Guru Dan Kemuliaannya Oleh Tgk Helmi Abu Bakar el-Langkawi

  • Bagikan

“Tidak termasuk golongan kami orang yang tidak menghormati yang lebih tua dan menyayangi yang lebih muda serta tidak mengerti hak ulama” (HR. Ahmad)

Imam Ghazali menyebutkan beberapa syarat menjadi guru. Yaitu kasih sayang dan lemah lembut, tidak mengharap upah, pujian, ucapan terima kasih atas balas jasa, jujur dan terpercaya bagi muridnya, membimbing dengan kasih sayang, tidak dengan kemarahan, luhur budi dan toleransi, tidak merendahkan ilmu lain di luar spesialisasinya, memperhatikan perbedaan individu.

Sebagai seorang penuntut ilmu juga harus menjaga adab dan sopan santun dalam kehidupan sehari-hari baik terhadap guru maupun ahli ilmu. Demikian pentingnya kedudukan adab, sehingga Ibnu Al-Mubarak juga mengatakan:

“Barangsiapa meremehkan adab, niscaya dihukum dengan tidak memiliki hal hal sunnah. Barang siapa meremehkan sunnah sunnah, niscaya dihukum dengan tidak memiliki (tidak mengerjakan) hal hal yang wajib. Dan barang siapa meremehkan hal hal yang wajib, niscaya dihukum dengan tidak memiliki makrifah.”

Imam Al-Munawi dalam Kitab Faidh Al-Qadr menyebutkan, tawadhu seorang murid kepada guru merupakan cerminan ketinggian dan kemuliaan murid tersebut. Sikap tunduknya murid kepada guru justru merupakan ketinggian (izzah) kehormatan kepadanya.

Dewasa ini jarang kita temui, sikap yang diteladani para ulama dan sahabat terdahulu, bisa jadi keberkahan ilmu kian berkurang dikalangan penuntut ilmu di era 4.0. Salah satunya Ibnu Abbas, seorang sahabat yang sangat akrab dan dekat dengan Baginda Rasulullah SAW mempersilahkan Zaid bin Tsabit untuk menaiki di atas kendaraannya, sedangkan ia sendiri yang menuntutnya.

Seorang penuntut ilmu berkewajiban ta’dzim pada teungku (ulama) atau guru bukan sekedar formalitas. Penghormatan ini harus tumbuh dari dalam sanubari. Jangan sampai lahir kelihatan hormat, akan tetapi batinnya melaknat. Penghormatan itu harus berangkat dari hati yang bersih agar berbuah kasih dari Allah SWT.

Sejarah mencatat kisah Sayyidina Ali Bin Abi Thalib dalam hal penghormatan pada guru. Beliau satu-satunya sahabat Nabi Muhammad SAW yang dijuluki babul ilmi (pintu ilmu pengetahuan) Beliau SAW.

Nabi SAW dalam satu kesempatan pernah bersabda seperti disebutkan dalam kitab al-‘Ushfuriyyah tentang Sayyidina Ali: “Saya adalah kota ilmu dan Ali sebagai pintunya”. Hadis ini menunjukkan betapa tingginya ilmu Sayyidina Ali sehingga Rasulullah SAW menjulukinya sebagai pintu ilmu pengetahuan.

Tentunya kecerdikan dan keluasaan ilmu yang dimiliki Sayyidina Ali tidak semerta-merta menjadikannya congkak. Justru ketinggian ilmu yang dimiliki semakin menunjukkan kerendahan hati Beliau.

Ibarat padi, semakin tambah berisi ia makin tambah merunduk. Ini terbukti dari salah satu atsar-nya tentang penghormatan pada guru. Beliau berkata: “Aku adalah hamba/abdi dari siapapun yang mengajariku walaupun hanya satu huruf. Aku pasrah padanya. Entah aku mau dijual, dimerdekakan atau tetap sebagai seorang hamba.(Guru Dayah MUDI Mesjid Raya Samalanga dan Dosen IAIA Samalanga serta Ketua Ansor Pijay serta Kandidat doktor UIN Ar-Raniry Banda Aceh)

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *