Waspada
Waspada » IDUL FITHRI, Mudik hakiki
Al-bayan Medan Opini

IDUL FITHRI, Mudik hakiki

 

Idul fitri berarti kembali kepada kefitrahan manusia, sebagai yang suci tanpa dosa, sebagaimanan digambarkan hadits yang sangat populer. Kata Nabi: “setiap orang dilahirkan dalam keadaan fitrah, maka kedua orangtuanyalah yang membuatnya penganut Yahudi, Nasrani, dan Majusi” (H.R. Bukhari-Muslim).

Kefithrahan di sini memiliki banyak arti. Fitrah dalam keyakinan keesaan Tuhan, yaitu kembalinya manusia kepada keyakinan monoteis, bahwa Tuhan bersifat esa, tidak dua atau banyak. Fitrah juga berarti jiwa, yaitu teraktualnya jiwa yang tidak dipengaruhi dosa, karena jiwa suci (nafsul muthmainnah) hadir dan mendominasi diri seseorang.

Saat ini manusia suah siap menghadap Tuhannya, sebagaimana digambarkan surat al-Fajar/89: 27 yang artinya:
“Wahai jiwa yang tenang, kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang ria dan diridha-Nya. Maka masuklah ke dalam golongan haba-hamba-Ku dan masuklah ke dalam surga-Ku”.
Kemudian fitrah juga berarti relasi sosial, yaitu kembali anak manusia kepada relasi sosial sebagai karakter inheren manusia, sehingga tidak ada lagi dosa antar sesama anak manusia, dan untuk itu dilakukan saling memaafkan.

Itulah sebabnya Islam menganjurkan saling memaafkan sejak di awal Ramadhan sampai menjelang shalat idul fithri. Terhadap perintah saling memaafkan ini terdapat sejumlah ayat al-Qur’an maupun hadits Nabi. Misalnya surat al-A’raf/7: 199 mengatakan: “Jadilah pemaaf dan suruhlah orang mengerjakan yang akruf, serta jangan pedulikan orang-orang yang bodoh”.

Fitrah dalam arti ini menjadi sangat penting karena hubungan sosial yang intens selama setahun sudah barangtentu dihadapkan pada berbagai intrik, seriing dengan perbedaan kepentingan dan tuntutan. Di sini relevan ucapan selamat idul fitri yang tertulis dalam kartu lebaran, yaitu “minal ‘aidi wal-faizi”, semoga termasuk orang yang kembali kepada kefithrahan dan yang beruntung.

Idul fitri juga berarti semakin meningkatkanb kuantitas dan kualitas pengabdian, sesuai ungkapan Arab: “idul fithri bukanlah karena baju baru, tetapi ketika terjaid peningkatan amal ibadah” (laysal ‘idu liman labsuhu jadid, walakin liman tha’atuhu yazid).
Kemudian fitri juga berati hadirnya semangat baru merenda masa depan yang lebih baik dibanding hari ini dan kemaren. Jika kehidupan hanya ditentukan oleh tiga hari, yaitu hari kemaren, hari ini, dan hari esok, maka fithri berarti semangat baru untuk kehidupan hari esok yang lebih baik. Dengan demikian idul fithri berarti kembali kepada ketauhidan yang suci, kembali kepada jiwa yang suci, kembali kepada relasi sosial yang lancar tanpa beban sosial yang mengganjal dalam hati, peningkatan kualitas dan kuantitas ketaatan, dan kembali kepada semangat baru merenda masa depan yang baik dan lebih baik.
Raihan itu bisa dicapai jika semua ruitinitas Ramadhan diperankan, di siang hari berpuasa, di malam hari qiyamul lail, kemudian memperbanyak membaca al-Qur’an dan bersedekah, dan ibadah sunnah lainnya. Setelah 30 hari rutinitas itu dilewati maka masuklah idul fithri yang disimbolkan dengan pakaian serba baru, seiring dengan kebaruan empat unsur di atas.
Semoga kita termasuk yang idul fithri tersebut. Amin (30 Ramadhan 1442 H/12 Mei 2021 M).
-=o0o=-

Berita Terkait

Memuat....
UA-144743578-2