Waspada
Waspada » FILOSOFI ‘SETAN DIIKAT’
Al-bayan Opini

FILOSOFI ‘SETAN DIIKAT’

Oleh : H. Hasan Bakti Nasution

 

Salah satu keutamaan Ramadhan ialah selama bulan ini setan-setan diikat (waghulliqat asy-syayathin), sebagaimana dijelaskan dalam hadits yang artinya: “Pada malam pertama bulan Ramadhan setan-setan dan pembesar-pembesar jin dibelenggu, pintu-pintu neraka ditutup dan tidak ada satupun pintunya yang terbuka, sementara pintu-pintu surga dibuka dan tidak ada satupun pintunya yang ditutup, lalu seorang penyeru berseru, ‘hai pencari kebaikan, datanglah dan hai pencari keburukan berhentilah’.

Allah mempunyai orang-orang yang terbebas dari neraka, dan itu terjadi pada setiap malam” (H.R. Tirmizi hadits no 682 dan Hakim I/582).
Pertanyaan yang sering muncul ialah “jika syetan sudah diikat, mengapa masih banyak godaan, bahkan intensitas godaannya semakin banyak selama Ramadhan ?”.

Misalnya, malas shalat Taraweh, malas membaca al-Qur’an, dan lain-lain. Atau tetap marah-marah atau emosi seperti sebelum Ramadhan. Secara obyektif faktual memang pertanyaan ini ada benarnya, terbukti dengan belum semuanya orang yang puasa tarawehnya lengkap.
Pertanyaan ini bisa direspon dengan tiga kemungkinan.

Pertama, syetannya dalam arti syetan memang sudah diikat, namun masih ada syetan dalam bentuk manusia (syaithanul insi), sebagaimana digambarkan al-Qur’an surat al-An’am/6: 112, yang artinya: “Dan demikianlah untuk setiap Nabi Kami menjadikan musuh yang terdiri dari setan-satan manusia dan jin, sebagian mereka membisikkan kepada sebagian yang lain perkataan yang indah sebagai tipuan. Dan kalau Tuhanmu menghendaki, niscaya mereka tidak akan melakukannya, maka biarkanlah mereka bersama (kebohongan) yang mereka ada-adakan”.

Apa motivasi manusia menggoda kita, mungkin ia agar memiliki teman. Misalnya, karena ia tidak puasa ia ingin memiliki teman,lalu mengguda kita agar tidak berpuasa. Atau ia malas shalat Taraweh, biar ia ada teman, iapun menggoda kita agar tidak shalat taraweh. Dan sebagainya.
Kedua, godaan itu tidak berkaitan dengan syetan tetapi dengan individu manusia yang sedang berpuasa.

Misalnya, mengapa orang masih marah-marah saat puasa, sebetulnya bukan karena didorong oleh syetan agar marah-marah, karena ia sudah diikat. Seorang marah-marah atau mudah tersulut marah karena memang ia mengindap penyakit darah tinggi atau DT. Jadi alami saja.
Jika adanya godaan dikaitkan dengan sifat malas dan suka tidur-tidur, ini juga sebagai akibat dari puasa. Misalnya, orang yang lapar cenderung bermalas-malasan.

Kemudian, sesuai penelitian penelitian Bastari A, dkk berjudul “The Effects of Fasting During Ramadhan on the Concentration of Sorotonine, Dopamine, Brain-Derived Neurotrophic Factor and Nerve Growt Factor”, menyimpulkan Ramadhan dapat meningkatkan sorotonine, yaitu senyawa yang mengatur suasana hati jadi senang dan meningkatkan selera makan dan tidur. Jadi suka tidur karena senyawa sorotonine yang menguat, bukan karena godaan syetan.

Ketiga, godaan tidak melakukan kebaikan dalam bentuk malas bisa saja sebagai akibat dari rasa capek karena berkurangnya energi dalam tubuh. Efek langsung dari capek dan kurangnya energi ialah tidur, karena setelah tidur seorang akan merasa agak segar dibanding sebelum tidur. Selain puasa, tidur juga mampu menghasilkan senyawa sorotinine yang membuat rasa lega, seperti perasaan orang yang baru bangun tidur.

Dengan demikian, adanya godaan bukan lagi dari syetan-syetan penggoda, tetapi penggoda dari kalangan manusia, atau dalam diri sendiri seperti bawaan emosional, menguatnya sorotinine dan rasa capek yang menimpa orang yang berpuasa. Dengan berbagai penafsiran ini, hadits Nabi tentang syetan diikat menjadi tetap relevan. Wanderfull, sungguh luar biasa !

(23 Ramadhan 1442 H/5 Mei 2021 M).
-=o0o=-

Berita Terkait

Memuat....
UA-144743578-2