Waspada
Waspada » Hasrat Menjadi Qarun
Al-bayan Headlines

Hasrat Menjadi Qarun

Oleh Abdul Hakim Siregar

Maka keluarlah Qarun kepada kaumnya dalam kemegahannya. Berkatalah orang-orang yang menghendaki kehidupan dunia: “Sekiranya kita mempunyai seperti apa yang telah diberikan kepada Qarun; sesungguhnya ia benar-benar mempunyai keberuntungan yang besar” (QS. Al-Qashas: 79).

Kisah Qarun kisah nyata. Dari abad ke abad tetap saja ada orang berharap seperti Qarun. Pada semua zaman tampil saja Qarun kehidupan yang pusat perhatiannya harta karun. Ibarat serial kemanusiaan, drama dan film kehidupan. Para Qarun mengabdikan diri demi harta karun. Apabila pikiran, perasaan, perkataan, perbuatan, dan tindakan tertuju hanya pada harta, uang, mobil, belanja, dan simbol kemewahan hidup lainnya!

Konon, Qarun awalnya miskin dan taat ibadah. Bosan dengan kemiskinan, Qarun berharap doa mujarab dari Nabi Musa as agar kaya. Sekaligus dengan upaya maksimal Qarun mengumpul harta dan kunci kekayaannya semakin raya. Seiring, Qarun kian kufur nikmat, bakhil, takabur terhadap orang miskin serta berlaku aniaya. Alhasil, Qarun dan hartanya musnah ditelan bumi. Hatta, kisah ini jugalah inspirasi melegenda pencarian harta karun.

Qarun merasa seluruh hartanya merupakan hasil upaya (miliknya) dan ilmunya sendiri tanpa keterlibatan doa Nabi Musa as. Bahkan “Tuhan” pun tidak turut campur? Alquran menjelaskan dalam Al-Qashas ayat 78: Qarun berkata: “Sesungguhnya aku hanya diberi harta itu, karena ilmu yang ada padaku…

Kekayaan harta yang berlebihan, merasa terkaya dapat membuat banyak orang kaya bakhil (kikir), takabur, angkuh, dan arogan. Sebaliknya, kemiskinan bisa mendorong sebagian orang pada rasa keputusasaan yang abadi hingga merasa tak berdaya dan menjadi dalih beralih “profesi” pengemis atau tukang kriminal?

Ada jeda ketika kejayaan tampak terkuat bahkan sampai dikira kekal. Padahal, semua makhluk dan semesta bersifat sementara. Siapapun yang memfokuskan abdinya pada pencarian dan pengumpulan harta karun. Tentu saja, mungkin ia mendapatinya hingga kaya raya. Namun, orang kaya dan terkaya setiap waktu dan masa selalu ada pada zamannya.

Sambungan arti ayat Al-Qashas: 78 di atas, “Dan apakah ia tidak mengetahui, bahwasanya Allah sungguh telah membinasakan umat-umat sebelumnya yang lebih kuat daripadanya, dan lebih banyak mengumpulkan harta?”

Ya. Beberapa orang terkuat dan terkaya pada masa jayanya. Namun kini miskin dan telah tiada. Orang yang terkaya dan terkuat kini kelak juga hanya masa lalu. Serupa halnya orang terfakir dan terlemah selalu muncul setiap masa. Semuanya kelak berlalu. Seperti teori geografis dan sosiologis Ibn Khaldun dalam muqadimah tentang daur sejarah:

Generasi pertama pencari–pekerja yang gigih, generasi kedua menikmati, dan generasi ketiga menghancurkan. Sederhananya, ayah pencari harta, anak penikmat harta, dan cucu penghancur harta?

Jika demikian bagaimana dengan hasrat menjadi Qarunian? Kemegahan Qarun kita harapkan, tetapi kehancuran Qarun mengerikan juga. Apakah yang kita jalani dan tuju bernilai pahala di sisi Tuhan? Ataukah hanya perjuangan hidup sebatas fatamorgana hasrat harta Karun kehidupan?

Berkatalah orang-orang yang dianugerahi ilmu: “Kecelakaan yang besarlah bagimu, pahala Allah adalah lebih baik bagi orang yang beriman dan beramal saleh, dan tidak diperoleh pahala itu kecuali oleh orang yang sabar.” (QS. Al-Qashas: 80).

Bagi orang berilmu dengan ketawadukan, pencapaian harta dan pencarian harta Qarun bukanlah fokus penyembahan. Harta hanyalah sarana kehidupan. Paling utama kualitas iman, amal shaleh, sabar, dan kualitas sifat baik lainnya menjadi harapan terbesar dalam hidup ini.

Semoga saja kita berharap memperoleh ilmu yang bermanfaat, iman yang bermanfaat, amal shaleh yang bermanfaat, dan harta yang bermanfaat untuk diri sendiri, orang lain, umat manusia, lingkungan, serta semesta.

Sedangkan hasrat dan nafsu tipologi Qarun yang berlebihan berujung pada kehancuran tanpa nilai pahala di dalamnya. Banyak orang masih terperangkap dalam pencarian harta karun ekstremis dengan menggali tanah daratan (tambang), menyelami lautan, dan menerbang udara–demi memenuhi hajat pribadinya yang jahat.

Hasrat Qaruniyah atau Karunisme merupakan ancaman kemanusiaan yang muncul setiap masa? Karena itu, jika ada yang mencita semisal Qarun, kita lebih butuh ilmu, iman, amal shaleh, sabar, syukur, ikhlas, takwa, tawaduk, dan kualitas sifat baik lainnya.

“Maka Kami benamkanlah Qarun beserta rumahnya ke dalam bumi. Maka tidak ada baginya suatu golongan pun yang menolongnya terhadap azab Allah. dan tiadalah ia termasuk orang-orang (yang dapat) membela (dirinya).” Dan jadilah orang-orang yang kemarin mencita-citakan kedudukan Qarun itu. berkata: “Aduhai. benarlah Allah melapangkan rezeki bagi siapa yang Dia kehendaki dari hamba-hamba-Nya dan menyempitkannya; kalau Allah tidak melimpahkan karunia-Nya atas kita benar-benar Dia telah membenamkan kita (pula). Aduhai benarlah, tidak beruntung orang-orang yang mengingkari (nikmat Allah).” (QS. Al-Qashas: 81-82). Waspada

Guru MAN IC Tapsel

Berita Terkait

Memuat....
UA-144743578-2