Waspada
Waspada » FILOSOFI RAMADHAN, Menangkap Makna Simbolik
Al-bayan Opini

FILOSOFI RAMADHAN, Menangkap Makna Simbolik

Oleh : H. Hasan Bakti Nasution

 

Di antara kelebihan al-Qur’an ialah karakternya yang membuka diri sehingga terjadi multi tafsir, karena ayatnya ada yang memiliki makna yang jelas (muhkamat) dan ada yang memiliki makna samar (mutasyabihat),

Sebagaimana digambarkan al-Qur’an surat Ali Imran/3: 7, yang artinya: “Dialah yang menurunkan al-Qur’an kepadamu Muhammad. Di antaranya ada ayat-ayat yang muhkamat, itulah pokok-popok al-Qur’an dan yang lain mutasyabihat”.

Konsep mutasabihat dalam arti “banyak makna” ini dipertegas hadits Nabi yang mengatakan: “al-Qur’an memiliki banyak dimensi” (al-Qur’anu wujuhun).

Sebab itu, menagkap makna al-Qur’an yang komprehensif juga harus dilakukan dengan banyak pendekatan (multi disipliner), terutama di dalam menangkap makna-makna simbolik. Makna-makna simbolik itu tampil dalam upaya memahami Ramadhan, yang saat ini umat Islam di dalamnya.

1. Bulan membakar. Jika hanya diberi makna kata, yaitu membakar karena selama Ramadhan cuaca selalu panas seolah membakar tentulah kurang relevan dengan beberapa daerah yang justru sebaliknya. Di Indonesia misalnya tidak selamanya pada bulan Ramadhan cuaca panas, apalagi di daerah dingin.

Untuk itu harus diberi makna simbolik, yaitu membakar dosa-dosa dengan beroleh keampunan dari Allah SWT sebagaimana digambarkan banyak ayat al-Qur’an dan hadits Nabi.
2. Syetan diikat. Sebagaimana disebut di atas (copas ke 23), jika syetan diikat seharusnya tidak ada lagi godaan, maka harus diberi makna simbolik, yaitu godaan tidak lagi dari syetan dalam bentuk syetan tetapi sudah syetan dalam bentuk manusia (syaithanul insi) seperti kata al-Qur’an.

Jika ada sikap malas, bukan lagi karena syetan tetapi sebagai efek puasa yang dalam keadaan energi yang tidal full, ditambah menguatkan dophaminin senyawa yang membuat ngantuk. Jika masih marah-marah, memang sebelum puasapun sudah marah-marah, mau bilang apa. Jadi jangan salahkan syetan.

3. Pintu surga dibuka, artinya terdapat sejumlah kesempatan memasuki syurga dengan tawaran amalan dan pahala amalan yang dilipatgandakan selama Ramadhan, baik secara kualitas maupun kuantitas.

Jika semua amalan diaktualkan dalam keseharian Ramadhan, syurga adalah suatu yang pasti, baik secara syari’at maupun secara akal, tetapi bukan hakekat, karena hakekatnya terserah kepada kehendak Allah SWT. Sebab itu yang dituntut ialah keridhaan-Nya.

4. Pintu neraka ditutup, karena sangat kecil kemungkinan orang masuk neraka sebab arus amalan kebaikan yang begitu deras sehingga tinggal mengarahkan arus besar saja, akan memasukkan seseorang ke dalam syurga.

Arus dimaksud ialah tawaran pahala Ramadhan yang dilipatgandakan selama Ramadhan. Masalahnya ialah, apakah tawaran itu diamalkan atau tidak !. Jika diamalkan, pintu surga baginya menjadi tertutup.

5. Turunnya Lailatul qadar jika dimaknakan secara fisik tentulah sulit terjadi, paling tidak belum ada yang melihat,yang katanya pepohonan sujud, air membeku padahal di daerah panas, dan ciri khas datangnya lailatu qadar.

Sebab itu, harus diberi makna simbolik, bahwa lailatul qadar adalah malam batasan, di mana semua orang bisa memberi batasan masa lalu dan measa depan, masa lalu yang masih ada cela, sejak malam ini dibatasi menjadi serba kebaikan. Jadi, manusialah yang membuat lailatul qadar bagi dirinya.

Beberapa ungkapan di atas adalah sebagai upaya menangkap makna ajaran Islam, khususnya terkait Ramadhan, sehingga tidak hanya asyik sekedar kata demi kata.

Ya Allah, keampunan-Mu ditadahkan, jika terlalu lancang dalam memberi makna simbolik ini.Tiada maksud selain berupaya dan berupaya menangkap pesan-Mu yang suci. (28 Ramadhan 1442 H/10 Mei 2021 M).

-=o0o=-

Berita Terkait

Memuat....
UA-144743578-2