Ibadurrahman Dalam Alquran
Prof Muzakkir

  • Bagikan

Empat perkara, siapa yang diberi empat perkara ini, maka dia telah diberi kebaikan Dunia dan Akhirat, yaitu: hati yang bersyukur (qolban syakiron), lisan yang berzikir (lisanan zakiron), badan yang sabar menghadapi bala’ (badanan alal bala’i sobiron), dan isteri yang tidak menimbulkan kesukaran dalam dirinya dan hartanya (zaujatan la tubghihi huban fi nafsiha wa malihi) (HR.ath-Thabrani)

Ibadurrahman adalah hamba-hamba Allah SWT yang mendapat kemuliaan dan menjadi manusia pilihan, Allah SWT menjadikan mereka sebagai teladan untuk diikuti dan contoh yang ditiru.

Dalam kehidupan ini adalah mudah memberi contoh, tetapi sesungguhnya adalah sangat sulit untuk menjadi contoh. Inilah petunjuk al-Quran yang disebutkan di dalam surat al-Furqan ayat 63 hingga akhir surat ayat 77 untuk mencapai Ibadurrahman.

Sifat-sifat Ibadurrahman itu pertama, tawadhu’ (rendah hati). Tidak sombong, lemah lembut, mau menerima kebenaran dan tidak memandang rendah orang lain, tetapi tetap menunjukkan kekuatan dan kewibawaan.

Kedua, murah hati. Menjaga hati dari amarah, menjaga lisan, menjaga waktu dan umur yang tidak disia-siakan, melindungi lembaran-lembaran kebaikan yang sudah ada dan mengisi dengan kebaikan-kebaikan yang lain, menghindari keburukan atau sesuatu yang tidak mendatangkan manfaat bagi mereka.

Ketiga, mendirikan shalat malam. “Sebaik-baik shalat setelah shalat wajib adalah shalat di tengah malam” (HR.Muslim). “Saat yang paling baik dan paling dekat antara Rabb dengan hamba-NYA adalah pada tengah malam yang akhir. Jika engkau sanggup termasuk orang yang mengingat Allah pada saat itu, maka lakukanlah” (HR. at-Tirmizi).

Di dunia ini mereka sedikit sekali tidur diwaktu malam, dan selalu memohonkan ampunan di waktu pagi sebelum fajar (QS. az-Zariyat: 17-18).

Keempat, takut akan Neraka. Nabi SAW pernah berdoa, “Dan aku memohon Surga kepada-Mu dan apa-apa yang mendekatkan kepadanya, berupa perkataan atau perbuatan, dan aku berlindung kepada-Mu dari Neraka dan apa-apa yang mendekatkan kepadanya, berupa perkataan atau perbuatan” (HR.Ibnu Majah).

“Siapa yang memohon Surga kepada Allah 3x, maka Surga berkata, ” Ya Allah masukkanlah ia ke Surga, dan siapa yang berlindung dari neraka 3x, maka neraka berkata,”Ya Allah, lindungilah ia dari Neraka” (HR.an-Nasa’iy}.

Dan Katakanlah: “Kebenaran itu datangnya dari Tuhanmu; Maka barangsiapa yang ingin (beriman) hendaklah ia beriman, dan barangsiapa yang ingin (kafir) Biarlah ia kafir”. Sesungguhnya Kami telah sediakan bagi orang orang zalim itu Neraka, yang gejolaknya mengepung mereka, dan jika mereka meminta minum, niscaya mereka akan diberi minum dengan air seperti besi yang mendidih yang menghanguskan muka. Itulah minuman yang paling buruk dan tempat istirahat yang paling jelek” (QS.al-Kahfi: 29).

Sesungguhnya pohon zaqqum itu (jenis pohon yang tumbuh di Neraka), Makanan orang yang banyak berdosa. (Ia) sebagai kotoran minyak yang mendidih di dalam perut, Seperti mendidihnya air yang amat panas. Peganglah dia Kemudian seretlah dia ke tengah-tengah Neraka” (QS ad-Dukhan: 43-47).

Kelima, sederhana dalam membelanjakan harta. Tidak berlebih-lebihan dan tidak pula kikir jika membelanjakan hartanya atau harta yang dipercayakan kepadanya. Mereka mengambil jalan tengah dalam segala hal.

Suatu hari NabiSAW berjalan melewati Sa’ad yang sedang berwudhu’. Maka Beliau mengingatkan Sa’ad, “Janganlah engkau berlebih-lebihan dalam menggunakan air!” Sa’ad berkata, “Apakah ada istilah berlebih-lebihan dalam menggunakan air?” Beliau menjawab, “Benar, meskipun engkau berada di sungai yang mengalir.”

“Ada seorang lelaki mendatangi Nabi SAW yang keadaannya tidak menarik perhatian Beliau. Nabi bertanya,”Apakah engkau mempunyai harta?”, “Ya, jawab lelaki itu.”Macam apa hartamu itu?’ tanya Nabi, “Semua macam harta kumiliki, “jawabnya. Artinya dia memiliki onta, sapi, domba, tanaman dan buah-buahan. Nabi bersabda, “Sesungguhnya Allah suka melihat pengaruh nikmat-Nya atas diri, artinya menunjukkan nikmat Allah itu” (HR.at-Tirmizy).

Keenam, menjaga ketauhidan (keimanan). Mengesakan Allah SWT dalam ibadah, tidak memohon dan tidak berdoa kepada selain Allah. Ada dua Macam Tauhid, Tauhid Rububiyah dan Tauhid Uluhiyah.

Tauhid Rububiyah adalah jika kita yakin tidak ada Tuhan selain Allah, tidak ada pemberi rezeki melainkan Allah. Dialah yang menciptakan langit, bumi serta menguasainya, bahkan mengatur pertukaran siang dan malam.

Adapun Tauhid Uluhiyah adalah jika kita tidak menyembah, tidak memohon pertolongan, tidak berdoa, tidak takut dan tidak berharap kecuali hanya kepada Allah SWT semata.

Ketujuh, menjauhi tindak pembunuhan dan menghormati kehidupan.Dan barangsiapa yang membunuh seorang mukmin dengan sengaja Maka balasannya ialah Jahannam, kekal ia di dalamnya dan Allah murka kepadanya, dan mengutukinya serta menyediakan azab yang besar baginya” (QS.an-Nisa’:93).

“Oleh Karena itu kami tetapkan (suatu hukum) bagi Bani Israil, bahwa: barangsiapa yang membunuh seorang manusia, bukan Karena orang itu (membunuh) orang lain, atau bukan Karena membuat kerusakan dimuka bumi, Maka seakan-akan dia Telah membunuh manusia seluruhnya. dan barangsiapa yang memelihara kehidupan seorang manusia, Maka seolah-olah dia Telah memelihara kehidupan manusia semuanya. dan Sesungguhnya Telah datang kepada mereka rasul-rasul kami dengan (membawa) keterangan-keterangan yang jelas, Kemudian banyak diantara mereka sesudah itu sungguh-sungguh melampaui batas dalam berbuat kerusakan dimuka bumi” (QS.al-Maidah: 32).

Kedelapan, menjauhi zina. Di antara sifat Ibadurrahman ialah mereka tidak melakukan perzinahan, dan tidak pula melakukan dosa besar yang diharamkan Allah SWT. “Dan janganlah kamu mendekati zina; Sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji. dan suatu jalan yang buruk” (QS.al-Isra’:32).

Nabi SAW bersabda, “Jika muncul zina dan riba secara terang-terangan di suatu negeri, berarti mereka telah menghalalkan siksa Allah bagi diri mereka. “(HR.al-Hakim). Wahai saudaraku sesama Muslim! Jagalah kemaluanmu, tahanlah pandangan matamu, janganlah ikuti langkah-langkah syetan yang berupa jin dan manusia. Nabi SAW bersabda:

Siapa yang menjamin bagiku apa yang ada di antara kedua janggutnya (lisan dan mulut), dan apa yg ada di antara kedua kakinya (kemaluan), maka aku menjamin Surga baginya” (HR.al-Bukhari).

Kesembilan, taubatan nashuha. Taubat yaitu kembali kepada fitrah atau kesucian diri, kembali ke jalan yang benar. Nashuha artinya terlepas dari kepura-puraan, kepalsuan dan kedustaan.

Syarat taubat ada tiga; pertama, penyesalan yang dalam, diiringi rasa sedih karena telah berbuat dosa, kedua, Hasrat yang kuat untuk tidak mengulangi lagi dosanya, dan ketiga, Memutuskan secara langsung dengan dosa yang pernah dilakukannya.

“Dan Sesungguhnya Aku Mahapengampun bagi orang yang bertaubat, beriman, beramal saleh, Kemudian tetap di jalan yang benar” (QS.Thaha: 82).

Kesepuluh, tidak bersumpah palsu dan meninggalkan perbuatan yang tidak bermanfaat. Nabi SAW bersabda, “Kesaksian palsu disetarakan dengan syirik kepada Allah” (HR.Ahmad).

“Hai orang-orang yang beriman hendaklah kamu jadi orang-orang yang selalu menegakkan (kebenaran) Karena Allah, menjadi saksi dengan adil. dan janganlah sekali-kali kebencianmu terhadap sesuatu kaum, mendorong kamu untuk berlaku tidak adil. berlaku adillah, Karena adil itu lebih dekat kepada takwa. dan bertakwalah kepada Allah, Sesungguhnya Allah Maha mengetahui apa yang kamu kerjakan” (QS.al-Maidah: 8).

Kesebelas, menyelami dan mendalami  ayat-ayat Allah SWT.  Nabi SAW bersabda,”Bacalah al-Quran, karena ia akan datang pada hari kiamat sebagai pemberi syafaat bagi orang-orang yang membacanya” (HR.Muslim).

Dan apakah tidak cukup bagi mereka bahwasanya kami Telah menurunkan kepadamu Al Kitab (Al Quran) sedang dia dibacakan kepada mereka? Sesungguhnya dalam (Al Quran) itu terdapat rahmat yang besar dan pelajaran bagi orang-orang yang beriman” (QS.al-Ankabut: 51).

Keduabelas, memohon kebaikan bagi isteri dan keluarga.Nabi SAW bersabda: “Tidaklah seorang Mukmin mendapatkan sesuatu yang lebih baik setelah takwa kepada Allah selain isteri yang shalihah. Jika dia menyuruhnya, maka isterinya itu mematuhinya, jika ia memandangnya maka isterinya itu membuatnya senang, jika ia memberi bagian kepadanya, maka isterinya itu berbuat baik kepadanya, jika ia meninggalkannya, maka isterinya itu menjaga dirinya dan harta suaminya”(HR.Ibnu Majah).

Dan perintahkanlah kepada keluargamu mendirikan shalat dan Bersabarlah kamu dalam mengerjakannya. kami tidak meminta rezki kepadamu, kamilah yang memberi rezeki kepadamu. dan akibat (yang baik) itu adalah bagi orang yang bertakwa” (QS. Thaha: 132).

Semoga dengan iman, ilmu dan amal sholih yang kita miliki dapat menghantarkan kita menjadi Ibadurrahman-manusia pilihan di Dunia ini dan di Akhirat nantinya. WASPADA

Guru Besar Fakultas Ushuluddin Dan Studi Islam UIN Sumatera Utara

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *