islam. Sungguh, akhlak manusia yang terbaik ialah yang paling baik agamanyaIslam itu ialah berakhlak baik (HR. Ahmad.). Hal tersebut diperkuat Ibnu Katsir ketika menafsirkan ayat QS.68:4.

Pada tataran denotasi, luas lingkup kebaikan dari pengertian karakter luhur hanya sebatas kualitas hidup. Sedangkan dalam akhlak Islami diyakini mencakup kualitas hidup di dunia dan akhirat. Rasul bersabda: “Sesuatu yang paling banyak memasukkan manusia ke dalam surga adalah takwa kepada Allah dan akhlak yang mulia” (HR.at-Tirmizi dan Ibnu Majah).

Jadi secara etimologis, dan terminologis, pengertian akhlak Islami jelas berbeda dengan karakter. Karena itu, alangkah bijaknya jika keduanya digabungkan menjadi istilah “karakter akhlak mulia”, dan diwacanakan luas, terutama pada wacana pendidikan karakter umat Islam. Hal ini perlu dilakukan menghindari penyempitan makna karakter yang seolah pendidikan karakter tidak ada hubungan sama sekali dengan keimanan, ibadah, dan ketakwaan.

Pendidikan karakter tanpa digandengkan dengan akhlak mulia yang bernuansa ibadah, tidak memiliki landasan yang kokoh. Mudah goyah tergoda hasrat memiliki dan menguasai. Rentan tercemar pengaruh budaya materialisme yang serakah, sehingga tegar merampas hak orang  tanpa memiliki kepekaan nurani melihat akibat perilakunya.

Tapi jika digandengkan dengan kata akhlak mulia, maka pendidikan karakter berubah menjadi praktek pendidikan yang bernuannsa ibadah sakral untuk memperkuat keimanan dan ketakwaan sebagaimana yang diamanahkan dalam pasal 3 UU Sisdiknas. Bila sudah demikian, seluruh gerak-gerik tingkahlaku lahir batin kesehariannya, senantiasa disesuaikan prinsip ketaatan kepada Allah.

Meyakini segala usahanya dalam mencari nafkah berada di bawah pengawasan Allah yang Mahamengetahui, sehingga tidak terbetik hatinya melakukan perbuatan haram dan maksiat, karena takut mendapat sanksi Allah di dunia dan Akhirat. Malah ia akan bekerja sungguh-sungguh, dan menjadikannya sebagai ibadah yang menghasilkan ketakwaan, dan memperkuat karakter akhlak mulia, yang melambungkan posisinya menjadi Muhsinin yang seakan melihat-Nya.

Bila tidak melihat-Nya minimal memiliki kesadaran di hatinya yang selalu dilihat Allah (HR.Bukhari). Semoga Allah SWT mempermudah jalan bagi orang yang rajin beribadah, yang selalu memohon petunjuk menuju shirathal mustaqim. Orang-orang yang mendapat petunjuk, Allah menambah petunjuk bagi mereka, dan memberikan kepada mereka (balasan) ketakwaan (QS.Muhammad/47: 17). Wallahu A’lam.    WASPADA

Ketua Pusat Islam UMA 2011-2019, Dosen Fak. Psikologi UMA.

 

Berita Terkait

Memuat....
UA-144743578-2