Hikmah Puasa Syawal

  • Bagikan

Oleh Alexander Zulkarnaen

Barang siapa berpuasa enam hari setelah hari raya Idul Fitri, maka dia seperti berpuasa setahun penuh. Barang siapa berbuat satu kebaikan, maka baginya sepuluh kebaikan semisal” (HR. Ibnu Majah)

Di antara warisan Ramadhan adalah melestarikan amalan puasa. Syawal sebagai bulan yang disunnahkan puasa enam hari di dalamnya bagian dari melanjutkan tradisi amalan puasa yang dimaksud. Tentu saja puasa sunnah Syawal ini memiliki hikmah yang membuat para wisuda madrasah Ramadhan tidak akan melewatkannya.

Pertama, puasa Syawal bernilai puasa setahun. Rasulullah SAW memberikan kabar gembira ini melalui sabdanya dari Shahabat Abu Ayyub Al Anshari, “Barang siapa yang berpuasa Ramadhan kemudian berpuasa enam hari di bulan Syawal, maka dia berpuasa seperti setahun penuh” (HR. Muslim).

Bayangkan, hanya dengan puasa enam hari lantas nilainya menjadi puasa setahun. Secara matematis ternyata hitungan ini bisa dibuktikan. Dalam kitab Syarah Riyadhushsholihin dijelaskan, orang yang melakukan satu kebaikan akan mendapatkan sepuluh kebaikan yang semisal.

Puasa Ramadhan selama sebulan berarti akan semisal dengan puasa 10 bulan. Puasa Syawal enam hari akan semisal dengan 60 hari, sama dengan 2 bulan. Karenanya, seorang yang berpuasa Ramadhan kemudian berpuasa pula enam hari di bulan Syawal akan mendapatkan puasa seperti setahun penuh sebagaimana hadis Nabi SAW riwayat Tsauban di awal tulisan ini.

Kedua, Puasa Syawal layaknya puasa rawatib yang menyempurnakan puasa Ramadan. Puasa Syakban dan puasa Syawal menjadi pausa rawatib (mengiringi puasa Fardhu) yang dilakukan sebelum dan sesudah puasa Ramadhan.

Sebagaimana shalat rawatib dapat menyempurnakan kekurangan-kekurangan yang ada pada shalat fardhu, begitu pula dengan puasa yang mengiringi puasa wajib. Rasulullah SAW bersabda, “Sesungguhnya dalam ibadah puasa, kebanyakan manusia memiliki kekurangan dalam beberapa segi. Amalan-amalan sunnah pun diperlukan demi menyempurnakan kekurangan tersebut.”

Dalam riwayat Imam Tirmidzi juga disebutkan hadis Nabi, “Allah Ta’ala berfirman, ‘Periksalah, apakah hamba-Ku memiliki amalan sunnah yang dapat menyempurnakan kekurangan ibadah wajibnya?’ Kemudian yang demikian berlaku pada seluruh amal wajibnya”

Ketiga, puasa Syawal sebagai indikasi diterimanya puasa Ramadan. Melanjutkan puasa sunnah bulan Syawal pertanda bahwa puasa Ramadhan seseorang telah diterima Allah SWT. Karena jika Allah menerima amal seorang hamba maka Dia akan memberikan taufik kepada hamba tersebut untuk melakukan amal saleh yang lain setelahnya.

Ibnu Rajab berkata, “Balasan dari amalan kebaikan adalah amalan kebaikan selanjutnya. Barangsiapa melaksanakan kebaikan lalu dia melanjutkan dengan kebaikan lainnya, maka itu adalah tanda diterimanya amalan yang pertama. Begitu pula barangsiapa yang melaksanakan kebaikan lalu malah dilanjutkan dengan amalan kejelekan, maka ini adalah tanda tertolaknya atau tidak diterimanya amalan kebaikan yang telah dilakukan.”

Keempat, puasa Syawal merupakan bentuk kesyukuran. Salah satu nikmat yang patut disyukuri adalah nikmat ampunan dosa di bulan Ramadan. Ibnu Rajab mengatakan, ”Tidak ada nikmat yang lebih besar dari pengampunan dosa yang Allah anugerahkan.” Karenanya, di hari Idul fitri kita dianjurkan untuk memperbanyak zikir dengan mengagungkan Allah melalu bacaan takbir.

Allah Ta’ala berfirman, “Dan hendaklah kamu mencukupkan bilangannya dan hendaklah kamu bertakwa pada Allah atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu, supaya kamu bersyukur” (QS. Al Baqarah: 185).

Kelima, puasa Syawal sebagai bentuk melanggengkan ibadah. Dengan berakhirnya Ramadhan bukan berarti berhenti beramal. Spirit Ramadhan mesti tetap terjaga bahkan harus ditingkatkan. Apalagi Syawal secara etimologi berarti Irtifa’, yakni bulan peningkatan.

Jangan sampai kita termasuk kategori generasi Ramadani, yakni orang yang hanya taat di bulan Ramadhan namun kumat kebiasaan maksiat begitu keluar dari bulan suci ini. Sebaliknya, generasi Rabbani yang kita harapkan, yakni orang yang senantiasa beramal saleh sepanjang hayatnya.

Karena kita yakin, Allah yang kita sembah dan taati selama bulan Ramadhan adalah Tuhan yang sama yang kita sembah dan taati pada bulan-bulan sesudah Ramadhan. Rasulullah SAW yang sunnahnya begitu semangat kita mengikutinya di bulan Ramadhan adalah teladan kita juga di bulan-bulan lain.

Al Quran yang kita baca dengan khusyuk dan rutin hingga ada yang mengkhatamkan sampai beberapa kali selama Ramadan, sesungguhnya juga adalah Al Quran yang sama yang akan kita baca dan amalkan di luar Ramadhan.

Akhirnya, seluruh amal ibadah kita selama bulan Ramadhan semoga Allah menerimanya dan kita semua dipertemukan kembali pada Ramadhan berikutnya. Amin.(Guru PAI SMAN 2 Medan

Ketua Deputi Humas Ikadi Sumut, Wakil Ketua Majelis Dakwah PW Al Washliyah Sumut)

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *