Waspada
Waspada » Gagal Haji, Apakah Akan Kiamat?
Al-bayan Headlines

Gagal Haji, Apakah Akan Kiamat?

Oleh H. Muhammad Nasir, Lc, MA

Tidak akan terjadi Kiamat sampai tidak ada seorangpun yang menyebut asma Allah (HR. Muslim). Tidak terjadi Kiamat terkecuali kondisi manusia sudah sangat buruk (HR.Abu Daud)

Kegagalan berangkat haji bagi jamaah Indonesia khususnya dan bagi mayoritas umat Islam dunia umumnya, akibat pada pandemi Covid-19 yang belum berakhir. Tahun ini merupakan tahun yang kedua. Namun jika dibandingkan tahun yang lalu kuota haji haji tahun ini lebih ditingkatkan, info yang beredar mencapai 60.000 orang dari 6 juta orang pada masa normal.

Ada sebagian ahli agama dan para ustadz dan muballighin yang menghubungkan kegagalan keberangkatan jamaah haji pada masa pandemi ini dengan tanda semakin dekatnya hari Kiamat. Ini bukan sebuah ramalan akan tetapi dikutip dari hadis Nabi Muhammad SAW yang mengatakan; tidak akan terjadi kiamat sampai baitullah tidak dikunjungi orang untuk mengerjakan haji.

Tidak tanggung-tanggung, hadis ini diriwayatkan oleh Imam Bukhari dalam kitab yang diyakini oleh kaum Muslimin sebagai kitab yang paling sahih setelah Alquran. Secara sederhana dapat difahami bahwa jika Ka’bah tidak dikunjungi lagi samasekali oleh umat Islam untuk melaksanakan ibadah haji maka saatnya lah dunia sudah berhak dikiamatkan.

Tetapi hadis di atas tidak menjelaskan sebab-sebab apa Ka’bah tidak dikunjungi lagi oleh umat Islam, tidak menjelaskan karena terjadi peperangan, kelaparan, atau karena pandemi Covid-19. Jadi terlalu cepat mengambil kesimpulan jika pandemi ini dihubungkan dengan maksud hadis sahih di atas.

Bila ditelusuri hadis lain yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dalam kaitannya dengan ditutupnya Ka’bah sehingga tidak adalagi orang yang berhaji penyebabnya adalah akibat perilaku mereka yang buruk secara masif. Dan Ka’bah diratakan dengan tanah, mereka copoti batu-batunya satu persatu.

Rasulullah SAW bersabda: Ka’bah akan diratakan oleh orang-orang berbetis kecil dari Habasyah, seakan-akan aku melihat seorang berkulit hitam dan berkaki bengkok satu persatu batu batu Ka’bah (HR, Bukhari).

Keterangan hadis di atas dipertegas oleh Ibnu Hajar. Ka’bah memang akan dihancurkan oleh orang-orang berbetis kecil dari Habasyah. Namun mereka mendapat perlawanan dari seorang laki laki dari suku Qahthan, sehingga mereka hancur binasa dan sebelum peristiwa ini orang-orang beriman masih tetap mengerjakan ibadah haji.

Bahkan sampai keluar Ya’juj dan Ma’juj pun umat Islam masih tetap melaksanakan ibadah haji selagi masih ada orang orang beriman. Rasul SAW bersabda: Sungguh kalian akan tetap mengerjakan haji dan umrah serta keluar Ya’juj dan Ma’juj.

Jadi, kesimpulan sementara dengan datangnya musibah Covid-19 dan musibah lainya dan membuat Ka’bah tidak dikunjungi orang lagi belum tentu dunia ini akan dikiamatkan Allah SWT. Fakta sejarah menunjukkan ada beberapa kali Ka’bah ditutup untuk orang yang melaksanakan haji dan umrah.

Yang populer kisah Nabi Muhammad SAW bersama ribuan jamaah umrah untuk melaksanakan tawaf dan sa’i di Baitullah. Rasulullah SAW tertahan dan di Hudaibiyah karena Ka’bah masih dalam wilayah kekuasaan orang orang kafir, dan berhala berbaris depan Ka’bah.

Akhirnya setelah mengadakan perundingan dengan orang kafir, maka Rasulullah SAW mengalah dan mengurungkan niatnya untuk berumrah pada tahun itu yakni pada tahun ke 6 hijriyah. Barulah pada tahun berikutnya Rasullullah SAW menunaikan ibadah umrah. Umrah tersebut dikenal dengan umrah Qodha.

Pelaksanaan haji pada masa Rasulullah SAW dan pada masa Khulafaurrasyidin memang berjalan dengan lancar. Hanya pada masa kekhilafahan Ali ra pelaksanaan haji terkendala disebabkan oleh peristiwa perang Siffin.

Penutupan Ka’bah pernah terjadi pada tahun 693 M Ketika Hajjaj bin Yusuf Assaqofi menyerang Ka’bah bertujuan untuk memporakporandakan kekuasaan Abdullah bin Zubir yang berkedudukan di Makkah pada masa Dinasti Umayyah. Dan Ka’bah rusak parah dilempar dengan menjanik (sejenis ketapel raksasa).

Jadi, banyak peristiwa yang terjadi pada Ka’bah yang menyebabkan tertundanya pelaksanaan ibadah haji secara total. Bila dibandingkan dengan peristiwa Covid-19 tahun kedua ini, pelaksanaan haji tidak ditutup sama sekali. Tetapi pelaksanaan ibadah haji tetap terlaksana namun kuotanya berkurang drastis.

Lalu apa kaitannya dengan hadis sahih di atas di mana hari Kiamat tidak akan terjadi sebelum Ka’bah tidak kunjungi lagi untuk melaksanakan ibadah haji dan umrah? Hadis di atas kualitasnya sahih, cara memaknainya yang perlu disandingkan dengan hadis yang mengatakan bahwa Ka’bah akan diratakan dengan tanah barulah orang orang Islam tidak dapat mengerjakan haji dan umrah.

Kapan peristiwa itu terjadi? Peristiwa itu tejadi apabila tidak ada lagi orang yang menyebut kalimat Allah SWT. Rasulullah SAW bersabda: Tidak akan terjadi Kiamat sampai tidak ada seorangpun yang menyebut asma Allah (HR. Muslim). Dan Sabda Nabi Muhammad SAW: Tidak terjadi Kiamat terkecuali kondisi manusia sudah sangat buruk (HR.Abu Daud). Wallahu ‘alamubishshawab.     WASPADA

Wakil Ketua Dewan Fatwa Al Washliyah

Berita Terkait

Memuat....
UA-144743578-2